Fakta, Pernyataan Mengenai Fakta serta Kebenaran dalam Pengkajian Sejarah

 alamak

Fakta dan Pernyataan
Banyak para ahli sejarah condong memandang fakta (historis) sebagai dasar pengkajian sejarah yang mutlak dapat diandalkan. Fakta dapat ditentukan dengan kepastian yang praktis tak dapat disangsikan dan andaikata terjadi kesangsian maka dalam praktek ini dapat dipecahkan.kadang-kadang fakta kurang memadai untuk menentukan sebuah peristiwa dengan kepastian. Becker memandang fakta historis itu sebagai sebuah lambing bagi segala sesuatu yang dikaitkan oleh para ahli sejarah dengan istilah fakta historis, ada segi-seginya yang menarik tetapi juga yang kurang menarik.
Kelemahan yang paling dicela dalam teori Becker ialah, bahwa ia mengabaikan perbedaan antara masa silam sendiri dan uraian kita mengenai masa silam. Sebagai akibat diskusi historis, kita memang akan mengaitkan makin banyak hal dengan suatu fakta historis tertentu dan sebaliknya mengaitkan fakta itu dengan fakta-fakta lain pula, tetapi ini tidak mengubah masa silam sendiri serta fakta-fakta dari masa silam. Dalam filsafat sejarah, tak ada suatu kesalahan yang demikian sering dan suka dilakukan oleh para filsuf daripada mengacaukan fakta dengan omongan kita mengenai fakta itu. Kekacauan ini demikian umum terjadi sehingga kita kita hamper ingin bertanya apakah dalam pengkajian sejarah ada alasan untuk menghapuskan saja perbedaan tersebut.

Berbagai Pernyatan Mengenai Masa Silam
Yang dimaksudkan dengan pernyataan historis adalah pernyataan mengenai fakta-fakta historis atau seperti juga sering dikatakan mengenai keadaan-keadaan pada masa silam. Di sebut masa silam adalah keseluruhan keadaan-keadaan itu . sifat keadaan itu beserta pernyataan-pernyataan kita mengenai keadaan itu dapat berbeda-beda, kadang-kadang, keadaan fakta itu hanya satu kali terjadi atau merupakan peristiwa unik. Namun tidak semua pernyataan umum yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan historis juga sungguh merupakan pernyataan-pernyataan mengenai keadaan-keadaan umum tertentu. Oleh karena itu seharusnya kita memusatkan perhatian kita pada keadaan-keadaan unik dan umum pada pernyataan kita mengenai hal-hal itu.
Suatu peristiwa unik selalu ditentukan oleh tempat dan waktunya. Peristiwa unik mengenai diproklamasikannya kemerdekaan Negara kita terjadi di pegangsaan Timur 56 pada tanggal 17 Agustus 1945. Contoh baik mengenai keadaan-keadaan umum kita jumpai dalam ilmu alam. Menurut hokum Newton dua benda saling menarik dengan kekuatan yang sebanding lurus dengan masa benda-benda itu dan berbanding terbalik dengan pangkat dua jarak kapan saja. Keadaan unik ditentukan menurut tempat dan waktu, sedangkan keadaan umum tidak ditentukan oleh tempat dan waktu. Pernyataan yang berkaitan dengan keadaan unik disebut pernyataan singular sedangkan pernyataan yang melukiskan keadaan umum disebut pernyataan universal.
Namu dalam pernyataan-pernyataan umum yang dirumuskan oleh para peneliti sejarah, pembatasan menurut tempat dan waktu rupanya tidak dapat dihindarkan. Misalnya pernyataan yang dikutip abad ke-18 para filsuf Fajar Budi di Prancis memerangi kewibawaan gereja.acuan kepada tempat dan waktu, entah implicit atau eksplisit jelas sekali. Kita akan sampai pada pernyataan umum mengenai suatu keadaan umum sebagai berikut :
Pada abad ke-17 dan ke-18, yuda-yuda samudera antara armada-armada Eropa, biasanya berlangsung dengan kacau sekali.
Pernyataan umum diatas bukan pernyataan yang universal yang sesunguhnya. Ada pembatasan menurut waktu dan tempat, akan tetapi menurut Joynt dan Rescher (L) tadi dapat diubah menjadi suatu pernyataan yang sungguh universal, yaitu:
Bila yuda-yuda samudera dilangsungkan dengan kapal-kapal seperti dibuat di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, maka yuda-yuda itu berlangsung dengan kacau dimana saja dan kapan saja.
Mereka lalu menyimpulkan, bahwa seorang peneliti sejarah sama seperti seorang peneliti ilmu alam dapat dan boleh merumuskan pernyataan-pernyataan universal. Namun pada dasarnya pernyataan-pernyatan umum yang kita jumpai dalam buku sejarah pada umumnya tidak merupakan pernyataan universal.hanya kadang-kadang bila suatu keadaan memang ditopang oleh suatu hokum, maka penulisan sejarah menyajikan pernyataan-pernyataan universal. Halini juga terjadi dalam ilmu-ilmu sosial. Pernyataan umum dalam ilmu-ilmu sosial biasanya disertai oleh syarat “ceteris paribus” artinya keteraturan umum itu hanya ada bila tidak terjadi hal-hal yang luar biasa.
Pernyataan umum yang diruuskan oleh seorang peneliti sejarah bersifat individi atau gejala historis (tokoh,pertempuran, gerakan kebudayaan atau sosial). Suatu rangkaian pernyataan mengenai keadaan-keadaan unik,lalu dirangkum dalam satu pernyataan umum mengenai suatu deretan gejala individual. Pernyataan yang dirumuskan oleh seorang ahli sejarah sebetulnya tak lain dari suatu ringkasan mengenai pernyataan-pernyataan singular, sedangkan suatu pernyataan universal pada dasarnya lebih daripada suatu rangkuman gejala-gejala.

