KEBIJAKAN POLITIK KONFRONTASI MATARAM

Perebutan Hegemoni antara Pajang dan Mataram
Selama zaman Demak dan Pajang peranan pesisir dan perdagangan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan, terutama Gersik dan Surabaya dengan perdagangan yang ramai dan mempunyai kewibawaan yang besar di Jawa maupun luar Jawa. Didukung lagi dengan pengaruh Sunan Giri yang terbentang dari Maluku hingga Malaka.
Dalam menghadapi Mataram, Pajang mempererat aliansinya dengan vasal-vasal dari pesisir, antara lain Tumenggug Demak dan Tuban.
Setelah tiga tahun, Senopati menolak untuk pergi ke keraton Pajang, akhirnya Sultan Pajang memutuskan untuk menundukkan Senopati. Dan perangpun terjadi di Prambanan, Sultan melarikan diri ke Tembayat dan pasukannya bercerai-berai dikejar oleh tentara Mataram.
Meskipun Mataram memperoleh kemenangan, pergolakan merebut hegemoni berjalan terus. Muncullah Demak, Tuban, Kudus, Jipang sebagai tandingan menarik pusat kekuasaan dari Pajang. Disini golongan pesisir terhimpun sebagai lawan yang kuat. Dalam menghadapi calan yang terakhir, timbullah pendekatan pangeran Benawa dan Senopati. Mereka bersekutu bersama melawan Pajang. Kemenangan ada dipihak aliansi Mataram-Jipang. Dengan kemenangan tersebut Senopati mulai bergelar Senopati ing Ngalaga. Ostpolitik Senopati sangat menonjol, program politik dan strateginya terarah pada ekspansi ke Jawa Timur, bukan terarah pada kekayaan pesisirnya tapi juga tradisi Majapahit.

Politik Ekspansi Mataram
Polarisasi antara kekuasaan di pesisir dan pedalaman sejak disintegrasi Majapahit berkembang mempengaruhi ekspansi Mataram dengan “Ostpolitiknya”. Akhir abad XVI Gersik dan Surabaya mempunyai perdagangan yang maju sehingga Mataram hendak menaklukkan usaha perlawanan politik.
Ketergantungan pesisir dari hasil agraris pedalaman di Jawa Timur menentukan adanya semacam syimbiose. Pasang surut pusat kekuasaan di Jawa Tengah membawa akibat bahwa setiap kali vasal-vasal yang ditaklukkan bertindak secara merdeka sehingga para penguasa pusat setiap kali perlu memerangi lagi agar dapt meletakkan hegemoninya. Ekspansi Mataram telah mengundang benih “peniadaan diri sendiri” hanya dalam jangka panjang dampak sosial kultural mendorong proses integrasi yang berpedoman pada model kebudayaan keraton Mataram.
Ofensif pertama Senopati ditujukan kepada Surabaya pada tahun 1589. Untuk mempertahankan diri dari agresi Senopati. Pada tahun 1590 dilancarkan serangan terhadap Madiun dengan bantuan dari Pati, Demak dan Pajang. Kemenangan itu berarti bagi Senopati sebagai homonovus, sekaligus berkedudukan sejajar dengan dinasti Demak dengan kebangsawaannya yang tua.
Pada tahun 1591, berturut-turut Kediri dan Jipang diserang Mataram kemudian Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598 dan 1599.
Pemberontakan Pati berkobar pada tahun 1600. Jepara, Kudus dan Demak tidak mampu membantu Pati. Senopati memelihara persahabatan dengan dinasti Cirebon maka ekspansi lebih terarah ke Timur dan Utara. Sepeninggal Senopati 1601, Politik ekspansi dilanjutkan oleh penganti-penggantinya lebih-lebih dibawah pemerintahan Sultan Agung.
