ANATOMI IDEOLOGI MARXISME

SKETSA DASAR ANATOMI IDEOLOGI MARXISME
“Kensengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.”
(Karl Marx)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Menurut sejarahnya Marxisme memiliki dua dimensi : pertama, sebagai teori ilmiah , kedua sebagai proyek politik revolusioner , namun dalam kenyataanya kedua dimensi ini amatlah sulit untuk dipisahkan, dan pemahaman Marxisme sebagai sebuah istilah, rasanya tidak asing lagi saat ini, dan mungkin sebagian dari kita sudah mengenal ide-ide dasar yang digagas oleh para nabi Marxisme, Karl Marx 1 dan Frederick Engels 2, yang kemudian diteruskan oleh Stalin dan Lenin sehingga ide ini menyentuh ranah politik dan ekonomi lebih luas 3. Dari para “jaguar” tersebut, menghasilkan bentuk dan asesoris yang berubah-ubah pada penampilan Marxisme. Hal ini terjadi karena proses penyesuaian dengan sosio kultur yang ada pada saat itu. Oleh karenanya, Marxisme juga dikenal dengan istilah Marxisme Engelianisme, Marxisme Leninisme, Marxisme Stalinisme namun, dari semua itu tetap menampilkan satu wajah dasar asli, dengan asesoris yang berbeda Pondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar 4: Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kedua, politik ekonomi. Pembahasan yang paling urgen dalam masalah ini yaitu pandangan meterialisme dalam teori nilai laba atau keutungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masarakat, bahkan yang menyentuh dimensi agama dan. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pendangan revolusi.
Hampir semua teori hasil kreasi manusia mempunyai landasan pengaruh historis, baik dari para pendahulunya ataupun generasi sesudahnya yang, kurang lebih merupakan implementasi estaveta dari satu bentuk ke bentuk lain dan, terkadang pengulangan total. Ide-ide pemikiran, filsafat dan bahkan ilmu sainstis pun merupakan mata rantai yang berkesinambungan dari waktu ke waktu 5. Oleh kerena itu, melalui makalah ini akan dibahas bagaimanakah sebenarnya sketsa dasar dari ideologi Marxisme ini sehingga mampu berpengaruh di kancah dunia.
Rumusan Masalah
Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini permasalahannya dibatasi pada :
Siapakah penggagas awal ideologi Marxisme pada abad-18 ?
Apa hubungannya dengan teori dasar materialis Karl Marx pada abad-18 ?
Adakah pengaruh teori-teori social lainnya dalam ideology Marxisme dan bagaimanakah hal itu bisa terjadi ?
Apa penyebab utama munculnya gerakan Marxisme dan bagaimana pengaruhnya terhadap stabilitas agama ?
Bagaimana bentuk Marxisme yang sesungguhnya dari berbagai macam model yang dipraktekkan oleh para aktor di pentas Marxis ?
Bagaimanakah perkembangan ideology Marxisme di pentas dunia ?

Tujuan Penulisan
Pada dasarnya tujuan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Ideologi. Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah :
Mengetahui siapakah penggagas awal ideologi Marxisme pada abad-18 ?
Mengetahui apa hubungannya dengan teori dasar materialis Karl Marx pada abad-18 ?
Mengetahui adakah pengaruh teori-teori social lainnya dalam ideology Marxisme dan bagaimanakah hal itu bisa terjadi ?
Mengetahui apa penyebab utama munculnya gerakan Marxisme dan bagaimana pengaruhnya terhadap stabilitas agama ?
Mengetahui bagaimana bentuk Marxisme yang sesungguhnya dari berbagai macam model yang dipraktekkan oleh para aktor di pentas Marxis ?
Mengetahui bagaimanakah perkembangan ideology Marxisme di pentas dunia?

BAB II
PEMBAHASAN
Munculnya Marxisme
Ideology Marxisme muncul dari kreativitas pemikir Karl Marx dan Frederick Engels, yang sangat setia menjembatani teori materialis Marxis dengan saintis. Dari perspektif falsafi, pijakan pemikiran marxisme berdiri di atas materialis ateistik, ketidak percayaan akan adanya tuhan, kontradiksi dengan yang diyakini oleh agamawan, teori aliran idealisme obyektif maupun idealisme subyektif dan bahkan bertentangan juga dengan mazdhab mastaniyyah 6.
Dalam pandangan Marxis, materi adalah tuhan itu sendiri, tiada yang mempunyai kekuatan dalam penciptaan kecuali materi. Marxisme adalah Materialisme. Maksudnya, Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan materilah yang membentuk akal, bukan sebaliknya. Kesemuanya itu sangat terpengaruh oleh ideologi Hegel 7 dan juga Feurbach 8. Dari adopsi keduanya mengasilkan produk marxisme komunis yang berdiri di atas teori pokok materialis dialektik yang menyatakan bahwa, materi lebih dulu ada dari akal supranatural. Hanya materilah yang merupakan esensi awal pencipta dari segenap wujud, kemudian berevolusi menggunakan teori hukum dialektika internal menuju kehidupan nabati, berevolusi lagi menuju kehidupan hewani, kemudian insani dan, pada akhirnya menciptakan karya terbesar yang mampu membedakan manusia dengan wujud lain, terciptalah logika. Bermula dari materi dan berhenti pada titik ahir logika untuk saat ini 9.
Kembali ke akar permasalahan bahwa Karl Marx bukan mendatangkan teori filsafat murni baru, akan tetapi merupakan estaveta mata rantai dari teori Hegel dan Feurbach 10. Bahkan kalau kita membuka lembaran sejarah, akan kita temukan bahwasannya teori yang menyatakan materi adalah pencipta, telah ada pada jaman filsafat yunani kuno yang menyatakan bahwa unsur dasar materi penciptaan adalah air, tanah, api dan udara 11.
Bukan hanya dari falsafat pendahulu teori Marxis muncul, lebih dari itu bahkan dalam sudut pandang materialis, penafsiran akan sejarah peradaban manusia merupakan danpak dari ekonomi material dan menghasilkan sengketa konflik dua realita sosial, masarakat borjuis dan proletarian. Pada umumnya Marxisme muncul mengambil bentuk dari tiga akar pokok, Salah satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Perancis, khususnya revolusi borjuis di Perancis tahun 1790-an, dan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya diawal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut catatan sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’. Dari analisa Marx menyatakan bahwa “Bukan kesadaran sosial yang menentukan kenyataan sosial, melainkan kenyataan sosial yang menentukan kesadaran.” Senada dengan yang dikatakan Angels “Pikiran tidak menciptakan materi, namun materilah yang menciptakan pikiran.” Makanya untuk mengerti dan mendefinisikan sebuah filfasat, teori ataupun ideologi, menurut Marxis perlu menganalisis “kenyataan sosial” yang merupakan dasar filsafat tersebut. Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealism 12 dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan). Jelasnya Marxis terlahir sebagai wujud pembelaan pada kaum buruh yang tertindas kapitaslis.
Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dan lain-lain. Atau dengan kata lain Marxisme terlahir dari perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, dan juga mewujudkan opsesi kemenangan gerakan sosialis. Maka Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek. Hal itu adalah dasar pijakan muncul gerakan ini, namun benarkah teori awal tujuan gerakan Marxisme sesuai dengan realita dan cita Marx sesungguahnya? Bagaimana sejarah mencatan adakah kesesuaian antara cita ideologi dengan usaha realita? Sialahkan anda yang menjawab itu semua.
Materi Dalam Tinjauan Marxisme
Membahas Marxisme tidak luput dari pembahasan materi, karena ideologi Marxisme itu sendiri berdiri di atas teori Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kesemuanya itu dapat terangkum dari beberapa poin penting; Pertama: materi lebih dulu ada dari pada ruh spiritual atau logika. Materi yang menciptakan pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran (misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya bahkan agama), hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’, yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material 13, hal ini jelas kontaradiksi dengan aliran idealism 14. Kedua: tatasurya bukan merupakan kreasi cipta tuhan. Maka tiada kata tuhan pencipta alam dalam kamus materialis. Ketiga: alam semesta tidak memerlukan kekuatan keluar dari kebiasaan alam dan kekuatan yang mengaturnya di luar alam itu sendiri, dengan begitu, alam materi mengatur dirinya sendiri melalui proses revolusi tanpa henti, proses ini tertuang dengan hukum-hukum alam saintis empiris. Dan proses evolusi ini juga terjadi pada tatanan sosial masyarakat.
Lantas adakah perbedaan antara Materialisme Marxisme dengan teori Materialis klasik “hylozois” (dari bahasa Yunani, yang berarti “mereka yang percaya bahwa materi itu hidup) ? Pernyataan penting yang diajukan oleh para Marxisme bahwa, Materialisme Marxis barbeda jauh dengan bentuk Materialisme klasik. Marx dan Engels sendiri memberikan catatan kesalahan pada ideologi material klasik. Pertama: teori Materialisme klasik tidak berlandaskan kebenaran ilmu kimia dan biologi. Kedua: teori revolusi klasik tidak manembus dimensi hidup secara total, namun hanya mencakup dalam proses revolusi materi belaka. Ketiga: paham Materialisme klasik tidak memahami manusia sebagai kumpulan dari hasil hubungan sosial, akan tetapi memahaminya sebatas pemahaman yang abstrak, dan tidak obyektif 15.
Dialektika Materialis
Para Materialisme Marxis berupaya keras untuk menemukan dalil logika, guna memperkuat pemahaman yang menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada dalam keadaan bergerak dan perubahan yang konstan. Dan bentuk logika itu, tentu saja adalah dialektika 16. Dalam istilah Marx, dialektika diartikan sebagai ilmu hukum pergerakan, baik di alam realitas empiris, ataupun dalam ide pikiran manusiawi. Bisa diartikan dialektika secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan. Kandungan dari hukum dialektika itu sendiri tersusun dari tiga hal, secara singkat adalah:
Pertama: hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa
Kedua: hukum penafsiran mengenai yang berlawanan (interpenetration of opposites)
Ketiga: hukum negasi dari negasi
Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dengan gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama (dalam bagian pertama karyanya Logic) dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being), kedua (mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic) Doktrin mengenai Hakekat (Essence), dan akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang-bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya teori Hegel menurut Marxis terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum itu disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, mengembalikan kesemuanya pada pikiran, simpelnya, Hegel berpandangan mengembalikan realitas pada pikiran, dan pikiranlah yang menciptakan realitas. Itu terjadi karena Hegel adalah seorang idealis 17. Beda halnya dalam pandangan Marxis bahwasannya gerak logika merupakan duplikat alam riil, bukan sebaliknya sebagai mana pendapat Hegel 18. Oleh karenanya seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme, yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat idealis (feer dengan kapitalis). Kemudian Angels meletakkan teori-teori Marx dalam bingkai ilmu pengetahian sains.
Hukum transformasi dari kuantitas menuju kualitas dan vice versa.
Sebelum memasuki penjelasan hukum di atas, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu bahwa perubahan dalam marxis terbagi dalam dua bentuk, pertama: perubahan irtiqoi, yaitu perubahan yang terjadi dikarenakan adanya penambahan atau pengurangan kapasitas-kuantitas secara gradual pada sesuatu. Kedua: perubahan stauri, yaitu peralihan dari perubahan kuantitas secara gradual menuju perubahan kualitas dari sesuatu, atau dengan kata lain revolusi bentuk ke bentuk lain yang baru, yang lebih sempurna. Dari penjelasan pembagian tersebut bisa memberikan gambaran pada kita bahwa yang dimaksudkan perubahan bentuk oleh Marxis adalah transformasi dari kuantitas menuju kualitas dan kebalikannya. Dua model perubahan tersebut merupakan proses penting berkaitan dengan teori evolusi materi, sosial, bahkan pemikiran ide.
Hukum ini menyatakan bahwa proses-proses perubahan gerak di alam semesta tidaklah perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode perubahan yang sangat cepat perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas. Penjelasan rinci yang dimaksudkan dalam teori revolusi kuantitas menjadi kualitas adalah bahwa dalam materi dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi).
Masing-masing materi yang kapasitas kualitatifnya berbeda, berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau hampir pada kedua-duanya (kualitatif dan kualitatif). Oleh karena itu tidak memunginkan mengadakan perubahan kualitas suatu materi kecuali menambah/ mengurangi materi atau gerak, yaitu tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif 19. Agak rumit memang memahami teori ini tanpa diiring contoh yang jelas. Sebagai contoh temperatur suhu air, pertama-tama sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya, betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair (hanya perubahan kuantitatif), akan tetapi ada suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es 20(perubahan ke kualititatif).
