Kemaharajaan Maritim Sriwijaya Di Perniagaan Dunia

IDENTITAS BUKU

Judul Buku      : Kemaharajaan Maritim Sriwijaya Di Perniagaan Dunia

Pengarang       : O.W Wolters

Tahun Terbit    : 2011

Penerbit           : Komunitas Bambu

Tebal Buku      : 361 halaman

RESUME BUKU

BAB 1

Beberapa Persoalan Tentang Sejarah Sriwijaya

Kajian ini menggambarkan latar belakang ekonomi masa kebangkitan Sriwijaya di Sumatra Tenggara pada pertengahan abad ke-7 . Sriwijaya berperan penting dalam perdagangan Asia pada zaman pertengahan, selama lebih dari 500 tahun. Hal yang menarik tentang kerajaan sriwijaya adalah kemunculan dan perkembangannya yang tiba-tiba. Pedagang cina I-tsing, merupakan orang pertama yang mencatat tentang kerajaan ini. Ia menceritakan pelayarannya pada 671 M dari kanton ke Palembang, tempat pemerintahan kerajaan Sriwijaya pada waktu itu. Dalam waktu 24 tahun ketika I Tsing berada di sebrang laut, kerajaan itu sudah menjadi sangat kuat. Pada tahun 775 M kerajaan ini sudah sangat kuat sehingga rajanya disebut “ Raja yang dipertuankan dari Sriwijaya, raja tertinggi diantara semua raja dimuka bumi.”

Kerajaan ini belum memiliki latarbelakang yang memuaskan untuk mengukur perubahan-perubahan yang terjadi selama dalam kegiatan dan kejayaan yang telah ditelan waktu itu. Ketiadaan kajian sejarah masalalu sriwijaya merupakan hambatan dalam menjelaskan sejarah indonesia secara terperinci, hanya tafsiran yang bersifat umum saja yang diungkapakan. Kajian tentang evolusi suatu kerajaan tidak mungkin bisa sempurna jika tidak diketahuibagaimana kerajaan itu pada mulanya berkembang. Disini barang kali letaknya alasan utama perlunya menghidupkan kembali sejarah kemunculan kerajaan sriwijaya.

Dengan sumber dan beberapa catatan i tsing menunjukan bahwa raja sriwujaya dipengaruhi agama budha mahayana. Sriwijaya juga jelas memiliki banyak kapal, pada tahun 672 M , I tsing berlayar dari sriwijaya ke India menggunakan kapal raja selain itu selama bertahun-tahun terjadi perkembangan politik yang luarbiasa.  Dalam prasasti kota kapur bertahun 686 M, disinggung juga soal peperangan yang akan dilakukan terhadap bhumi java yang belum tunduk terhadap sriwijaya.

Akhirnya terdapat dua bukti yang jelas, sekalipun terdapat masalah-masalah politik seperti yang tercatat dalam prasasti, pada pertengahan abad ke 8 kerajaan sriwijaya telah berhasil menjadi sebuah kerajaan yang besar. Dalam buku Hsin T’ang Shu dinyataakan bahwa “ srivijaya adalah sebuah kerajaan yang teerbagi menjadi dua, dan kedua kerajaan itu memiliki pemerintahan yang terpisah”. Kerajaan barat bernama Lang-p’ o-lu-ssu biasanya dipahami sebagai transkripsi dari Barus disebelah utara sumatra. Tahun terbentuknya kerajaan ini tidak diketahui pasti namun tidak lebih dari 742 M minimnya bukti menyebabkan minimnya informasi tentang kerajaan ini terutama informasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan sriwijaya maju, pengkaji biasanya menggunakan uraian krom tentang faktor pendukung di palembang, yaitu pelabuhan di sumatra tenggara, menguasai pelabuhan- pelabuhan lain dipantai itu juga diselat malaka.