Pada masa pemerintahan Panembahan Krapyak pada tahun 1601 samapi 1613 berkobarlah pemberontakan dari kalangan dinasti sendiri. Yaitu Pangeran Puger (Demak) dan Jagaraga (Panaraga). Hal inilah yang menyebabkan raja-raja terpengaruh oleh VOC. Demak sebagai wibawa poitik kulturalnya berpotensi untuk menjadi pusat mobilisasi kekuatan dan pemerintahan tandingan, yang dimanfaatkan Puger sebagai alat untuk memberontak saudara-saudaranya. Kegagalan juga dialami pangeran Jagaraga yang hendak memisahkan diri dari Mataram.
Sejak tahun 1610 Panembahan Krapyak menggerakkan pasukkannya ke Jawa Timur dengan tujuan menyerang Surabaya, akan tetapi terbatas oleh penghancuran oleh daerah-daerah disekitarnya. Karena kota Surabaya mempunyai pertahanan yang kuat dengan adanya tembok tebal sehingga menjadi penghalang bagi serbuan musuh.
Menyimpang dari janjinya panembahan Krapyak menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya, gelarnya ialah Prabu Pandita Anyakrakusuma. Pemerintahannya ditandai dengan ekspedisi dan perang dalam rangka politik ekspansi. Idiologi yang menjiwai politik ekspansi itu dapat dilacak kembali pada ilham yang diterima oleh “Wong Agung Ngeksiganda”. Meskipun tujuan terakhir agresi adalah Surabaya akan tetapi ekspedisi Mataram tahun 1614 dikirim untuk menaklukkan Kediri, Pasuruan, Lumajang, Renong dan Malang.
Pada tahun 1615 ofensif Mataram lebih dipusatkan pada Wirasaba, suatu benteng pertahanan yang terletak di bekas Majapahit dan merupakan titik strategis karena lokasinya berada dipintu gerbang kedelta Brantas serta pintu masuk ke Jawa Timur. Kemenangan di Wirasaba mengubah peta geopolitik ke Jawa Timur. Tempat-tempat yang strategis oleh mataram dianggap mengancam Surabaya. Pusat pimpinan aliansi golongan pesisir dipimpin oleh Sunan Giri namun beliau bersikap pasifistis. Pihak pesisir mendapat kesempatan mengkonsolidasi setelah kekalahan di Wirasaba. Ofensif balasan terhadap Mataram dilakukan melalui rute utara lewat pantai Lasem, Pati terus keselatan lewat Pajang. Pertempuran terhenti di Siwalan (1616) namun pada akhirnya kalah yang menyebabkan oleh sikap Pajang yang berubah haluan dan juga kekurangan bahan logistik sehingga tertimpa musim hujan dan bahaya kelaparan.
Karena kekalahan di Siwalan aliansi Pesisir menjadi lemah sehingga tidak dapat menghalang-halangi gerakan maju barisan Mataram menuju Pasuruan. Sementara itu keadaan dikerajaan sendiri mengalami krisis karena timbul ketegangan antara golongan-golongan ataupun klik-klik kraton yang saling memusuhi. Munculnya Ki Tambak Baya mengungkapkan fakta bahwa diluar pusat kekuasaan keraton masih terdapat penguasa lokal yang sering kali memiliki kesaktian, sangat berpengaruh dengan otoritas karismatis.

Puncak Konfrontasi Mataram-Surabaya (1620-1625)
Kekuatan posisi Surabaya mempunyai beberapa faktor, faktor utama ialah kedudukannya sebagai pusat perdagangan, kekayaan dan hubungan-hubungan dengan kerajaan lain. Faktor kedua kepentingan ekonomis diantara kota-kota pelabuhan Jawa Timur membentuk solidaritas yang terwujud sebagai aliansi pesisir dan juga idiologi yang religius mempertajam perbedaan dengan Mataram. Faktor ketiga daerah pedalaman yang subur dan pertanian yang maju sehingga menghasilkan produksi beras yang berlimpah. Hal inilah yang menciptakan hubungan perdagangan dengan ikatan politik kepada kerajaan-kerajaan disebrang antara lain Sukadana, Landak, Banjarmasin, Maluku dan sebagainya.