Bukan hanya saintis dialektika digunakan, namun Marxisme menggunakan teori logika ini lebih luas lagi, perkembangan species pun menggunakan teori ini di mata mereka, sampai-sampai teori ini menjadi motor dalam benak yang merubah kondisi masyarakat dari sistem yang terbelakang (kacau balau) menuju sistem sosialis, revolusionis. seperti peralihan dari sistem feodal menuju kapital, dan dari kapitalis menuju sosialis 21.
Hukum interpenetration of opposites
Teori hukum dialektika yang satu ini secara cukup sederhana bisa diartikan bahwasannya proses-proses perubahan revolusi terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi karena konflik-konflik yang terjadi di antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam materi maupun sosial. Mungkin perlunya dipaparkan tentang yang maksud kontradiktisi dalam pendangan Marxis terbagi menjadi tiga hal. Pertama: kontradiktif dalam satu hukum. Mustahil dua hal yang berlawanan sama-sama benar dan sama bohong dalam satu tempat dan waktu. Oleh karena itu hanya satu dari kontradiktisi itu yang dibenarkan, dan yang lain disalahkan (bohong). Saya ateis dan saya juga bukan ateis. Kedua: kontradiksi internal, kontradiksi terjadi antara satu komponen dengan komponen yang lain dalam satu perangkat kesatuan. Lenin mancontohkan dengan kutub selatan dan utara pada gaya hukum magnetic 22. Atau min-plus pada arus listrik. Ketiga: kontradiksi eksternal. Maksudnya perbedaan antara sesuatu dengan yang lain memiliki perbedaan hakekat. Seperti matahari dan tumbuhan 23. Dua bentuk kontradiksi di atas (internal dan ekternal) memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan teori revolusi. Tipe kedua dikatakan primer dan yang ketiga dikatakan sekunder.
Sebagai contoh dari hukum interpenetration of opposites adalah energi elektromagnetik, menjadi bergerak akibat dorongan positif dan negatif atas satu sama lain, eksistensi kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah (sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan satu sama lain (- dan +) yang ada dalam sistem. Hal yang serupa bahwa setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah. Metode dialektis hukum ke dua ini mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini dan dengan demikian berarti mempelajari serta menyingkap secara mendalam perubahan internal yang sedang terjadi. Beda halnya dengan hukum pertama 24 yang menyingkap tentang rahasia peralihan kualitatif pada sesuatu.
Hukum negasi dari negasi.
‘Negasi’ dalam hal ini secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/ eksis) baru, maka ia akan memaksa sistem lainnya yang lama untuk sirna (mati) digantikan oleh sistem yang baru tersebut. Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua (yang baru) ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahan dalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, negasi dari negasi. Bisa di katakan bahwa hukum negasi dari negasi dihasilhan sebagai solusi dari baberapa hal yang berlawanan dan bertentangan, urgensi pentingnya hukum ini adalah mampu menciptakan dan menafsirkan perubahan bentuk ke yang lebih baik, dan bentuk inipun tidak menutup kemungkina akan berubah.
Contoh studi kasus sosial ekonomi, adanya bentuk sistem kapitalis mengharuskan lenyapnya sistem buruh iduvidual dalam penguasaan pengaturan produksi. Berkuasanya kapitalis manghilangkan kepemilikan kaum buruh kecil. Kemudian datang sosialis memberangus pengusaan kapitalis dalam perindustrian dan mengembalikan pengaturan produksi pada kaum buruh dalam bentuk bersama, bukan kepemilikan secara perindividu. Hal itu tertera di dalam Manifesto Komunis, Marx menjelaskan bagaimana buruh harus membebaskan dirinya sendiri. Ia menulis, “langkah pertama dalam revolusi yang dilaksanakan oleh kelas buruh adalah dengan menaikkan posisi proletariat itu ke dalam posisi kelas yang memerintah, untuk memenangkan perjuangan demokrasi.” Bagi Marx, isu kuncinya adalah kekuasaan politik buruh. Para buruh harus menempatkan industri di tangan negara. Tapi negara ini adalah negara mereka (kelas buruh). Negara itu tidak lebih atau kurang daripada “proletariat yang mengorganisasi diri sebagai kelas yang memerintah”. Maka dari sinilah kapitalisme tergeser.
Tiga hukum dialektika ini telah memberikan pengaruh besar pada gerakan Marxisme dan kemudian menjelma dalam cakupan besar, skala negara, untuk dijadikan landasan dalam keputusan publik. Namun teori ini banyak mendapatkan kritikan sana-sini, bahkan diantara para ilmuan Marxis itu sendiri. Seperti teori dalektika Marxis yang menyatakan bahwa setiap sesuatu yang kontradiktif kompetitif senantiasa akan menghasilkan hal yang baru sebagai soslusi dari dua hal berlawanan tersebut, kita dapat dengan mudah menemukan hal yang kontradiktif tersebut, namun timbul pertanyaan yang membuat para Marxime menggelengkan kepala dan mengerutkan dahi untuk mencari jawaban dari pertanyaan, apa yang menyebabkan terjadinya konflik dari dua hal yang berlawanan tersebut? Apa yang mengharuskan Marxisme untuk menyatakan secara pasti bahwa produk dari dua hal yang kontradiksi tersebut adalah lebih baik? Kekuatan apa yang memberikan materi mati untuk berenergi? Kenyataannya para Marxis masih belum menemukan jawaban memuaskan untuk dirinya sendiri dan lawan teorinya. Dari Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet, dan benda-benda planet, memutuskan bahwa tenaga penggerak awal diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan. Masih banyak lagi kritik akan teori dialektika Marxis ini, baik dari tinjauan ilmu pengetahuan maupun teologi agama dan kenyataan sosial itu sendiri, yang saya kira tidak perlu pembahasan khusus diluar lembaran ini secara panjang lebar.