Krom menyatakan letak geografis pelabuhan ini cocok sebagai tempat persinggahan dan pemugaran barang-barang.kelebihan ini digunakan oleh kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan yang terus berkembang antra cina dan india. Penjelasan krom ini hanya penjelasan umum saja secara khususnya, uraian itu menghindari beberapa persoalan uraian itu tidak menyikap tentang konten perdagangan yang dijalankan diperairan Nusantara bagian barat dan kegunaaan pelabuhan-pelabuhan itu. Yaitu apakah benar misalnya, pertukaran barng-barang asing lebihpenting pada abad ke-7 dibanding ekspor barang-barang lokal, dan bagaimanakah keadaanya pada abad-abad sebelumnya?  Lalu dimanakah pasar luarnegri yang menjadi pendorong perkembangan sriwijya awal? Apakah berada di nusantara, asia barat atau cina? Mungkinkah dapat diketahui dengan pasti kapal-kapal yang mengangkut muatan itu secara lebih tepat, khususnya sejauh mana peran kapal nusantara dalam pertumbuhan pelabuhan-pelabuhan tersebut? Dan yang terakhir mengapa palembang  mampu menjadi pangkalan untuk perluasan sriwijaya?

 

 

 

BAB II

Jalur Perdagangan Awal Di Asia Dan Asia Tenggara

Uraian pertama tentang sriwijaya dilakukan oleh profesor Coedes pada tahun 1918. Para sarjana sepakat dengannya bahwa kekuasaan dan kemakmuran sriwijaya disebabkan penguasaanya atas selat malaka. Yang merupakan jalur laut terkenal dalam sejarah perdagangan. Beberapa abad kemudian Raffles menemukan bahwa singapura yang terletak diselatan selat malaka adalah pelabuhan yang bagus posisinya karena dilalui jalur pelayaran antar bangsa dan juga mampu menarik “perdagangan pedalaman” asia tenggara.

Diduga kuat bahwa selat malaka yang memberikan pintu jalan ke nusantara dari india itu telah digunakan untuk tujuan tersebut pada abad pertama masehi, tetapi sayang sekali tidak ada sarana untuk mengetahui kapan kapan jalur tersebut mulai digunakan, orang India semestinya yang pertama dapat memberikan informasi tentang hal tersebut. Tetapi pemaparan mereka untuk hal ini kurang memuaskan. Bukti yang berupa puisi, epik, dan qanun budha tidak banyak membantu.

Daerah yang disebut dalam kitab mahanidesa yaitu sebuah komentar dalam Atthavagga yang menyebutkan daerah di timur jauh adalah Yavadipa atau jawa namun tidak diketahui kapan nama-nama tempat terdapat dalam mahanidesa itu untuk pertama kalinya digunakan dalam pelabuhan di india namun bila kesimpulan itu benar, brati teks tersebut merupakan terminus ante quem (kutipan sebelumnya) untuk penggunaan nama-nama tempat, selain itu sebuah teks yunani kuno periplous of the erytheran sea yang merupakan teks tertua yang menjelaskan perdagangan di teluk benggala teks ini didapat pada akhir abbad ke-1.

Dalam teks tersebut disebutkan pula Chryse yang biasanya diartikan sebaggai Asia tenggara atau bisa jiga semenanjung melayu, penulis periplus juga menggambarkan jalur sutera darat dari cina ke brygaza di india barat melalui bactria dan sungai gangga. Selain orang yunani dan roma orang cina juga memiliki kecakapan dalam menulis laporan perjalanan. Seperti bagian yang terkenal dalam Ch’ien Han Shu yang menjadi bukti kuat adanya hubungan laut masa lalu antra india dengan cina. Dalam buku ini disebutkan bahwa seorang utusan dikirim oleh han wu ti (141-87) ke Huang Chih namun bukti ini menjadi lemah karena lokasi huang chih tidak dapat dipastikan.

Oleh karena itu referensi cina awal juga tidak dapat lebih banyak membantu dibanding referensi dari india atau medeterania dalam menetapkan kapan selat malaka digunakan untuk kapal-kapal asing untuk pertama kalinya. Persoalan ini masi berupa argumen. Walau begitu ada kemungkinan bahwa pada abad ke-1 dan ke-2 kapal india kadang berlayar melalui selat malaka ke nusantara dari india selatan, juga dari sungai gangga dengan menyyusuri pantai burma.

Dari kesemuanya itu jika diteliti lagi pelayaran cina ke nusantra berlangsung lebih awal dibandingkan pelayaran india ke nusantara seperti dalaam periplus dan mahanidesa. Pelayaran nusantara- cina terjadi sebelum abad ke -5, dan sesudah abad ke -2. Situasi ini digambarkan oleh catatan Fa Hsien dan Gunavarman. Selain itu dalam perkembangan awal perdagangan di asia dan asia tenggra ada banyak nama tempat yang masi menjadi perdebatan letaknya seperti Tun-Sun dan Chu-Li.