Mengingat wangsa Surabaya yang setrategis maka pertempuran tidak hanya dilakukan dari laut kecuali pertempuran dilaksanakan karena musim hujan dan persediaan bahan makanan yang terbatas sehingga strategi Mataram selama periode 1620-1625 dilakukan dalam musim kemarau dan diadakan perampasan panen dari daerah sekitarnya sebagai cadangan bahan makanan. Selama lima tahun diadakan lima kali serangan dengan tambahan ekspedisi ke Sukadana pada tahun 1622 dan ekspedisi ke Madura pada tahun 1624.
Infasi Mataram di Madura tertuju lebih dulu ke bagaian barat dan pertempuran terjadi pada bulan Juli 1624. Sebulan kemudian seluruh Madura termasuk Pamekasan dan Sumenep dikuasai pasukan Mataram. Banyak bangsawab dibawa kekeraton tujuannya yaitu suatu politik klasik untuk mengawasi penguasa daerah. Pengepungan yang dilakukan di Surabaya memutus hubungan dengan daerah pedalaman, desa-desa disekitarnya diduduki oleh pasukan Mataram. Sungai-sungai ditutup yang akhirnya dibangunlah bendungan disiungai Brantas untuk membelokkan aliran sungai.
Dalam bulan Oktober 1625 jatuhlah Surabaya. Pangeran pekik beserta putranya Ki Sanjata dan Dipati Pajang ditawan dan diantarkan ke Mataram. Kemudian pangeran Pekik hidup menyepi dan meninggal sebagai orang keramat. Sementara itu Ki Sanjata dijatuhi hukuman mati dengan ditenggelamkan di sungai. Selanjutnya pemerintahan di Surabaya dipercayakan kepada Tumenggung Sepanjang.

Konfrontasi Mtaram Lawan VOC
Dalam percaturan politik didalam kompleks historis Jawa bagian pertama abad XVII ditandai oleh perebutan lingkungan pengaruh. Surabaya yang memegang peranan untuk meneruskan peranan lama perdagangan Jawa sebagai perdagangan transito dari Maluku ke Malaka sebagai penghasil beras. Banten juga mempunya peranan penting dalam perdagangan ladanya. Mataram memegang kunci dalam sistem pertukaran sistem hasil beras, sedang VOC tetap bertujuan untuk memonopoli seluruh perdagangan.
Dipandang dari prespektif historis, maka ekspansi Mataram dengan Ostpolitiknya dan tujuan menaklukkan Surabaya akan menguntungkan VOC karena salah satu satu saingannya dapat disingkirkan. Politik Mataram terhadap pesisir membuka kesempatan bagi VOC untuk menjalankan peranannya. Meskipun VOC berfungsi sebagai buffer bagi Banten tetapi juga dianggap sebagai ancaman yang tidak memungkinkan adanya suatu pendekatan.
Antara Mataram dan VOC timbul pendekatan, hal itu terbukti dari utusan-utusan VOC yang sejak tahun 1610 hampir setiap tahun pergi menghadap raja Mataram. Akan tetapi faktor yang menimbulkan suatu bentrokkan yaitu tujuan VOC memegang monopoli pada satu pihak dan politik ekspansi Mataram pada pihak lain. Disisi lain gerakan Banten untuk membantu Surabaya cukup menggelisahkan Mataram sehingga pada tahun 1622 Mataram mengirim utusan ke VOC dengan ajakan bersekutu menyerang Banten.
Fakta lain menyebutkan bahwa Mataram mengalami kehancuran, hal itu ditandai dengan melemahnya sumber daya manusia-manusia Mataram karena adanya perang yang terus menerus. Akibatnya kota-kota dan desa-desa hancur, daerah-daerah kosong karena ditinggalkan penduduknya, sawah terlantar, banyak tanaman rusak seperti phon pisang, kelapa dan buah buahan. Dimana-mana terjadi wabah kemiskinan, kelaparan dan berbagai penyakit yang berjangkit.