Historis Materialis
Yang di maksudkan oleh Marxisme di sini adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang sosial masyarakat secara menyeluruh sebagai impelementasi dari wujud pergerakan materi. Semua ilmu yang ada tidak bisa memberikan data informasi sosial secara total menyeluruh, karena ilmu yang ada hanya menjelaskan bagian-bagian kecil, sesuai dengan disiplin ilmu masing masing. Sosial masyarakat pun begitu komplek, bukan hanya berdiri di atas kepentingan sebagian. Oleh karena itu maka membutuhkan satu ilmu yang mempelajari akan hubungan antar sosial masyarakat, karateristiknya dan bahkan pergerakan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat tersebut. Ilmu ini tidak lain adalah historical materialism, lebih luas cakupannya dari pada ilmu seajrah. Sedangkan posisi dialektika adalah sebagai asas dalam historis materialis ini, untuk mencari dan memperbaiki tatanan masyarakat. Maka boleh dikatakan bahwa historis materialis adalah kaki tangan dari dialektika berkaitan dalam interaksinya dengan sosial, dengannya menganalisa kemudian menetapkan statemen, sebagaimana langkah Marx untuk para Proletariat harus berjuang melawan kaum kapitalis yang menghisap dan menindas kaum buruh. Satu-satunya cara untuk memenangkan perjuangan ini dan membebaskan diri adalah dengan mengalahkan kelas kapitalis di kancah politik serta merebut alat-alat produksi mereka. Itu hanya mungkin jika proletariat menciptakan aparatus negara yang baru 25.
Agama Produk Materi; Dalam Pandangan Marxisme
Sikap Marx terhadap agama:
“Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri.”
“Namun manusia bukanlah suatu makhluk yang berkedudukan di luar dunia. Manusia itu adalah dunia umat manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini menghasilkan agama, sebuah kesadaran-dunia yang terbalik, karena mereka sendiri merupakan sebuah dunia terbalik.”
“Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Maka perjuangan melawan agama menjadi perjuangan melawan sebuah dunia nyata yang aroma jiwanya adalah agama tersebut.”
Marx menutup teks ini dengan menghimbau supaya kaum filosof menghentikan kritik terhadap agama guna memperjuangkan perubahan sosial:
“Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata; kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.”

Ada beberapa hal yang bisa diambil dari apa yang telah ’ammu Marx sampaikan, bahwa kaum Sosialis (dalam pandangan Marxisme) bukan berperang malawan agama sebagai tugas utama, akan tetapi melawan bentun-bentuk sosial yang timpang, dan agama adalah perwujudan atau potret dari ketimpangan, penindasan sosial itu. Marxisme berjuang untuk pembebasan sosial, bukan kritik terhadap agama, karena itu adalah sia-sia bahkan negatif, karena kritik semacam itu hanya mempersulit penghiburan emosional yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Hilangnya penindasan, maka agama hilang dengan sendirinya.
Sentimen ini mengulangi isi semboyan revolusioner yang dimuat dalam Tesis IX Tentang Feuerbach (tulisan Marx): “Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya”.
Lenin Tentang Agama?
Tidak jauh berbeda antara Lenin dan Mark. Dalam Revolusi Rusia, Lenin dan Partai Bolsyevik menerapkan kebijakan untuk berlandaskan prinsip-prinsip Marx tersebut di atas. Maka dalam pemerintahan, kaum Bolsyevik tidak mengambil sikap anti-agama, melainkan kepercayaan pada Tuhan dianggap sebagai masalah hak pribadi. Menurut Lenin 26 pemerintahan Bolsyevik memang memusuhi lembaga-lembaga agamis yang konservatif, dan melawan hubungan resmi antara negara dan agama, tetapi sekali lagi untuk menjaga prinsip-prinsip demokrasi, seperti Marx, Lenin beranggapan bahwa agama merupakan “keluhan para makhluk tertindas”, sehingga “prasangka agama” tidak bisa dihilangkan tanpa menjungkirbalikkan tatanan sosial. Sebelum perubahan itu dapat tercapai, sikap anti-agama hanya menjadi sektarian, dan bisa memecahkan kelas pekerja:
“Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi … seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak untuk menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi.”
“Subsidi-subsidi tidak boleh diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak boleh memberikan tunjangan untuk asosiasi religius dan gerejawi. Ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, secara independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan terkutuk, ketika gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan.”
Eksistensi Marxisme di Pentas Dunia
Di ujung tahun 2008, dunia buncah dilanda krisis moneter kapitalis. Krisis terhebat dalam sejarah kapitalisme. Terkulailah panji kejayaan liberalisme yang mendominasi dunia di akhir abad ke-XX. Pandangan Samuel P. Huntington bahwa ideologi liberalisme demokratis sudah menang secara global dan karena itu berlaku secara universal ternyata berlawanan dengan kenyataan. Krisis kapitalisme adalah pertanda kebangkrutan liberalisme. Ini mengingatkan orang akan ajaran klasik Marx: krisis adalah anak kandung kapitalisme. Maka fikiran orang berpaling ke arah sosialisme. Marxisme jadi mencuat.
Marxisme bercita-citakan keadilan. Membebaskan umat manusia dari sistem penindasan. Membangun sistem sosial yang baru di dunia. Sistem penghisapan yang ingin dilenyapkan adalah kapitalisme dan feodalisme. Sistem baru yang ingin dibangun adalah sosialisme dan komunisme. Sungguh agung cita-cita ini. Menghapuskan sistem penindasan, berarti melenyapkan sang penindas. Tak ayal lagi, cita-cita agung ini berhadapan dengan musuh raksasa, yaitu kaum yang tak rela dilenyapkan. Maka semenjak lahirnya, musuh-musuh Marxisme sudah berbuat segala cara untuk menyelamatkan diri. Mati-matian berjuang melenyapkan Marxisme.
Bukan hanya teori dibantah dengan teori. Kekuatan militer pun dikerahkan untuk membendung Marxisme. Betapa pun dibendung, untuk pertama kali Marxisme dilaksanakan, dengan digulingkannya kekuasaan burjuasi Perancis. Berdirilah kekuasaan politik kelas pekerja. Inilah Komune Paris yang meletus tahun 1871. Burjuasi Perancis tersentak. Tak rela digulingkan, mengerahkan kekuatan bersenjata membasmi Komune. Lewat pembantaian berlumuran darah, dalam tempo beberapa hari Komune Paris digulingkan. Burjuasi Perancis kembali berkuasa. Tapi usaha mewujudkan cita-cita Marxisme tidaklah mandeg.