BAB III

Sepintas Lalu Tentang Nusantara Bagian Barat Abad  Ke-3

Dalam karya Wan Chen disebutkan sebuah daerah bernama Ko ying yang dikatakan sebagai kerajaan di nusantara bagian barat, atau setidaknya berdekatan dengan selat malaka. Jadi informasi itu merupakan bukti nyata tentang perdagangan yang menggunakan selat malaka dalam pertenghan abad ke-3. Dalam bab ini juga disebutkan nama daerah yang masih menjadi perdebatan letaknya sampai sekarang seperti Ssu-t-‘iao yang secara fonologis merupakan srilanka namun juga pernah diartikan sebagai jawa kemudian ada Chu-Li yang kemungkinann letaknya di semenanjung melayu.

BAB IV

Perdagangan awal Nusantara Dengan India

            Ko-ying mengimpor kuda putih dari baratlaut india. Inilah satu-satunya bukti cina yang menceritakan perdagangan antara nusantara bagian barat dan india pada awal abad ke-3. Tidak diragukan lagi pada masa itu perdagangan tersebut sudah berlangsung satu abad dan tidak hanya menyangkut jual beli kuda.

            Daerah di india yang menjadi tempat asal datangnya para pedagang itu tidak diketahui begitu pula motifnya. Bebapa sarjana menjelaskan motif perdagangan orang india adalah mencari emas karena di penghujung abad sebelum masehi kedatngan orang barbar melintasi asia tengah menyebabkan orang india kehiilangan tambang emasnya di siberia.

            Menyangkut kerajaan dagang masa awal nusantara, pada kedatangan para pedagang india yang pertama di nuusantara tidak terdapat pengaruh budaya brahma. Sementra itu semakin berkembangnya pengetahuan tentang dunia luar dan peningkatan kesejahteraan, para pemerintah kerajaan mulai mengakui gunanya memperkuat lembaga pemerintah mereka dengan bantuan doktrin dari india.

Pada masa perdagangan awal, transaksi antara orang india dengan nusantara kemungkinan sudah dilakukan atas dasar kesamaan derajat. Masyarakat nusantra sudah mampu membuat logam dan menggunakanya sebagai alat tukar. Sementara barang dagangan yang di impor orang india dari nusantara adalah seperti kayu gahru dan cendana yang disebutkan dalam beberapa teks namun tidak terlalu terkenal, kemudian ada cengkih, lada dan pohhon kapur barus namun sangat sedikit sekali pembahasannya.

BAB V

Perkembangan Perdagangan Laut dari Abad ke- 4 Hingga Abad Ke-5

Munculnya hasil hutan nusantara tertentu di pasaran cina mungkin dimulai secara kecil- kecilan. Ini merupakan hasil penyesuaian diri dalam hubungan perdagangan yang dilakukan pedagang – pedagang timur dan asia abarat. Tujuannya adalah bertukar hal – hal yang berkaitan dengan politik yang telah lama terhubung melalui turki. Dalam abad ke 5 laut menjadi sarana perdagangan terpenting kecenderungan ini sudah terllihat dari abad ke-3 terutama bagi pasar cina selatan.

Perdagangan di sebutkan seperti ta – chin, roma timur dan timur tengah, yang pada dasarnya tersohor sebagai sumber barang – barang berharga. Kemudian bukti lain muncul yang melebihkan persia sassanid pada masa kejayaannya bukti tersebut terdapat dalam Hou Chou shu. Namun aneh sekali karena bukti tentang perdagangan persia sassanid sangat sedikit. Sekitar 400 M pelayaran Fa Hsien dan gunavarmanmenjadi bukti bahwa jalur perdagangan antara samudra hindia dengan China dilakukan melalui nusantara bagian barat. Seberapa luaskah perkembangan perdagangan persia yang digambarkan dalam Hou Chou Su melalui laut ke China ? seberapa jauhkah persia mempengaruhi kepesatan perdagangan lautdengan timur jauh ?

Terdapat beberapa teks china selatan  yang telah digunakan dalam kajian ini. Teks –teks tersebut mengajukan pendapat bahwa  pada abad ke – 5 atau awal abad ke – 6 jalur perdgangan laut sebenarnya di penuhi barang – barang dari persia. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa orang – orang Sassanid sejak berdirinya dinasti itu pada awal abad ke -3 berkedudukan kuat dalam menjalankan organisasai perdagngan antar benua antara China dengan Asia barat. Ini terjadi akibat pendudukan mereka atas bekas wilayah kushan yang mengelilingi pegunungan palmir.