Depopulasi daerah-daerah terjadi karena rakyat dimobilisasi untuk berperang. Pasukan Mataram yang beropertasi di Surabaya dan Madura ditaksir sekitar 80.000 orang belum lagi tenaga yang dierahkan untuk pengangkutan bekal, senjata. Dan membuat benteng pertahanan. Deportasi manusia dari daerah satu kedaerah lain, tanaman diabaikan dan tanah tidak digarap. Perdagangan dipesisir merosot dan kota-kota menjadi sepi dan timbullah kejahatan, perbanditan dan perampokan. Namun demikian tidak menghalangi Sultan Agung menerusakan politik ekspansinya ke Barat.
Pada tahun 1628 sudah disiapkan angkatan laut ke Batavia. Setelah utusan Mataram Kyai Rangga ialah Tumenggung Tegal yang dikirim pada April 1628. Dalam serangan pertama pasukan berhasil memasuki pasar dan benteng tetapi sebelum mencapai Kastel terpukul mundur. Kemudian pertempuran yang terakhir mengubah taktik yang dipakia terhadap Surabaya yaitu dengan membendung sungai tetapi gagal karena bahaya kelaparan dan penderitaan lainnya.
Sejak kegagalan itu tidak ada serangan umum lagi karena laskar yang menderita kelaparan dan akhirnya barisan ditarik mundur.

Politik dalam dan luar kerajaan mataram
Perang ekspansi yang terus menerus berkorban tidak hanya mengurang sumberdaya alamiah dan manusiawi akan tetapi juga menimbulkan ketegangan politik dalam kerajaan disertai kekuatan-kekuatan desintegratif. Pemberontakan pada pati pada tahun 1627perlu di lacak pada golongan pesisir dan pedalaman( mataram) dan wangsa demak dan wangsa mataram pemimpin pemberontak pragola dua warga wangsa mataran dan menurut tradisi babad dan sumber barat ada motifasi pribadi di belakang pemberontakan. Penyebabnya ialah ketidak taatan penguasa pesisir, kyai demang laksamana dan seorang kaya terhadap pemerintah P. Pragola dua. P. Pati mengambil bagian penting perang yaitu menaklukkan Madura. Tahun 1627 meledaklah pemberontan lagi, pragola II di bantu oleh enam bupati, Mangun jaya, Kanduruan, Raja Manggala, Toh Pati, Sawunggaling, dan Sendureja
Sebagai akibat pernag ekspansi, daerah pedesaan mengalami Depopulasi dan penduduk pedalaman mengalami Dislokasi. Ada 27 desa yang secara terbuka menentang raja; para pemberontak di tawan dan di giring ke Nagari. Tuntutan kerajaan serta raja dengan kekuasaan Kharismatis menciptakan Loyalitas mutlak sehingga timbul Mobilisasi manusia dan hasil bumi secara tak terbatas. Mobilisasi merusak landasan kehidupan tradisioanl pedesaan dalam orde menurut sistem Feodal mundurnya golongan orang kaya struktur kekuasaan feudal tetap kuat. Bahaya yang mengancam kekuasaan raja berasal dari Elite Religius. Di daerah pedesaan kekuasaan Kharismatis yang ada pada tokoh skti atau keramat merupakan bahaya laten terhadap kekuasaan pusat. Kontra-Elit terdiri atas tidak hanya para kepala desa Perdikan, para Pandita, Ppemegang otoritas local, Ulama, tetapi para kepala gerombolan para penjahat, para kyai guru, dukun. Para Kontra-Elite yang di pandang mataran sebagai antagonis, yaitu keturunan sunan Tembayak, kyai Ageng Pandanaran, Wangsa Kajoran, Keturunan Panembahan Rama. Lingkungan pengarung konter-elite merupakn Enclave Politik di dalam wilayah kerajaan besar mataram dan kewibawaannya memencar luas di seluruh negeri sehingga mempunyai potensi menjadi pusat pengerahan kekuatan social politaik yang mengancam kekuasaan raja.