Menarik pelajaran dari kegagalan Komune Paris, tiga puluh delapan tahun kemudian, Oktober 1917, kelas pekerja Russia dibawah pimpinan Partai Buruh Sosial Demokrat Russia dan Lenin memenangkan revolusi, menggulingkan kekuasaan burjuasi Russia. Berdirilah negara diktatur proletariat pertama dalam sejarah dunia, yaitu negara Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis (URSS). Burjuasi sedunia bangkit berlawan, berusaha membasmi negara diktatur proletariat ini. “Persekutuan suci” burjuasi Amerika, Inggeris, Perancis, Jepang digalakkan dibawah pimpinan Amerika Serikat untuk mencekik URSS. Tak juga terbasmi, akhirnya tahun 1933, yaitu sesudah enam belas tahun kemenangan Revolusi Oktober, Amerika Serikat terpaksa mengakui URSS.
Usaha membasmi URSS dilanjutkan dengan bangkitnya fasisme Nazi. Bersekutu dengan fasis Itali dan Jepang, Nazi Jerman membangun Pakta Anti-Komintern. Tujuannya adalah melenyapkan URSS, melenyapkan komunisme dunia. Untuk itu melancarkan Perang Dunia kedua, mengagresi URSS dari Barat. Tapi URSS dibawah pimpinan Stalin mematahkan serangan militer Nazi. URSS bersekutu dengan Inggeris, Amerika, Perancis berhasil memenangkan Perang Dunia kedua. Kekuasaan fasis bertekuk lutut. URSS tidak terbasmi, malah tampil sebagai pemenang perang, dan kian berjaya. Bahkan bermunculan negara-negara sosialis baru di Eropa Tengah dan Timur, yaitu Albania, Yugoslavia, Republik Demokrasi Jerman, Rumania, Cekoslowakia, Bulgaria. Dan di Asia berdiri Republik Rakyat Tiongkok, Republik Rakyat Demokrasi Korea serta Republik Demokratis Vietnam .
Perang Dunia usai, Marxisme tidak terlenyapkan. Kemenangan revolusi Tiongkok dan berdirinya Republik Rakyat Demokrasi Korea mengibarkan tinggi panji Marxisme. Di banyak negeri jajahan, berkobar perang pembebasan untuk kemerdekaan yang diilhami oleh ajaran Marxisme. Burjuasi dunia dikepalai Amerika Serikat tidak berkenan akan perkembangan pengaruh Marxisme ini. Harry Truman mengobarkan Doktrin Truman, yaitu strategi “the policy of containment” – pembendungan komunisme dunia –. Maka berkobarlah PERANG DINGIN, usaha pembasmian komunisme/Marxisme sejagat.
Berkecamuklah kegiatan membendung Marxisme. Amerika Serikat membentuk CIA pusat intelijen yang jadi tiang penyangga Perang Dingin. Mendirikan berbagai lembaga riset yang bertugas menghadang perkembangan Marxisme di dunia. Mulai dari Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Foundation, RAND (Research And Development) Corporation, dan lain-lain. Membangun dan menggalakkan Radio Free Europe, Radio Svoboda yang disasarkan ke daerah URSS, dan Radio Free Asia yang bertugas berpropaganda anti sosialisme dan anti komunisme. Mengerahkan dan membiayai para sarjana berkarya dengan tema anti sosialisme dan anti komunisme. Maka Walt Rostow menerbitkan karyanya Stages of Economic Growth — A Non-Communist Manifesto – dengan maksud sebagai saingan bagi Manifes Partai Komunis Marx dan Engels. Allen Dulles Kepala CIA menulis The Craft of Intelligence memaparkan bahwa “Marxisme-Leninisme adalah ajaran yang menyesatkan”.
Jacobo Arbenz yang memenangkan pemilihan umum demokratis di Guatemala mengambil langkah melenyapkan kekuasaan kapital besar Amerika Serikat. Karena itu, Jacobo Arbenz dinilai penganut Marxisme. Tak ayal lagi, harus digulingkan dan digantikan oleh Castillo Armas, seorang perwira militer hasil didikan Amerika.
Di Asia Timur, Republik Rakyat Demokrasi Korea yang menjunjung Marxisme dinilai membahayakan “dunia bebas”, mengancam kemerdekaan Amerika Serikat. Maka harus dilenyapkan. Dengan mensalahgunakan panji PBB, Amerika mengobarkan Perang Korea. Senjata-senjata termodern, yang belum pernah dipakai dalam Perang Dunia kedua ditumpahkan Amerika dalam tiga tahun Perang Korea. Hampir sebanyak 2000 pesawat terbang Amerika hancur. Akhirnya, Amerika terpaksa menandatangani persetujuan penghentian tembak menembak. RRDK yang mengibarkan Marxisme tidaklah terbasmi.
Di Eropa, untuk mencegah meluasnya pengaruh URSS, Amerika melancarkan Plan Marshall, membentuk pakta militer NATO. Untuk tujuan yang sama, di Timur Tengah dibentuk CENTO (Pakta Baghdad). Di Asia dibentuk SEATO. Dan dikobarkan Perang Vietnam membasmi Republik Demokrasi Vietnam. Amerika mengerahkan seperempat juta pasukan. Di medan Perang Vietnam ditumpahkan peluru dan bom lebih banyak dari jumlah yang diledakkan dalam Perang Dunia kedua. Republik Demokrasi Vietnam tidak terbasmi. Amerika Serikat terpaksa menarik mundur pasukannya dari Vietnam . Dan Republik Sosialis Vietnam bertahan teguh menjalankan sistim sosialis, diktatur proletariat di bawah pimpinan Partai Komunis Vietnam .
Dalam perkembangan sejarah, pengaruh Marxisme juga melanda Indonesia. Dengan pemahaman dan sikap yang berbagai macam terhadap Marxisme, tidak ada tokoh pergerakan kemerdekaan nasional Indonesia yang tidak mendambakan sosialisme. Mulai dari Pak H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Darsono, Tan Malaka, Semaoen, Soetan Sjahrir, Musso, Alimin, Amir Sjarifoeddin, Bung Hatta sampai Roeslan Abdoelgani. Yang paling terkemuka adalah Bung Karno. Pada usia muda remaja, bertolak dari kenyataan masyarakat Indonesia, tahun 1926 Bung Karno tampil dengan gagasan agungnya tentang kerjasama dan persatuan penganut Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Gagasan ini kemudian menjadi NASAKOM, kerjasama kalangan penganut nasionalisme, agama dan komunisme.
