APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)

Kaum konservatif dan kolonialis Belanda berusaha merongrong Republik Indonesia Serikat yang baru berdiri dan diakui kedaulatannya oleh pemerintah Belanda. Mereka memanfaatkan keresahan para anggota KNIL (Koninkelijke Nederland Indische Leger) tentara kerajaan di Hindia Belanda, yang akan dimasukkan ke dalam APRIS. Para anggota KNIL mengkhawatirkan, mereka akan didiskreditkan oleh TNI dalam APRIS.
Sekelompok bekas KNIL di Pusat Latihan Militer Batujajar Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Kapten Raymond “Turk” Westerling yang menamakan dirinya pasukan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) menyerbu dan mengadakan teror di Kota Bandung pada bulan Januari 1950. Gerombolan itu melakukan tembakan membabi buta, merampas barang rakyat dan menyiksanya. Salah satu landasan bagi gerakannya adalah kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil. Westerling memahami bahwa sebagian besar rakyat Indonesia yang telah lama menderita akibat penjajahan bangsa Belanda maupun Jepang mendambakan datangnya suatu kemakmuran seperti terdapat dalam ramalan Jayabaya. Berdasarkan ramalan tersebut akan datang seorang pemimpin yang disebut dengan Ratu Adil yang akan memerintah rakyat dengan adil dan bijaksana, sehingga keadaan akan aman dan damai serta rakyat akan mengalami kemakmuran dan sejahtera. Tujuan APRA ialah mempertahankan bentuk federal di Indonesia dan adanya tentara tersendiri pada negara-negara bagian RIS. Sedang pada konferensi intern di Jogja telah disetujui bahwa APRIS adalah Angkatan Perang Nasional. Gerakan APRA yang terdiri dari kurang lebih 800 orang diantaranya kira-kira 300 anggota KL bersenjata lengkap menyerang kota Bandung pada pagi hari tanggal 23 Januari 1950. Sejak tanggal 22 Januari sebetulnya pimpinan Divisi Siliwangi telah mensinyalir adanya suatu gerakan dari sekelompok orang bersenjata di luar kota Bandung. Tetapi rupanya Westerling menjalankan taktik gerak cepat sebab pagi-pagi buta keesokan harinya mereka telah memasuki kota Bandung dan secara ganas membunuh setiap anggota TNI yang dapat mereka jumpai. Gerombolan APRA juga berhasil menduduki staf Divisi Siliwangi setelah membunuh hampir seluruh regu jaga yang hanya berjumlah 15 orang serta seorang perwira menengah sedang jumlah gerombolan penyerbu lebih dari 150 orang. Hanya 3 orang yang berhasil selamat karena dapat meloloskan diri dari pengepungan.
Dalam gerakan di Kota Bandung ini lebih dari 79 anggota APRIS tewas dan juga banyak rakyat biasa yang menjadi korban. Pemerintah RIS segera mengirimkan bala bantuan ke Bandung. Di Jakarta juga segera diadakan perundingan antara Drs. Moh. Hatta sebagai wakil pemerintah RIS dengan Komisaris Tinggi Belanda. Hasilnya adalah Mayor Jenderal Engels Komandan KL di Bandung, berhasil mendesak Westerling untuk meninggalkan Bandung dan gerombolan APRA pada sore itu juga meninggalkan kota Bandung. Setelah meninggalkan Bandung gerombolan APRA menyebar ke berbagai tempat dan terus dikejar oleh APRIS dan dengan bantuan rakyat gerombolan berhasil dilumpuhkan.
Selain di Bandung, sebenarnya gerakan APRA juga diarahkan ke Jakarta. Di sini Westerling mengadakan kerjasama dengan Sultan Hamid II, yang menjadi menteri negara tanpa portofolio di dalam kabinet RIS. Menurut rencananya gerombolan APRA ini akan menyerang gedung kabinet dimana pada hari itu akan diadakan sidang kabinet. Mereka akan menculik semua menteri dan membunuh menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX. Sekretaris Jenderal Kementrian Pertahanan Mr. Ali Budiardjo dan Pejabat Kepala Staf Angkatan Perang. Kolonel T. B. Simatupang. Tetapi berkat kesiagaan APRS usaha APRA di Jakarta juga mengalami kegagalan. Walaupun demikian Westerling dengan gerombolan APRA-nya masih terus mencoba untuk melaksanakan tujuannya. Tapi usahanya itu sia-sia. Pada tanggal 22 Februari 1950 Westerling meninggalkan Indonesia menuju Malaya dengan pesawat terbang Belanda. Dengan perginya Westerling para pengikutnya menjadi bubar.
Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dipimpin oleh Kapten Westerling. Gerakan ini didasari adanya kepercayaan rakyat akan datangnya seorang Ratu Adil yang akan membawa mereka ke suasana yang aman dan tentram serta memerintah dengan adil dan bijaksana, seperti yang terdapat dalam ramalan Jayabaya.
Tujuan gerakan APRA yang sebenarnya adalah untuk mempertahankan bentuk negara federal di Indonesia dan memiliki tentara tersendiri pada negara-negara bagian RIS. Pada tanggal 23 Januari 1950, pasukan APRA menyerang kota Bandung. Pasukan APRA melakukan pembantaian dan pembunuhan terhadap setiap anggota TNI yang ditemuinya. Markas Divisi Siliwangi berhasil didudukinya. Pasukan APRA membunuh setiap regu jaga termasuk Letkol Lembong.