Terhadap pangeran Pekik, sultan agung menerapkan politik klasik domestikasi atau perjinakan yaitu member tempat tinggal di lingkungan keratin dan di kawinkan dengan saudara wanitanya, yaitu Ratu Pandan Sari.
Tahun 1636 pasukan mataram menyerbu geresik di bawah pimpinan pangeran Pekik dan ratu Pandan sari Pertahanan yang gigih memukul mundur pasukan mataram, akhhirnya gresik menyerah. Endra Sena, seorang kepala pasukan Cina dan penembak ulung di hokum mati. Panembahan Giri di pindahkan dari gresik. Setelah perhubungan menjadi baik maka seorang putranya kembali ke Gresik dan berkehidupan sebagai Panenbahan Giri.
Pemberontakan di sumedang dan Ukur (1628-1635)
Bagiam pertama dari periode pemerintahan Sultan Agung mengarahkan Ekspansi mataram ke timur, dan bagian kedua lebih mengarah ke barat. Banten dan VOC merupakan kekuatan yang melawan Ekspansi tersebut. Kegagalan mataram mempunyai akibat buruk bagi kedudukan Hegemoni mataram. Akhir tahun 1628 di sumedang dan di Ukur, rakyat mulai bergerak menjauhkan diri dari mataram, yaitu denagn mendekati VOC untuk meminta semacam Proteksi. Dua tahun kemudian Sultan Agung mengirin Ekspedisi untuk memadamkan pemberontakan. Untuk menghadapi Ekspedisi itu banyak penduduk meninggalkan kampong halaman untuk mengungsi ke pegunungan. Ekspedisi mulai bergerak pada tanggal 27 Agustus 1631, yaitu suatu pasukan berjumlah 40 ribu orang di bawah pimpinan raja Cirebon.
Di pandang dari kerangka politik kerajaan mataran,pergolakan di Priangan sangat mempengaruhi perbandingan kekuasaan di komplek historis jawa, khususnya mataram, banten, dan VOC. Perkembangan hubungan mataram dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi akan terpengaruh oleh pergeseran kekuasaan ke VOC.
Segitiga di komplek melayu yaitu aceh-johor-malaka tak menjurus ke suatu polarisasi, dan perjuangan segitiga antar mataram-banten-VOC tidak mewujudkan Polarisasi. Mataram tidak sepenuhnya mengendalikan pemerintahan di priangan, pihak banten tidak berhasil menanam pengaruhnya kedalam priangan, VOC menaruh perihatian besar karana ada potensi untuk di kebangkan sebagai daerah pedalaman Batavia yang wajar. Banten dan Priangan belum berkembang sebagai penghasil surplus beras, maka perjuangan kekuasaan segitiga mataram memegang kuncinya ialah beras: suatu komoditi yang sangat di butuhkan VOC. Factor beras mendorong kaum portugis bersahabat dengan mataram tahun 1628 mataram meminta bantuan malaka untuk menyerang Batavia. Sebaliknya malak menghadapi Blokade Voc mataram berusaha mengirim beras dengan menembus Blokade tersebut. Kesibukan hubungan Diplomasi antara mataram dan bangsa portugis selama tahun 1630an menunjukan bahwa pihak mataram membutuhkan bantuan portugis untuk melawan VOC, sebaliknya bangsa potugis memerlukan tempat berpijak serta basis angkutan dagangnya di luar malaka, khususnya di jawa. Bagi VOC, poros mataram-malak yang kuat akan menghalang-halangi perkembangan Batavia. Pendekatan portugis terhadap mataram bertujuan agar mataram terseret ke dalam gelanggang VOC, sehingga akan memutuskan urat nadi perdagangan malaka. Pertarunagn antara portugis dan belanda tidak dengan kemenangan VOC, tetapi keentingan bersama tidak akan menghasilkan Front atau Aliansi yang kuat. Banten sibuk memerangi Batavia tetapi menjauhi mataram. Johor khawatir terhadap Ekspansi mataram ke wilayah melayu bersedia bersekutu dengan VOC.