Kemenangan revolusi Agustus dan naiknya Amir Sjarifoeddin menjadi Perdana Menteri Indonesia menunjukkan besarnya pengaruh Marxisme di Indonesia. Di mata burjuasi Amerika Serikat ini adalah membahayakan, merupakan ancaman yang tak boleh dibiarkan berkembang menang. Sesudah Doktrin Truman berhasil dilaksanakan di Yunani dan Itali, yaitu berhasil mencegah kaum komunis memegang kekuasaan negara, maka Doktrin Truman juga melanda Indonesia. Dengan “Peristiwa Madiun” 1948, kaum kiri disingkirkan dari kekuasaan negara, generasi pertama pimpinan utama PKI terbunuh. Tapi PKI yang mengibarkan panji Marxisme-Leninisme bangkit dan berkembang lagi di bawah pimpinan generasi kedua, dengan tokoh-tokoh D.N. Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sudisman. Dengan mendukung politik persatuan nasional Bung Karno, jika berlangsung pemilihan umum demokratis, di pertengahan tahun enampuluhan, PKI akan mencapai kemenangan. Amerika tidak berkenan akan kemenangan kaum Marxis ini. Maka pembasmian kaum Marxis, Sukarnois adalah suatu keharusan. Rekayasa pembasmian ini hanyalah salah satu bagian dari realisasi Doktrin Truman, the policy of containment – politik pembendungan komunisme sejagat – yang dikomandoi Amerika. Inilah Perang Dingin yang melanda dunia selama setengah abad seusai Perang Dunia kedua, dan juga melanda Indonesia .
Perang Dingin mencapai tujuannya dengan ambruknya URSS dan brantakannya negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur. Burjuasi dunia bergendang paha. Pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama tampil dengan karyanya The End of History And The Last Man, yang menyatakan bahwa liberalisme sudah mengungguli Marxisme. Samuel P. Huntington tampil dengan karya The Clash of Civilisations And The Remaking Of World Order, yang menganggap pertarungan ideologi sudah selesai dan meramalkan masa depan dunia penuh dengan bentrokan peradaban. Huntington berpendapat bahwa: “Kini Uni Sovyet yang Marxis-Leninis sudah tak lagi mengancam Dunia Bebas, dan Amerika Serikat tidak lagi merupakan ancaman bagi dunia komunis, ….. maka ancaman yang akan datang adalah dari masyarakat dengan perbedaan budaya”. (.Huntington 1997: 34-35) Diramalkannya bahwa yang akan dihadapi selanjutnya adalah “bentrokan-bentrokan peradaban”. Pandangan Huntington inilah yang membimbing politik luar negeri Amerika Serikat. Walaupun diuar-uarkan bahwa Perang Dingin sudah usai, dalam kenyataan, the policy of containment tidaklah berakhir. Marxisme masih tetap dianggap “menghantui dunia”.
Di dunia media massa , penerbitan yang kini didominasi oleh burjuasi, kian bersimaharajalela karya-karya tulis, buku-buku yang mempropagandakan bangkrutnya Marxisme dan berjayanya liberalisme. Marxisme didiskreditkan dengan sinisme, eklektisisme, dengan pemutar-balikkan sejarah. Bukan hanya terhadap Marxisme, juga tokoh-tokoh Marxis dalam sejarah pun didiskreditkan. Sebagaimana usaha menghitamkan Stalin, kini berlangsung usaha sistimatis mendiskreditkan Mao Zedong. Tiongkok yang dengan gemilang mentrapkan Marxisme juga harus didiskreditkan Mendiskreditkan Tiongkok adalah usaha untuk menegasi sukses pelaksanaan Marxisme dalam pembangunan sosialisme yang mengagumkan dunia. Inilah realisasi the policy of containment yang masih berlanjut. Arwah dan mentalitas penghasut Perang Dingin masih gentayangan.
Yung Chang dan Jon Halliday, yang anti komunis menulis Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui (Jung Chang dan John Halliday: 2007). Dalam buku setebal 959 halaman, edisi lux ini, Mao Zedong, dengan semena-mena dilukiskan sebagai manusia keji tak beradab, tiran, sosok tak berperi kemanusiaan. Buku Jung Chang ini tak sedikit diisi dengan kisah-kisah yang sulit dibuktikan kebenarannya. Banyak berdasarkan desas-desus, dugaan-dugaan, ada yang bilang, katanya, mungkin adalah, …. Sedikit saja pembaca berfikir kritis dan memahami agak mendalam sejarah Tiongkok modern dan sejarah dunia, maka dengan mudah menemukan kebohongan-kebohongan di dalam buku ini. Antara lain: Mao dan Stalin dinyatakan memicu Perang Korea (Jung Chang & Halliday 2007: 464-475). Sesungguhnya, Perang Korea adalah realisasi the policy of containment, salah satu puncak Perang Dingin yang dikobarkan Amerika Serikat dengan mensalahgunakan panji PBB. Mao Zhedong dinyatakan menyebarkan teror (Jung Chang & Halliday 2007: 306-326), pada hal pembunuhan dilakukan oleh Kuo Mintang atas Mao Zemin dan lain-lain. Mao Zedong dinyatakan mendalangi pembunuhan atas Liu Zhitan. Pada hal adalah Mao Zedong dan Zhou Enlai yang membebaskan Liu Zhitan dari penjara tahanan kaum oportunis “kiri” yang dipimpin Wang Ming. Dan Liu Zhitan diangkat menjadi panglima gabungan Tentara ke-XXVI dengan Song Renqiong sebagai komisaris politiknya. Dalam usia 33 tahun, Liu Zhitan gugur kena tembakan senapan mesin musuh dalam pertempuran di desa San Jiao Zhen, provinsi Shan Xi. Peristiwa ini disaksikan oleh pengawal pribadinya Xie Wenxiang dan Pei Zhouyu anggota Barisan Pengawal khusus. Terdapat sajak dan inskripsi Mao Zedong, Zhou Enlai, Zhu De, Ye Qianying memuja Liu Zhitan sebagai pahlawan bangsa. (Liu Zhitan 1979). Sesuatunya yang tak masuk akal, dalam buku Jung Chang, Mao Zedong dinyatakan menolak melawan Jepang: “Stalin pasti tidak senang, karena Mao menolak melakukan aksi melawan Jepang guna membantu Uni Soviet” (Jung Chang & Halliday 2007: 325). Kenyataannya adalah: semenjak semula Mao Zedong melawan agresi Jepang, menjadikan tugas ini sebagai program strategis bagi revolusi Tiongkok, mengajak Kuo Min Tang menggalang front persatuan untuk melawan Jepang.