Pada abad ke – 5 dan ke – 6, perdagangan laut telah berkembang pesat. Hal ini tidak dapat dianggap sebagai akibat beralihnya lalu lintas perdagangan dari jalur laut ke darat melainkan kepandaian orang – orang persia dalam mencari jalur laut ke China.

BAB VI

Teks – Teks Kuno

Teks – teks ini masih tersimpan dalam bentuk fragman – fragman Kuang chih karya Kuo I – kuang, Kuang Chou Chi karya Ku Wei, dan Nan Chou Chi karya Hsu Piao. Untuk kelancaran uraian, semua teks ini akan disebut sebagi teks – teks kuno dalam membahas persoalan po – ssu. Teks – teks tersebut sudah lama hilang, penulis – penulis pada masa setelahnya mengutip teks –teks tersebut, tetapi tidak ada yang yakin bahwa para penulis tersebut memiliki naskah – naskah tersebut.

Dalam hal ini tiga pertanyaan muncul, kapankah teks –teks tersebut ditulis ? kapankah itu hilang ? lalu apa jaminannya bahwa fragmen – fragmen dalam bentuk yang sekarang ini tidak mengalami penambahan ? lalu yang terpenting apakah po – ssu yang muncul dalam teks – teks itu memang ditulis penulisnya yang asli?

Teks yang paling tepat dapat ditetapkan tahun penulisannya adalah kuang chih. Kuo I – kung selamanya dianggap sebagi penulis buku ini. Kuang chih sendiri memberikan penjelasan yang bermanfaat pada persoalan po – ssu, teks ini dapat memberikan salah satu alasan kuat bahwa perdagangan barang – barang lokal po – ssu telah dilakukan sekurangnya pada awal abad ke – 6, namun demekian teks yang mengaitkan persoalan po – ssu secara pasti dengan abad ke – 6 adalah kuang chin.

Ada batas sepekulasi tentang waktu penulisan teks – teks tersebut, keadaan yang digambarkan pada teks – teks kuno teersebut setidaknya sekitar 50 tahun lebih awal dari 500 M. Tetapi teks – teks tersebut dapat dijadikan bukti yang potensial tentang keadaan pada sekitar 500 M. Namun barang kali edisi- edisi kuang chih masi bisa ditemui pada akhir abad ke – 10

Dalam bab sebelumnya di jelaskan bahwa po – ssu muncul Chiao Chou Chi ( catatan – tentang Tongking ) yang barang kali ditulis pada pertengahan pertama abad ke – 5. Utusan –utusan po – ssu dari persia Sassanid mengunjungi dinasti Liang selatan  pada tahun 530 – 535 M, dan pada 520 M orang Hephthalite mengirimkan kain borkat bersulam emas po – ssu kepada raja dinasti Liang wu Ti.

Dalam berbagai dasar ini lah penggunaan fragman – fragman ini dapat diteruskan. Penulisnya dapat dihubungkan dengan zaman yang tidak lebih awal dari permulaan abad ke – 6, dan tidak diragukan pula bahwa teks – teks kuno tersebut telah hilang pada abad ke – 10.

BAB VII

Getah Gaharu Dari Laut Selatan

Dua diantara teks-teks kuno itu mengatakan bahwa terdapat beberapa jenis hasil bumi yang disamakan oleh penulisnya dengan getah gaharu. Sementara itu teks ke tiga menyebutkan pula satu jenis getah yang juga disamakan dengannya pada abad ke – 7. Satu fragmen kuang chih menyebutkan hal itu. Lebih dari itu, kapur barus yang sudah dikenal orang cina setidaknya pada permulaan abad ke – 6 dalam tang pen ts’ao disamakan juga dengan getah gaharu.

Para penulis china memeiliki gambaran yang jelas tentanng getah gaharu ini, ketika meraka mengklasifikasikan getah gaharu Po- ssu itu. Bagi mereka, getah gahru adalah obat penghenti pendarahan, obat pengasapan, dan obat pembunuh kuman. Jadi jelas bahwa mereka menganggap getah – getah asing yang disebutkan pada permulaan bab ini memiliki keistimewan yang sama.