Mataram mewarisi suatu tradisi yaitu hubungan baik denagn kerajaan-kerajaan di luar jawa, terutama hubungan perdanggangan yang ramai sejak Zaman Majapahit. Dukungan mataram kepada raja tumenggung dalam menantang pengaruh Jambi menempatkan Putri raja Palembang di tahta kerajaan yaitu permaisuri pangeran Aipati Anom. Jambi ada di peri-feri komplek historis selat malaka dan di luar suasana pengaruh politik aceh. Pusat kekuasaan yang paling dekat ialah johor yang baik dalam segi politik maupun ekonomis senantiasa menjadi tantangan bagi jambi. Masa sultan Agung, kepentingan ekonomis mataram cukup besar dan pengaruh politik dan kebudayaan tertanam kuat. Misi T. Demang Surya Menggala dan kyai Angga Yuda.
Untuk mengatur dan memelihara hubungan luar kerajaan telah di tunjuk pejabatnya yaitu T. Sastra Nata dari Demak untuk Palembang.
Jatuhnya malaka timbulnya hubungan diplomatic antara mataram dengan banten dan makasar. pada tahun 1642 ada misi banten pergi ke matarm dua tahun kemudian di susul misi dari makasar. Aliansi ini tidak mempunyai kekuatan yang riil karena kesulitan-kesulitan dari dalam negeri masing-masing, factor inilah yang di jadikan VOC sebagai alat untuk menyerang. Karena ancaman VOChubungan antara kerajaan mataram dan Goa-Talo berkembang sebagai suatu aliansi yang di kokohkan dalam suatu perjanjian tahun 1633.
Konsolidasi dalam Kerajaan Mataram
Sebagai hasil ekspansi sejak panembahan Senopati sampai jatuhnya Surabaya wilayah Mataram sudah berlipat ganda luasnya dan kebesaran kedudukan raja Mataram tidak lagi dicerminkan ileh gelar panembahan. Gelar yang dipakai adalah Susuhunan atau Sunan, yaitu suatu grelar yang disandang oleh para wali. Penyamaan gelar raja Mataram dengan gelar wali mempunyai tujuan karisma (kewibawaan kesaktian) yang diamggap lebih tinggi dibanding gelar raja Mataram sebagai homonovus (orang baru).
Kebesaran kerajaan dan kewibawaan raja lazim dicerminkan juga oleh keraton sebagai komplek kediaman raja. Keraton perlu memberi pemandangan yang mengagungkan dan mencerminkan kebesaran sehingga lewat kesan-kesan itu tercipta suasana keagungan dan kekeramatan. Suatu cara efektif untuk mempengaruhi baik rakyat maupun pihak-pihak luar. Bagunan-bangunan keraton berfungsi simbolis untuk memantapkan legitimasi kedudukan raja. Segala benda-benda disekeliling raja, upacara, perayaan-perayaan kecuali mempunyai fungsi sakral magis juga turut menambah menyemarakkan suasana kerajaan dengan segala keagungannya.
Dengan perluasan daerah pemerintahan dan hubungan poitik keluar, sistem patrimonialistis seperti yang terdapat pada jaman Kyai Ageng Mataram tidak dapat berfungsi lagi apabila tidak disertai alat-alat pemerintahannya seperti birokrasi, militer dan diplomasi. Orang pertama dalam kedudukan hirarkis langsung ada dibawah raja ialah Tumenggung Mataram. Suatu kedudukan yang kemudian lebih dikenal sebagai patih. Disamping itu pula ditiga daerah diangkat penguasa untuk menjalankan pemerintahan didaerah masing-masing, memimpin pasukan, dan menyelenggarakan pengadilan serta mereka juga diserahi urusan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain dan dengan pedagang asing.