Melihat keadaan seperti ini. Pemerintah RIS segera mengirimkan pasukannya ke kota Bandung. Sementara itu Perdana Menteri RIS, Moh. Hatta segera mengadakan perundingan dengan Komisaris Tinggi Belanda di Jakarta. Westerling didesak untuk meninggalkan kota Bandung dan pasukan APRA meninggalkan kota Bandung pada sore harinya. Pasukan APRA semakin terdesak dan terus dikejar oleh pasukan APRIS bersama dengan rakyat. Akhirnya Gerakan APRA berhasil dilumpuhkan.
Kemudian diketahui, bahwa dalang gerakan APRA adalah Sultan Hamid II, seorang Menteri Negara pada Kabinet RIS. Rencana sebenarnya dari gerakan itu adalah menculik Menteri Pertahanan Keamanan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX; Sekjen Pertahanan Mr. Ali Budiardjo; dan pejabat Kepala Staf Angkatan Perang, Kolonel T. B. Simatupang. Dengan keberhasilan pasukan APRIS menumpas Gerakan APRA, maka keamanan di wilayah Jawa Barat berhasil dipulihkan kembali.
Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Di Maluku banyak sekali anggota KNIL. Mereka juga tidak mau dimasukkan ke dalam APRIS. Keresahan KNIL itu dipergunakan oleh tokoh-tokoh pro Belanda, seperti Manusama. Ia mengemukakan gagasan, supaya Maluku terpisah dari RIS dan menjadi negara merdeka, yang diberi nama Republik Maluku Selatan. Pada bulan April 1950 diproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan. Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil bekas Jaksa Agung NIT dipilih menjadi Presiden RMS. Soumokil sebenarnya sudah terlibat dalam petualangan Andi Azis di Makassar, tapi karena usaha Andi Azis mengalami kegagalan, maka dia mengalihkan usahanya ke Maluku Selatan dengan Ambon sebagai pusatnya. Pada waktu itu keadaan di Ambon sedang kacau karena ternyata banyak anggota bekas KNIL yang ingin bergabung dengan TNI. Hal ini sangat tidak menyenangkan Belanda karena bila banyak anggota KNIL bergabung kepada TNI maka RI akan menjadi lebih kuat. Untuk mencegah hal tersebut, Belanda mulai menghasut dan menyebarkan desas-desus yang buruk tentang TNI dan RI. Keadaan ini menguntungkan Soumokil dan pada tanggal 25 April 1950 ia memproklamasikan berdirinya “Republik Maluku Selatan” (RMS).
Pemerintah RIS berusaha mengatasi masalah ini dengan damai yaitu dengan jalan mengirimkan dr. Leimena. Tapi misi damai ini ditolak oleh Soumokil bahkan mereka meminta bantuan, perhatian dan pengakuan dari dunia luar, terutama dari negeri Belanda, Amerika Serikat dan Komisi PBB untuk Indonesia. Karena itu maka pemerintah RIS terpaksa menumpas petualangan Soumokil itu dengan kekuatan senjata. Pada tanggal 14 Juli pagi, pasukan ekspedisi APRIS sebanyak 850 di bawah pimpinan orang Kolonel Kawilarang mendarat di Laha, pulau Buru. Dengan susah payah karena belum mengenal medannya, TNI berhasil merebut pos-pos penting di pulau Buru. Komandan pasukan RMS menyerah dan menghadap Kolonel Kawilarang. Setelah pulau Buru dikuasai, pasukan APRIS/TNI menuju ke Seram. Pendaratan dilakukan di Seram Barat pada tanggal 19 Juli 1950 dan dengan mudah Seram Barat dapat dikuasai oleh APRIS/TNI pada hari itu juga. Dari sini gerakan pasukan APRIS/TNI dilanjutkan ke bagian lain pulau Seram. Rupanya RMS bermaksud memusatkan kekuatan dan kekuasaannya di pulau Seram dan Ambon. Operasi pasukan APRIS/TNI mengalami kesulitan sehingga baru pada bulan Desember 1950 setelah menderita banyak korban pantai Utara Seram dan seluruh pulau Ambon dapat dikuasai. Dan ketika RIS pada tanggal 17 Agustus 1950 dilebur dan menjadi negara kesatuan RI, petualangan RMS belum dapat ditumpas seluruhnya. Salah satu tokoh dari TNI yaitu Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran waktu menyerang benteng Victoria di Ambon. Operasi APRIS dilakukan dari pulau ke pulau dan menghancurkan pasukan RMS. Serdadu-serdadu RMS melarikan diri ke hutan-hutan dan beberapa lamanya membuat kekacauan. Pada bulan Desember 1963 Maluku dapat diamankan kembali setelah Dr. Soumokil tertangkap.

Sumber terkait:
Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah untuk SMA Kelas XII Program Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga.
Tim Penyusun. 2009. Revolusi Belajar Koding. Magelang: Ganesha Operation.
Rahmawati, Dwi, dkk. 2006. Sejarah untuk SMA/MA Kelas XII Semester Gasal Program Ilmu Sosial. Klaten: Viva Pakarindo.
http://www.wikipedia.org/Peristiwa_Kudeta_Angkatan_Perang_Ratu_Adil.htm. Diakses tanggal 5 September 2012 pukul 09.24 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s