RESENSI BUKU GRESIK 1896-1916 : SEKILAS PERJALANAN SEJARAH KOTA

 

Image
Kota Gresik ( 1896-1916)
Sejak kerajaan zaman Majapahit, keberadaan kota Gresik sudah disebut-sebut sebagai salah satu potrotipe kota tua. Peranannya sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke 14, seirama dengan dinamika kota-kota yang lainnya di Nusantara yang juga terkait dalam perdagangan duania. Kawasan Nusantara menjadi kawasan paling timur yang dijadikan titik simpul perdagangan internasional terutama dari bangsa-bangsa Eropa dan Asia Tengah. Dari Maluku jalur perdagangan melintasi selat Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, pantai Coromandel dan Malabar di India, Gujarat, Persia serta diteruskan sampai ke Eropa dengan melewati simpul-simpul perdagangan lainnya. Pada jalur inilah kota Gresik menjadi salah satu simpul perdagangan yang sangat penting.
Letak geografis kota Gresik yang diapit oleh dua muara sungai besar, yaitu Bengawan Solo disisi barat kota Gresik dan sungai Brantas disisi timur, menjadikan kota Gresik kota pelabuhan yang strategis. Kota Gresik sekaligus menjadi simpul (outlet) sistem perdagangan regional yang menghubungkan daerah pedalaman Pulau Jawa dengan Luar Jawa. Sungai Bengawan solo dipergunakan sebagai jalur Tranportasi sungai yang membawa barang-barang hasil produksi dari kota Solo, salah satu jantung kota di jawa dan berada dipedalaman jawa Tengah, hingga kota Gresik. Pada sisi timur yaitu anak sungai Brantas dipergunakan untuk jalur transportasi sungai yang menghubungkan daerah-daerah pedalaman Jawa Timur dengan kota Gresik.
Sebagian wilayah kota Gresik terdiri dari tanah tandus, gersang dan berbukit-bukit kapur keras sehingga tidak memungkinkan penduduk Gresik menjadi masyarakat agraris. Mata pencarian penduduknya adalah pengrajin permata, pengrajin kuningan, pengrajin kulit (sandal, sepatu, terompah, sabuk, tas), tukang ukir, pandai besi, tukang peti, tukang jahit pakaian, kopiah dan sebagian kecil nelayan. Karena posisi kota Gresik terletak di pantai utara jawa menjadikan masyarakat Gresik menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat hinterland pulau jawa. Disamping pemakaian bahasa jawa seperti diatas, khusus di kota Gresik dan sekitarnya ada kata-kata yang dinamakan bahasa Gresikan dan hamper semua masyarakat Gresik memakainya sebagai bahasa pergaulan pada saat itu.
Sebelum aksara latin dikenal secara luas, aksara yang paling popular di Gresik pada saat itu adalah aksara pegon (aksara arab gandul) yang diperkenalkan melalui pesantren-pesantren. Aksara ini dipakai untuk menulis bahasa Jawa dan Indonesia. Masyarakat Gresik yang mayoritas beragama islam sudah paham membaca aksara pegon ini. Namun setelah mereka mulai maju dan selalu berhubungan baik dengan mitra dagang yang berasala dari segala bangsa maka mereka mulai menggunakan aksara latin, baik dalam surat-menyurat maupun pembukuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, busana kaum laki-laki yang mereka pakai adalah baju dari kain putih tanpa kerah, sarung dengan tutup kepala berupa kopiah, sedangkan alas kakinya adalah terompah Gresikan khas Gresik. Kemanapun mereka pergi selalu memakai busana itu baik untuk bekerja, menyambut tamu maupun bepergian. Oleh karena itu masyarakat Gresik dikenal dengan kaum sarungan. Untuk pakaian perempuan terdiri atas tiga unsure, yaitu kain (sewek atau kain batik) kebaya dan kudung, kerudung dari paris yang distrimin. Sejak dulu di Gresi ada tradisi kumpulan yang didirikan oleh warga kampong, disebut sinoman. Anggotanya adalah warga kampong setempat dengan tujuan khusus mengurus kematian dan pernikahan anggota keluarganya.
Dalam memandang pekerjaan orang Gresik menganggap bahwa menikmati pekerjaan adalah bagian dari ungkapan kebebasan, karena pekerjaan tidak bisa dilakukan dengan keterpaksaan. Bagiorang Gresik lebih baik kerja sendiri daripada ikut orang lain. Hubungan antara agama dan ekonomi sangat erat terutama dalam menjalankan aktivitas perdagangan dan home industry (industry rumahan) yang tumbuh saling mendukung. Masyarakat Gresik menghargai pekerjaan sebagaimana ketaatan dalam menjalankan ibadah.kegiatan ekonomi sama pentingnya dengan kegiatan agama. Perilaku budaya itu menyebabkan tumbuhnya industry-industri yang berkaitan dengan keperluan ibadah dengan subur antara lain kopiah, sarung, terompah, mukenah dan batik yang menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi masyarakat Gresik.
Perkembangan sosial budaya dan ekonomi tersebut pada akhirnya mempengaruhi banyaknya ragam adat istiadat, tradisi maupun kesenian Gresik. Tradisi yang berkembang tersebut antara lain adalah tradisi jomblang, tradisi mengusir wabah, tradisi bedug teter, tradisi tayung raci sidayu, tradisi kemanten sunat, tradisi ater-ater dan pasar jajan. Filosofi tembang tradisional Eh, Dayoh-e Teka mencerminkan keramahan masyarakat Gresik dalam menghormati tamu-tamu etnis pendatang.

Buku ini mengungkapkan sejarah Gresik sebagai kota perdagangan regional dan internasional, serta bagaimana pengusaha pribumi mengembangkan usahanya dimasa pemerintahan colonial Belanda. Buku ini juga memaparkan secara rinci mengenai data budaya Gresik dari abad ke 19 menuju abad 20 antara lain mengenai pakaian, makanan, komoditi dagang, arsitektur bangunan dan bahasa serta tulisan. Buku ini tidak terlalu tebal tetapi enak dibaca dan bahasanya mudah dipahami. Penulis berusaha untuk memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya kepada pembaca supaya pembaca mengetahui maksud dan isi dari buku ini. Karena penulis asli dari orang Gresik sendiri menjadikan penulis mengetahui sejarah dan seluk beluk kota Gresik dari tahun 1896-1916. Walaupun penulis memperoleh data-data tersebut dari sumber-sumber saksi sejarah maupun dokumen, arsip dan sebagainya.
Dalam buku ini juga ada kekurangannya yaitu data-data atau tulisan yang diberikan sedikit dan kebanyakan data-data berupa surat dan lain-lain. Penulis terlalu menjabarkan keadaan dan situasi kota Gresik pada abad ke 19 menuju 20. Sebenarnya masih banyak yang harus dikuak dan ditelusuri supaya hal-hal dan kejadian-kejadian yang terjadi dikota Gresik dapat diketahui dan dikenal oleh masyarakat luas.

Sumber : Zainuddin, Oemar. 2010. Kota Gresik 1896-1916. Jakarta : Ruas.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s