Priangan Sebelum dan selama dominansi mataram
Pakuwan sebagai tempat kedudukan raja Padjajaran yang didirikan pada tahun 1433 kemudian ditklukan oleh Sultan Hasanudin dari Banten sebelum tahun 1570. Seperti yang diberitakan oleh Tome Pires, raja Sunda berkedudukan dikota Dayo yang luasnya sepertiga pulau Jawa dan mempunyai pelabuhan-pelabuhan Bantam ( Banten ), Pomdam (Pontang), Chequde (Cikande), Tanggaram ( Tangerang ), Calapa ( Jakarta ), Cimanok (Cimanuk).
Sudah ada hubungan pelayaran dan perdagangan yang ramai dengan malaka dan digunakan untuk itu lancara dari 150 ton. Kecuali banyal lancara, kerajaan sunda juga memiliki 6 buah jung.
Hasil yang diperdagangkan ialah lada yang setiap tahunnya kurang lebih seribu bahar asam cukup untuk dimuat dalam seribu kapal; beras emas dan kain. Disampin g itu berupa hasil bahan makanan dan terdapat pula perdagangan budak dan munculnya mata uang yang beredar berasal dari cina.
Pelabuhan yang paling penting adalah Calapa, dimana perdagangan [paling ramai dan kapal berlabuh dari segala penjuru: Sumatra, Palembang, Lawe, Tanjung Pura, Malaka, Makasar ,Jateng, Jatim, dan Madura. Hubungan perdagangan kerajaan Sunda dengan daerah-daerah lain di Jawa netral. Tapi hanya sedikit pedagang Jawa yang diizinkan berdagang karena kekhawatiran akan perebutan kekuasaan.
Pengaruh mataram masuk priangan melalui sungai-sungai besar Cimanuk dan Citandui, kemudian penetrasi efektif politik terjadi dalam pemerintahan sultan agung, pada bagian kedua tahun 1620-an, dan berakhirlah hegemoni mataram pada tahun 1677 waktu daerah priangan sampai sungai pamanukan diserahkan kepada VOC (19-20 oktober 1677). Kemudian tahun 1705 oleh pkubuwono I diserahkan tambahan sebelah timur sampai Cilosari dan disebelah barat Cisadane. Pemerintahan daerah itu dikuasai oleh sultan agung kemudian diserahkan kepada pangeran di Pati Kusuma Dinata kemudian sebagai gantinya diangkatlah Adipati Ukur kekuasaanya meliputi Sumedang-Larang, Kerawang, Pamanukan, Ciasem, Sumedang, Sukapura, Limbangan, Bandung dan Cianjur.
Dalam penyerangan Batavia(1628) telah dikerahkan rakyat Sumedang Ukur dan Timbanganganten dan untuk turut berperang. Kemudian pemberontakan berkobar lagi dibawah pimpinan Aria Sureng Rono yang diserahi sulatan agung membuka koloni baru bagi rakyat dari Wirasaba disebelah barat Indramayu. Pemberontakan-pemberontakan tersebut tidak secara langsung melibatkan kekuasaan lain. Salah satu tindakan utama yang dilakukan mataram aialah mendirikan koloni-koloni atau pemukiman baru. Diadakan pula organisasi pemerintahan .
Kolonisasi didaerah Kerawang diteruskan pada pemnerintahan mangkurat yaitu waktu tahun 1653. Kabupaten Bandung mencangkup daerah Ukur dan berpusat pada daerah Timbanganten. ibukotanya Bandung yang semula adalah terletak di tepi sungai Citarum. Kabupaten Sumedang mencangkup daerah Garut bdan Limbangan yang Kemudian pada zaman kompeni diperluas dengan daerah-daerah sekitarnya namun daerah itu merosot sejak runtuhnya pajajaran kemudian muncul adanya kolonisasi dari Cirebon.

2 thoughts on “KEBIJAKAN POLITIK KONFRONTASI MATARAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s