Selain getah gahru ada pula ju adalah nama dagang untuk mastic dan juga dammar kemenyan. Pelajar asing yang mempelajari obat – obatan china dan bekerja di china selama abad yang lalu terpaksa memusatkan perhatian pada analisis bahan – bhan percobaan yang di beli di kedai – kedai local untuk mengidentifikasi barang – barang yang mereka pelajari itu dalam istilah botani. Lantaran hal itu, mereka sering menjadi korban penjual yang mencari keuntungan.

 BAB VIII

GUGGULU DARI LAUT SELATAN

Bukti yang ada sekarang memperlihatkan bahwa pada sekitar 500 M kemenyan Nusantara bagian barat ( Styrax spp ) yang umumnya dinamakan damar atau getah kemenyan tersebut, tidak hanya dianggap sebagai pengganti mur ( Chommiphora mokul Engl ) di Cina selatan. Dalam bahasa Sanskrit mur ini dikenal sebagai bdellium. Pada masa tersebut mur mulai menggantikan kedudukan guggulu sebagai obat pengasapan yang bermutu tinggi. Kedua damar ini memiliki bau harum yang kuat, terutama bila dibakar, dan kedua-duanya dianggap sebagai bahan yang sesuai untuk pengasapan.Kalau transaksi perdagangan memang telah terjadi, perdgangan laut antara Asia Barat dan Can selatanlah yang memperkenalkan damar Indonesia kepada dunia perdagangan.Tidak seperti damar pinus, damar ini menjadi barang dagangan yang tetap dan berharga tidak hanya di Cina, tetapi juga di Asia barat dan Eropa, dan hal ini bertahan di masa selanjutnya.

Kemenyan pada mulanya pengganti mur bdellium adalah fragmen kuang chou chi dari Ku Wei, yang masih tersimpan dalam kutipan Li Hsun dan dimasukkan dalam Cheng lei pen ts’ao karya T”sao karya T”ang Shen-Wei edisi tahun 1249. Fragmen ini tidak terdapat dalam teks yang lain, dan bagian yang pararel dengannya, yang dikutip dalam Pen ts”ao kang mu,membatah anggapan bahwa fragmen tersebut dikutip dari Kuang chou chi. Bagian Cheng lei pen ts”ao itu membicarakan tentang wewangian An-his. Beberapa kajian dapat dilakukan pada bagian ini. Pertama, identifikasi kuno terhadap wewangian An-his terdapat dalam bentuk guggulu, kata Sanskrit untuk mur bdellium dari India barat laut dan pantai Makran di Persia Selatan. Sutera emas terjemahan I Tsing menyatakan bahwa wewangian An-his adalah chu-chu-la, sebuah transkripsi untuk guggula atau guggulu. Namun, wewangian An-his akhirnya berarti getah kemenyan bukan lainnya. Walaupun belum ditetapkan kapan orang Cina mulai menggunakan nama guggulu untuk getah pohon Styrax.

Kemudian, tercatatnya kata-kata laut selatan dengan Po-ssu dalam Fragmen Kuang chou chi tersebut tidak dapat diabaikan. Ini bukanlah satu-satunya catatan tentang kata-kata itu,karena ini muncul juga dalam fragmen Kuang chih tentang ju yang disebarluaskan kembali oleh Li Hsun. Laut selatan dalam kaitannya dengan ju mungkin merujuk pada Sumatera utara, dan memang Sumatera utaralah yang telah menghasilkan jenis kemenyan Indonesia yang paling terkenal. Tidak ada penjelasan dalam fragmen kuang chou chi yang dianggap dapat memuaskan,karena fragmen-fragmen tersebut tidak menyinggung persoalan yang berhubungan dengan laut selatan. Jadi secara umum fragmen Kuang chou chi merujuk pada guggulu atau mur bdellium yang tumbuh di laut selatan, yaitu mungkin di suatu tempat di Asia Tenggara,dan kemungkinan dinamakan getah pohon Persia. Namun, penjelasan fragmen ini tidak dapat diterima jika getah tersebut diperkirakan adalah guggulu, karena Commiphora tidak tumbuh di Asia Tenggara. Secara alternatif penjelasan yang mungkin adalah kemenyan sudah dikenal sebagai wewangian An-his pada sekitar 500 M,sekalipun tidak dijelaskan kenapa wewangian tersebut dianggap sebagai getah Persia.

