ANTROPOLOGI EKONOMI : MASYARAKAT MADURA

ANTROPOLOGI EKONOMI : MASYARAKAT MADURA

Pendahuluan

            Antropologi ekonomi adalah sebuah bidang kajian dalam antropologi sosial budaya yang memusatkan studi pada gejala ekonomi dalam kehidupan masyarakat manusia (Sairin, dkk. 2002: 4)

            Prinsip keterkaitan dalam sistem sosial budaya membuat suatu bidang kajian sering harus mengalami penumpukan dengan bidang kajian yang lain. studi antropologi ekonomi pada masyarakat tradisional misalnya, tak jarang harus menyinggung masalah religi yang merupakan objek studi antropologi religi. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa di dalam antropologi ekonomi terdapat dua macam pendekatan yaitu pendekatan umum dan pendekatan spesifik. Pendekatan umum adalah aliran teori yang ada pada khasanah antropologi umum dan karena minat tertentu, dioperasikan untuk membahas gejala ekonomi. Sedangkan pendekatan spesifik adalah aliran teri yang dikembangkan untuk menyelesaikan problem studi antropologi ekonomi. Ada beberapa pendekatan spesifik untuk membuat percaturan ilmu di dalam antropologi ekonomi menjadi ramai. Diurutkannya dari kemunculannya pendekatan-pendekatan spesifik tersebut adalah formalisme, substansivisme, antropologi ekonomi “baru” dan ekonomi personalisme.

Sejarah Ringkas Antropologi Ekonomi

            Gejala-gejala ekonomi tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi. Faktor-faktor non ekonomi, sosial budaya maksudnya sangat mempengaruhi perilaku ekonomi masyarakat (modern). Salah satu pondasi antropologi ekonomi tetap saja didasarkan pada penggunaan pokok-pokok pikiran yang diletakkan oleh Malinowski.

            Konsep-konsep ilmu ekonomi – modern – berlaku universal dan karenanya dapat dioperasikan untuk mempelajari tata ekonomi masyarakat primitif dan tradisional. Di mana pada dasarnya manusia pada masyarakat primitif dan tradisional adalah sama dengan manusia modern, mereka bertindak bersadarkan prinsip maksimalisasi, yaitu mencari mencari pilihan hasil terbaik yaitu keterlibatan sarana yang tersedia (Sairin, dkk. 2002: 10). Namun menurut LeClair dan Schneider (1968: 68) dalam buku Pengantar Antropologi Ekonomi mengatakan bahwa teori ekonomi yang berlaku universal hanyalah sedikit, karena dikembangkan berdasarkan fakta dan kerangka berfikir masyarakat dengan sistem ekonomi industrial kapitalistik.

            Hubungan antara ilmu ekonomi dan antropologi ekonomi sangat erat. Konsep dasar ekonomi adalah sumber daya yang banyak dan sesuai antara keinginan manusia yang dapat disadari dengan pengakuan bahwa alternatif-alternatif sangat memungkinkan pada setiap bidang. Namun didefinisikan, ekonomi berkaitan dengan implikasi-implikasi piihan manusia, dengan hasil keputusan-keputusan seperti halnya ekonomi yang mengkaji hubungan antara produksi dengan pertukaran dalam semua masyarakat.

            Dalam The Economy (dalam Sairin, dkk: 16) ada dua gagasan yang cukup penting. Pertama, pembedaan arti ekonomi menjadi dua yaitu arti formal dan arti subtansial. Arti formal adalah ekonomi seperti yang diterangkan para ahli ilmu ekonomi, ekonomi sebagai proses maksimisasi. Sedangkan arti subtansial adalah ekonomi sebagai upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup ditengah lingkungan alam dan lingkungan sosial. Yang kedua, sistem ekonomi pada masyarakat modern berbeda dengan masyarakat primitif atau masyarakat tradisional. Masyarakat modern hidup dengan sistem ekonomi pasar, gejala ekonomi tampil sebagai suatu institusi sosial yang berdiri sendiri, karena pasar memiliki potensi sistemik untuk mengatur dirinya sendiri. sebaliknya pada masyarakat primitif dan tradisional sistem ekonomi terjalin menyatu dengan institusi sosial lainnya, dengan sistem kekerabatan, dengan sistem religi dengan sistem politik lokal dan lainnya.