Kebenaran
Sebuah wacana atau teks historis untuk bagian besar terdiri atas pernyataan-pernyataan singular dan umum mengenai masa silam. Pernyataan-pernyataan umum itu tidak lain dari suatu rangkuman mengenai pernyataan-pernyataan singular. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa sebuah teks historis pada pokoknya terdiri atas serangkaian pernyataan singular mengenai masa silam. Satu-satunya syarat agar sebuah teks historis dapat dipercaya, ialah agar ucapan-ucapan singular itu benar. Teks-teks historis dan pernyataan-pernyataan singular historis lebih berpretensi melimpahkan pengetahuan dan tidak hanya melakukan dengan tindakan bahasa. Dengan ucapan-ucapan singular seorang ahli sejarah melukiskan masa silam dan tidak bermaksud menunjukkan sesuatu kepada pembaca atau mengingatkan pembaca akan sesuatu yang sudah diketahuinya. Maka dari itu untuk pengkajian sejarah, teori tindak bahasa tidak membeberkan perspektif-perspektif yang berguna.
Konsep kebenaran sebetulnya tidak diperlukan. Barang siapa mempergunakannya, tidak menambah sesuatu pun pada apa yang telah dikatakannya. Sekalipun demikian para penganut teori ini bersedia menerangkan mengapa dan dalam keadaan apa kata benar ingin kita gunakan. Karena disini kita membicarakan kebenaran yang terdapat dalam pernyataan-pernyataan singular mengenai masa silam, maka kegunaan praktis dari suatu uraian historis dalam keseluruhannya, bukan alasan cukup untuk mendukung pendapat bahwa ucapan-ucapan singular berguna bagi perbuatan kita sekarang ini. Dengan demikian, teori kebenaran pragmatis tidak memaparkan perspektif yang menarik bagi pengkajian sejarah.
Teori korespondensi untuk menguji kebenaran bahwa suatu ucapan benar, bila terdapat keserasian (korespondensi) antara apa yang dinyatakan dalam ucapan itu dengan keadaan yang disebut dalam ucapan tadi di dalam kenyataan (historis). Secara formal teori korespondensi mendefinisikan konsep kebenaran, sedangkan teori koherensi menunjukkan criteria untuk mengecek kebenaran ucapan itu. Teori koherensi lebih serasi dengan praktek penelitian sejarah daripada teori korespondensi. Koherensi memang merupakan tolok ukur yang dipergunakan oleh para peneliti sejarah guna menentukan apakah sebuah pernyataan historis benar atau tidak.
Kesimpulan dapat kita ambil dengan uraian diatas bagi penelitian sejarah, hendaknya kita menyadarkan bahwa terdapat suatu kaitan erat antara apa yang kita lihat atau amati dalam kenyataan di satu pihak dan apa yang kita anggap benar di lain pihak yang merupakan titik pangkal untuk merumuskan ucapan-ucapan yang kita anggap serasi dengan kebenaran. Pengamatan empiris selalu dilatarbelakangi oleh teori-teori tertentu. Tak ada pengamatan yang polos dan murni. Inilah salah satu pendapat dalam filsafat ilmu pengetahuan yang kini umum diterima, baik dalam bidang pengkajian sejarah, ilmu-ilmu sosial, maupun dalam ilmu eksakta dan bahkan dalam hidup sehari-hari.
Teori koherensi dan tesis bahwa pengamatan empiris selalu dilatarbelakangi oleh suatu teori masih menghasilkan sebuah kesimpulan lain. Karena konsep-konsep kita, teori-teori umum serta asumsi-asumsi kita turut menentukan bagaimana kita mengalami kenyataan (historis), maka konsep-konsep serta teori-teori tersebut dapat kita umpamakan dengan semacam lampu sorot yang dalam kegelapan menyapu kenyataan empiris (historis),lalu menyoroti objek-objek mana yang relevan dan ada artinya untuk diteliti dalam penelitian historis. Teori korehensi (serta tesis mengenai diwarnainya pengamatan empiris oleh teori-teori kita lebih dekat pada penelitian sejarah, seperti dilangsungkan serta pada perkembangan historiografi daripada teori korespondensi.

Kesimpulan
Menurut Becker sebuah fakta historis merupakan suatu lambang bagi suatu jaringan fakta-fakta yang saling mengait. Dalam diskusi historis, kebenaran dan kesahihan fakta-fakta historis ditentukan oleh suatu penelitian mengenai koherensi fakta-fakta yang kait-mengait dalam jaringan tersebut. Kita melihat pula bahwa Becker membuat kesalahan yang sering dilakukan oleh para peneliti sejarah beserta filsuf sejarah, ialah mengacaukan kenyataan historis dan omongan kita mengenai kenyataan itu. Kebenaran ucapan-ucapan singular yang mewujudkan suatu uraian historis belum menjamin kebenaran atau mutu uraian seluruhnya. Maka dari itu tidak memuaskan bila kebenaran suatu uraian historis kita gantungkan pada kalimat-kalimat masing-masing.
Kesimpulan kita adalah tak ada satu alternative yang membuka jalan yang memuaskan, untuk mengaitkan keseluruhan pernyataan historis (uraian historis) dengan konsep kebenaran (menurut teori korespondensi).maka dari itu seyogyanya konsep “kebenaran” dan “ketidakbenaran” hanya dipakai untuk memberi kualifikasi kepada pernyataan-pernyataan singular mengenai masa silam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s