Wewangian An-his yang berarti guggulu-bdellium tidak tumbuh di Indonesia. Ini merupakan salah satu getah pohon Commiphora yang menghasilkan mur yang terkadang dikenal sebagai keluarga  Balsamodendron. Tanaman ini tumbuh di Asia Barat dan Afrika timur, sedangkan jenis Boswellia menghasilkan luban.Tanaman diJumpai di Arab selatan dan Somalia, dan juga di daerah-daerah kering dan berbatu di Baluchistan, dan di India utara dan di India Tengah.Mur Commiphora mukul agak terkenal khususnya pada zaman dahulu. Tanaman ini tumbuh di Arab dan Afrika timur.Tetapi yang paling menarik adalah jenis dari India baratlaut,yang disebut oleh Pliny sebagai bdellium yang paling berharga dari Bactria. S. benzoin tumbuh di Sumatera utara dan di bukit-bukit di belakang Palembang dan terkadang terdapat juga di ujung barat Jawa. Kedua jenis pohon tersebut tumbuh liar.Sekalipun bdellium dan kemenyan tersebut hasil dari pohon yang berbeda,tetapi keduanya memiliki kesamaan. Getah kedua pohon ini baunya kuat, dank arena itulah keduanya terkenal.Wewangian An-his dalam sebuah buku lama tentang bagaimana mencampur wewangian untuk menghasilkan bau yang maksimal.

 

 

 

 

 

 

BAB IX

PERDAGANGAN “PERSIA”

Sejauh yang diketahuai oleh penulis Kuang chou  dan Nan Chou chi,hasil-hasil bumi Po-ssu biasanya tidak berhubungan dengan Nusantara atau dengan wilayahlain di Asia Tenggara. Sebaliknya, Po-ssu digunakan untuk menjelaskan hasil-hasil Asia Barat. Walaupun Kuang Chih tidak menyebutkan tentang hasil bumi Po-ssu kecuali ju laut selatan,kita dapat berkesimpulan bahwa penulisan memahami istilah itu sebaimana pemahaman penulis kedua teks kuno lainnya. Kedua jenis getah Po-ssu dari laut selatan itu mungkin statusnya tidak ada dalam katalog hasil bumi Po-ssu,seperti yang disebut dalam teks-teks kuno. Bagi Ku Wei, penulis Kuang chou chi,Po-ssu adalah nama negeri yang menghasilkan jintan , sejenis tumbuhan yang hanya terdapat di Persia. Pohon ini tumbuh di Cina dan Korea.

Teks yang sama juga menyinggung tentang pohon elm busuk. Teks yang sama juga menyebutkan tentang hasil bumi Po-ssu yang lain, yaitu suatu barang galian yang dianggap Laufer sebagai barang pengganti dari Asia tenggara untuk hasil Asia Barat. Ku Wei jelas mendengar pohon itu tumbuh di Timur Tengah ( Ta-ch’in ) dan juga dikenal sebagai elm busuk Po-ssu. Maksud pernyataannya tersebut adalah itu adalah pohon yang berhubungan dengan orang Persia. Teks yang sama juga menyebutkan tentang hasil bumi Po-ssu yang lain,yaitu suatu barang galian yang dianggap laufer sebagai barang pengganti dari Asia Tenggara untuk hasil Asia Barat. Oleh karena itulah barang itu menjadi bukti adanya negeri di Asia Tenggara yang dikenal sebagai Po-Tawas. Tawas putih Po-ssu Kuang chou chi menyatakan bahwa itu datang dari negeri Ta-ch’in, warnanya putih dan terang, Tawas benang emas. Kuang chou chi menyatakan bahwa itu berasal dari negeri Po-ssu,jika ada garis-garis dengan benang emas,itu artinya bermutu tinggi.