            Dalam arti subtantif setiap masyarakat modern tradisional maupun primittif pasti memiliki ekonomi. Namun tidak demikian bila ekonomi dalam arti formal yang diterapkan. Ekonomi formal hanya eksis pada masyarakat dengan sistem ekonomi pasar.

Spesialisasi Antropologi Ekonomi Pada Masyarakat Madura

            Sejarah nasional Indonesia menunjukkan bahwa dari semula perkembangan kebudayaan dan peradaban orang Madura menapaki lintasan yang sama seperti kebanyakan suku-suku bangsa Indonesia yang lain. Laju kemajuannyapun beranjak dengan kecepatan yang selaras dengan suku-suku bangsa disekitarnya, hanya saja faktor lingkungan yang kurang mendukung telah menyebabkan terjadinya perbedaan hasil yang dicapai. Masyarakat Madura sedang berjuang keras mencoba bertahan ditengah derasnya gejolak arus modernisasi oleh gencarnya invasi budaya dan peradaban barat, serta menggebunya upaya menyatukan pasar dunia melalui gerakan globalisasi.

            Terkait dengan antropologi ekomnomi masyarakat Madura bergantung pada bidang pertanian sebagai mata pencaharian yang dikerjakan bersama-sama oleh kaum pria dan wanita Madura seperti suku-suku bangsa Indonesia lainnya. Mereka bertanam padi di sawah tadah hujan atau sawah beririgasi yang umumnya diselingi dengan palawija dan jagung. Waktu terluang ketika proses bertani, mereka membuat barang-barang kerajinan seperti menganyam tikar, memintal tali, membuat gula siwalan atau menyabit rumput untuk ternak. Di musim kemarau, beberapa daerah tertentu menanam tembakau secara besar-besaran (sehingga lahannya mencapai 20% luas areal pertanaman tembakau seluruh Indonesia) untuk keperluan industri rokok kretek. Para petani yang sangat mengandalkan hujan, memaksa mereka untuk mencari mata pencaharian lain ketika musim kemarau seperti berternak sapi, menangkap ikan, dan pembuat garam, berdagang dan menjadi guru dipesantren.

            Sapi di Madura dimanfaatkan untuk membajak dan menarik pedati, diperjualbelikan sebagai sapi potong, dijadikan tabungan dan sarana rekreasi (karapan) serta status simbol (Smith 1989, Sudagung 1984/2001: 55). Akibat isolasi alam dan pengaruh lingkungan, sapi Madura (mamiliki darah banteng atau sapi Bali, sapi zebu, dan sapi Brahman serta sapi Jawa, dianggap sebagai trah atau ras asli Indonesia. Oleh karena itu sejak dulu, kemurnian trah itu dijaga dengan jalan melarang sapi lain masuk Madura. Di Pulau Sepudi, pengusaha sapi sangat umum terutama untuk menghasilkan anak sapi yang dipasarkan ke Sumenep. Orang Madura merupakan peternak yang fanatik sehingga sering dikatakan lebih sayang sapi dari pada anak istri.  Kesungguhan memelihara ternak sapi diperlihatkan pula oleh contoh kasus kesedian mereka untuk bersusah payah setiap hari naik feri menyebrang dari Kamal ke Surabaya hanya untuk menyabit rumput dimusim kemarau (Bakir dan Badil 2001). Selain sapi, peternak Madura mengusahakan kambing, domba berekor gemuk dan unggas.

            Menjadi nelayan merupakan mata pencaharian hidup terpenting orang Madura yang hidup di daerah pesisir. Kegiatan menagkap ikan di laut merupakan pekerjaan yang hanya dilakukan oleh kaum pria, yang menyerahkan hasil tangkapannya pada kaum wanita di pantai untuk ditangani dan diproses selanjutnya (Koesnoe 1976: 48, Jordaan 1985: 21). Hasil tangkapan nelayan Madura antara lain : ikan layang, kakap merah, teri, kembung, cakalang dan tengiri yang semua dijual segar, dipindang atau dikeringkan, dengan hasil samping berupa terasi dan petis. Industri perikanan merupakan kegiatan yang sangat padat karya sehingga tidak hanya melibatkan keluarga nelayan yang melaut. Hampir 25%, volume komoditas ikan yang diperjualbelikan dipusat pasar ikan kering nasional di Bogor konon dipasok oleh nelayan Madura.