Tampilnya Tiongkok sebagai negara sosialis dengan pembangunan ekonomi yang mengagumkan dunia dibawah pimpinan Partai Komunis, berarti mendemonstrasikan suksesnya pelaksanaan Marxisme. Maka berlangsunglah usaha serius burjuasi untuk mendiskreditkan Tiongkok. Peter Navarro, dosen Universitas California , menulis buku The Coming China Wars (Letupan-Letupan Perang China Mendatang). (Navarro 2008): Dalam bukunya ini Navarro berpendapat bahwa Tiongkok “menempatkan dirinya di jalur yang akan berbenturan dengan negara-negara lain di dunia”. Dia mengakui pesatnya perkembangan pembangunan Tiongkok hingga Tiongkok menjadi negara besar di bidang ekonomi. Tapi dengan menggunakan berbagai data sampingan akibat dari proses perkembangan pesat itu, Peter Navarro memaparkan pandangannya bahwa Tiongkok menjadi sungguh menakutkan, menjadi sumber bahaya mengerikan, menjadi imperialis yang keji mengancam keselamatan dunia dan umat manusia.
Adalah benar bahwa dalam proses industrialisasi besar-besaran terjadi polusi. Dalam realisasi ekonomi pasar sosialis terjadi pemalsuan-pemalsuan barang dagangan, upah yang rendah, masalah-masalah nilai tukar mata uang Ren Min Bi, korupsi dan sebagainya. Tapi tetap berlangsung usaha mengatasinya satu demi satu. Pernyataan Navarro bahwa kaum tani di pedesaan berada dalam keadaan kian tertindas adalah tidak cocok dengan kenyataan, karena justru pemerintah Wen Jiabao mencabut semua pajak di pedesaan yang berarti untuk pertama kali dalam sejarah, kaum tani Tiongkok dibebaskan dari beban berat sistim feodal yang selama berabad-abad menindas kaum tani Tiongkok. Korupsi terjadi, tapi tindakan terhadap koruptor berlangsung dengan keras, hingga sejumlah pejabat tinggi negara dihukum mati. Upah rendah, tetapi seiring dengan kenaikan pendapatan nasional berlangsung pula penaikan upah. Pemalsuan barang dagangan terjadi, tapi tindakan keras selalu diambil untuk mengatasinya. Bahaya bentrokan militer dengan tetangga adalah dibesar-besarkan belaka, karena Tiongkok justru menjunjung tinggi lima prinsip koeksistensi secara damai dan mengangkat semboyan membangun dunia yang harmonis dalam politik luarnegerinya.
Memang dari pembela tangguh kapitalisme tidaklah dapat diharapkan sesuatunya, kecuali ejekan dan kutukan terhadap sosialisme. Demikianlah Navarro menutup mata terhadap penghisapan berabad-abad yang dilakukan imperialisme Barat terhadap Afrika. Tapi matanya membelalak terhadap bantuan, perdagangan dan kerjasama Tiongkok dengan berbagai negara Afrika. Kerjasama dan bantuan Tiongkok, hingga terjadi pembangunan 1800 kilometer jalan kereta api Tanzania – Zambia, pembangunan jalan kereta api di Nigeria, stadion-stadion olah raga, jalan-jalan raya, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit di berbagai negara Afrika. Perdagangan, kerjasama dan bantuan-bantuan ini dinilai Navarro: “secara sistimatis merampas bahan-bahan mentah dan sumber daya alam dari berbagai negara” (Navarro 2008: 100). Ini dinilai Navarro sebagai “Safari parasit China di Afrika” (Idem). Kegiatan perdagangan dan kerjasama Tiongkok dengan negara-negara Amerika Latin juga meningkat sangat pesat. Mengenai ini Navarro menulis, bahwa “ Ada sesuatu bahaya yang tampak jelas bagi Amerika Latin dari imperialisme China ” (Navarro 2008: 115). Navarro menilai Tiongkok adalah imperialis. Tiongkok bekerjasama erat dan membantu pembangunan sosialisme di Kuba. Membangun jalan kereta api, sekolah-sekolah dan lain-lain buat Venezuela . Sesuatunya yang tak pernah terjadi di bawah kekuasaan imperialis Amerika selama ini. Secara dialektis kita melihat, bahwa kemenangan-kemenangan baru Marxisme dalam pembangunan sosialisme melahirkan reaksi dahsyat dari burjuasi yang melihat liang kuburnya menganga ! Peter Navarro menggunakan metodologi eklektika dalam menulis bukunya. Eklektika adalah metodologi pseudo-ilmiah yang gampang menyesatkan. Dia menderetkan sejumlah data yang memang ada dalam kenyataan, tapi kesimpulannya adalah menurut yang diinginkannya. Karena itulah terjadi: Tiongkok berdagang yang saling menguntungkan dan memberi bantuan yang menguntungkan bagi rakyat negara yang dibantu, tapi Navarro menilai perdagangan dan bantuan itu adalah imperialistis.
Dengan ambruknya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, maka bersorak-sorailah para penentang komunisme, penentang Marxisme. Di Indonesia ada yang menulis “Marxisme sudah usang dan ketinggalan zaman”. “Di negeri kelahirannya pun Marxisme sudah dicampakkan” “Secara ideologis, komunisme bukanlah ideologi yang menjanjikan. Inilah pertanda bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme-leninisme itu sekarang ini sudah finish”. “Di bawah rezim komunis, masyarakat mau bekerja hanya karena takut, ancaman mau dibunuh—dan jangan lupa 50 juta jiwa mati di Uni Soviet era rezim partai komunis”. “Ancaman komunisme tetap menghantui bangsa Indonesia . PKI telah dua kali memberontak, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1966” . ”Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Dia terus mengembangkan pertentangan antar kelas: kaya miskin, buruh-pengusaha/majikan, juga petani-tuan tanah”. Ini semua adalah lagu lama yang didendangkan sekarang oleh kaum anti-komunis.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme Ideology Marxisme lahir dari kesadaran kaum buruh untuk mengubah nasibnya dari penindasan dan penghisapan kaum kapitalis melalui revolusi social. Marxisme merupakan senjata idiil kaum buruh dan buruh menjadi senjata materiil Marxisme.

DATAR PUSTAKA
Makalah kajian LBI devisi tafkir. Kamis, 8 Maret 2007, secretariat Pwk. PP. Persis Mesir.
[1] Karl Marx, Yahudi Jerman, dilahirkan di Tafeuz tahun 1818 dan meninggal tahun 1883, selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1206
[2] Frederick Angel, lahir tahun 1820 di Babarman Jeman dan meninggal tahun 1890, dari keluarga Kapitalis, lihat lengkapnya: Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni. hal: 195
[3] Afkar Marxisiyyah fil al Mizan, Thoriq Haji, hal: 22
[4] Marxisiyyah wa Mauqif Al Islam minha, Dr. Saiyid Abdul Tawwab Abdul Hadi, hal: 5
[5] Adhwa’ ‘ala Filsafat al Islamiyyah fi al ‘Ashri al Washith, Dr. Jamaluddin Husain ‘Afifi, hal: 4
[6] Akar pokok perbedaan landasan pikiran, aliran idealisme menyatakan bahwa ruh lebih dulu ada dari pada materi, sedangkan aliran mastaniyyah mengatakan bahwa antara ruh dan materi tidak ada satu sama lain mendahului, berbeda halnya dalam pandangan materialis, menyatakan bahwa materi lebih dulu ada dari pada ruh. Masing-masing pandangan yang berbeda ini menghasilkan cabang persepsi yang berbeda pula dalam menyikapi akan adanya Tuhan dan seterusnya.
[7] Hegel, Filosof Jerman (1831-1770), Satu dari sekian filosof yang paling berpengaruh ide pemikirannya dalam sejarah manusia. selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1496

[8] Ludwing Andreas Feurbach (1872-1804), filosof Jerman, kritikus agama Nashrani dan semua agama keseluruhan. Selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1049
[9] Karena dalam pandangan Marxisme bahwa perubahan tidak mengenal kata akhir, Al Marxisiyyah wa al Islam, Dr. Mushthofa Mahmud. hal: 35
[10] Uslub al Ghazwu al Fikru, hal. 113. Dan Mausu’ah al Muyassaah. Cet: tiga, juz: 2, hal: 929
[11] filosof yang pertama tercatan dalam sejarah adalah Tholes (546-624 SM), menyatakan bahwa air adalah materi pertama pencipta (‘illatul ‘ula). Lihat : Allah wa al ‘Alam wa al Insan, ‘Inda Falasifah Yunani, Dr. Jamalluddin Husain ‘Afifi, ,hal: 20
[12] Idealisme maksudnya adalah aliran filsafat, lawan Marxisme. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.
[13] Limadza Rufidhat al Marxisiyyah?, hal: 27
[14] Menurut pendekatan idealis (mastaliyyah), perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni, ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme.
[15] Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam teori berfikir, kalau filosof kuno menggunakan manthiq qadhim yang hanya mengandalkan logika semata, dan ini jelas penuh campur tangan asumsi pribadi. Sedangkan filosof pertengahan dan kontemporer lebih didominasi dengan gaya manthiq hadist. Marxisiyyah wa Mauqif Al Islam minha, Dr. Saiyid Abdul Tawwab Abdul Hadi, hal: 9
[16] Pada filsafat Yunani kuno pun ada teori dialektika. Namun sini pikiran dialektikal masih tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas. Barulah datang dialektika yang paling dekat dengan para naturalis Jerman, yaitu filsafat Jerman klasik, dari Kant hingga Hegel.
[17] Titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan bahwa dunia real hanyalah sebuah salinan (copy) dari ide itu. Titik inilah yang menurut para Marxisme keberangkatan yang sama sekali salah, namun herannya Marxisme tetap mengadopsi hukum dialektika Hegel, ini terjadi dikarenakan menurut Engels hanya dia yang mampu memaparkan kebenaran gambaran-gambaran individual hukum dialektika dari alam dan sejarah dengan jelas dan kongkrit.
[18] Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. Abdul Mun’im al Hafna, Juz 2, hal: 1201.
[19] Ide Marxisme ialah bahwasannya akan senantiasa ada periode-periode perubahan gradual yang diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba.
[20] Enzyklopädie, Gesamtausgabe, Hegel, Bd.VI, hal: 217.s
[21] Hal tersebut menunjukkan lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam masyarakat.
[22] Tipe kontradiksi ke dua ini (internal) memiliki dua tuntutan konsekwensi. Pertama: dua sisi yang kontratiktif menuntut eksistensi satu sama lain. Cantoh adanya maksimal dan minimal. Kedua: kontradiktisi kompetitif dan saling perlawanan keduanya senantiasa berlanjud, hingga manghasilkan revolusi membentuk yang baru.
[23] Kontradiksi eksternal sedikit berbeda dengan kontradiksi internal, perbedaannya adalah kontradiksi ekternal tidak menuntut hilangnya satu harus menghilangkan yang lain.
[24] Perubahan kuantitas menuju kualitas
[25] Lihat di buku Karl Marx; Kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel
Brewer, Anthony. ” Kajian Kritis DAS KAPITAL KARL MARX , CV. ADIPURA , Jakarta 1999
Fakih, Mansour , “ runtuhnya teori Pembangunan dan globalisasi “,Yogyakarta Insist press, 2005.
Hashem, “agama marxist dan asal usul atheisme dan fenomena kapitalis “, Surabaya,Yayasan Nuansa cendekia, 2001.
Held, David dan Giddens, Anthony ,” perdebatan klasik dan kontemporer mengenai Kelompok, Kekuasaan dan konflik”,Jakarta, CV Rajawali 1982

Mandel, Ernest , “tesis-tesis pokok Marxisme “,Yogyakarta Nailil printika, 2006.
Ritzer ,george. “ Teori Sosiologi Modern “. Jakarta : Prenada Media. 2004.
wahid situmorang, Abdul, “gerakan sosial” . Yogyakarta : pustaka pelajar. 2007.
Ir. Soekarno. “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” dalam Dibawah Bendera Revolusi. Jakarta: Departemen Penerangan.1964. pp. 1-23
Suar Suroso: MARXISME SEBUAH KAJIAN, Dinyatakan Punah, Ternyata Kiprah, Jakarta : Hasta Mitra.2009, hal. vii – xvi.
SUMBER INTERNET
Dikutip dari http://muttaqiena.blogspot.com/2009/01/marxisme-klasik-bunga-rampai-pemikiran.htm
Dikutip dari , http://www.polarhome.com/pipermail/gmni/2002-July/000015.html
Dikutip dari : http://taufandamanik.wordpress.com/2010/07/28/psikologi-massa-wacana-kolektif-dan-perubahan-sosial/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s