            Angin pasat yang bertiup di pantai selatan Madura dari dulu menggalakkan pembuatan garam yang dikerjakan penduduk di musim kemarau. Keterkenalan Madura sebagai penghasil garam semakin dimapankan karena dulu diseluruh wilayah Hindia Belanda produksi di monopoli oleh pemerintah kolonial dan hanya boleh dibuat di Madura. Setelah monopoli pemerintah itu dicabut dijaman kemerdekaan bayak orang Madura yang menggantungkan hidupnya dari bertani garam.

Berdagang bagi orang Madura adalah penting, dikerjakan oleh pria dan wanita baik di Madura maupun dirantau. Mereka menjual hasil produksinya ke daerah lain dan mendatangkan komoditas yang tidak tersedia di Madura. Sebagai pedagang mereka terkenal ulet yang mau memperdagangkan apa saja seperti : sate Madura, soto Madura, bubur kacang hijau dan ketan hitam Madura yang tersebar luas di kota-kota Indonesia. Dalam dasawarsa terakhir, keuntungan yang diperoleh pedagang Madura dirantau dipakai untuk membuat rumah yang bagus dan mendirikan masjid yang indah.

Menjadi guru, terutama guru agama yang memiliki pesantren, merupakan pekerjaan yang sangat terpuji di mata orang Madura. Kedudukan seorang kyai haji sebagai guru agama jaun lebih terhormat dibandingkan dengan pejabat yang menguasai daerah serta pamong yang mengayomi rakyat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak juga kaum cerdik cendekiawan Madura yang merasa terpanggil untuk menjadi guru sekolah ataupun dosen di perguruan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil diangkat sebagai guru besar perguruan tinggi nasional bahkan dipercayai menjadi rektornya sekaligus.

Sebagaimana negara-negara berkembang lainnya, pemerintah Indonesia merupakan pemberi kerja terbesar sehingga banyak juga orang Madura yang memilih menjadi pegawai negeri, tentara ataupun polisi. Yang terbaik di antara mereka ada juga yang berhasil mencapai kedudukan, pangkat dan jabatan tertinggi yang dimungkinkan. Selain itu dalam beberapa dasawarsa terakhir banyak juga tenaga kerja Madura yang menjadi pekerja bangunan, industri rumah tangga dan di pabrik-pabrik dari yang paling sederhana sampai ke industri berbasis teknologi nuklir baik di dalam maupun di luar negeri.

Etos Kerja dan Hakekat Karya Masyarakat Madura

            Etos kerja orang Madura terhitung tinggi karena secara naluriah bagi mereka merupakan bagian daripada ibadahnya sesuai dengan ajaran islam yang dianut. Oleh orang Madura tidak ada pekerjaan yang bakal dianggapnya berat, kurang menguntungkan atau hina selama kegiatannya bukan tergolong maksiat. Kesempatan bisa bekerja bisa dianggapnya sebagai rahmat Tuhan sehingga pekerjaan merupakan panggilan hidup yang akan ditekuni sepenuh hati. Sebagai akibatnya orng Madura tidak takut kehilangan tanah atau hartanya akan tetapi mereka takut kehilangan pekerjaannya (Kuntowijoyo. 1980/2002: 592)

            Salah satu ciri orang Madura yang sangat mengesankan orang luar memang menyangkut kerajinan, kesungguhan serta kemauannya bekerja keras membanting tulang dalam mencari rezeki.

Daftar Pustaka

Ahmad Rifai, Mien. 2007. Manusia Madura. Yogyakarta: Pilar Media.

Bakir, M. & Badil, R. 2001. ‘Merumput’ Naik Feri, Enja’ Iya! Kompas, 23 Oktober 2001.

Bustami A. L. 1996. Sejarah, Etos, Masyarakat, dan Perilaku Sosial Orang Madura. Dalam Mahasin, A. et al. (penyunting). Ruh Islam dalam Budaya Bangsa. 2. Aneka Budaya di Jawa. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal: 323-356)

Damsar. 2002. Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sairin, Sjafri, dkk. 2002. Pengantar Antropologi Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s