Laufer menganggap tawas “benang emas” Po-ssu tersebut adalah tawas tidak asli yang dating dari Asia tenggara, sekalipun dalam referensi-referensi pen ts”ao tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa tawas adalah bahan bermutu rendah. Tawas tidak ditemukan di Persia, tetapi Laufer mengemukakan bahwa tawas terdapat didataran tinggi Burma, dan disinilah menurut pendapatnya tempat asal tawas ‘benang emas”. Namun, Pliny menyebutkan beberapa sumber tawas di Eropa, Mesir, Armenia, dan Afrika. Sirih ( Piper betle Linn ) amat cocok dengan iklim lembab dan tumbuh subur di Asia Tdan tumbuh subur di Asia Tenggara. Tanaman ini bukan tumbuhan Persia.Meskipun bukti tentang ‘sirih” Po-ssu itu samar-samar, itu tidak bertentangan dengan kesimpulan bahwa Ku Wei memang memahami Po-ssu sebagai “Persia” di Asia Barat. Hsu Piao menyebutkan obat mo dari Po-ssu,atau mur, dan juga t” Po-ssu itu samar-samar, itu tidak bertentangan dengan kesimpulan bahwa Ku Wei memang memahami Po-ssu sebagai “Persia” di Asia Barat. Hsu Piao menyebutkan obat mo dari Po-ssu,atau mur, dan juga tumbuhan Po-ssu lain, yang di kenal di negeri Persia. Tumbuhan itu adalah kekeras pistachio ( seperti kacang kenari hijau ).

Pada satu bagian Cheng lei pen ts”sao yang membicarakan obat-obatan yang disebut dalam Hai yao chi karya Hsu Piao ( pohon tak bernama ) itu tumbuh di pegunungan dan kawasan lembah Kuang-nan 9negeri Cina selatan ), buahnya dinamakan buah tidak bernama.Orang Po-ssu a-yeuh-hun,bentuknya seperti kacang Hazel.Kacang a-yueh-hun adalah kacang kenari hijau, yang menurut Ch’en Ts’ang-ch’I pada awal abad ke-8 berasal dari negeri Barat.Tiga jenis Pistacia berasal dari Persia dan tumbuh di Sogdia dan khorasan.Theophrastus mengenal kacang kenari hijau Bactria dan sebuah teks dari abad ke-1 SM merujuk pada orang-orang Persia yang memakan kacang butun ini.Itu adalah buah Persia yang terkenal, dan ‘Persia” yang dimaksudkan Hsu Piao adalah Po-ssu.Satu lagi penjelasan tentang nama Po-ssu itu oleh Hsu Piao adalah merujuk pada pohon kacang mete( marking nut ). Hai yao  menyatakan : Hsu menyatakan bahwa pohon itu tumbuh di negeri Po-ssu di laut barat. Pohon itu seperti pohon Liu Cina.Dalam kutipan ini “laut Barat’ berarti Persia.

Kacang mete ( Semecarpus anacardium ) adalah pohon kecil yang tumbuh di India utara dan sudah agak tersebar ke bagian timur. Wilayah India utara dan sudah agak tersebar ke bagian timur. Wilayah India utara sedang berada dalam kekuasaan orang Sassanid ketika Nan Chou chi ditulis,karena itu tidak mungkin Hsu Piao merujuk hal selain Persia ketika ia menyebut tentang kacang mete itu. Pada tahun 1919,Laefur mengatakan bahwa ia tidak menemukan bukti yang menjelaskan bahwa Po-ssu digunakan untuk menggambarkan barang-barang India dan Sinhala .

Contoh yang paling jelas ada pada perdagangan lada. Sekalipun Hou Chou shu menyebut lada hitam dan lada putih, yaitu tanaman India yang terkenal di samping hasil bumi Persia,teks-teks kuno tidak pernah menggambarkan lada sebagai hasil bumi Po-ssu, Nan chou chi hanya menyatakan bahwa lada hitam tumbuh di beberapa negeri di laut selatan dan lada panjang  dihasilkan di laut selatan.

 Pucuk,atau akar costus ( Saussurea DC ) adalah sejenis tanaman lain yang dikaitkan dengan India zaman dulu,tetapi tidak pernah dianggap sebagai hasil bumi Po-ssu . Pucuk yang asli tumbuh di Kashmir,yang merupakan tumbuhan pada zaman Sassanid. Ada dua tumbuhan Sassanid lain yang juga akan dinamakan orang sebagai Po-ssu dalam teks-teks kuno. Tumbuhan lain yang tumbuh di Persia Zaman Sassanid tetapi tidak disebut sebagai Po-ssu adalah asafetida atau a-wei ( Ferula Linn ) yang oleh I Tsing dikatakan banyak sekali terdapat di perbatasan India.

 

BAB X

PENGIRIMAN BARANG PERSIA

Para sarjana menyakini bahwa Po-ssu tak lain adalah Persia,referensi-referensi tentang Po-ssu di Asia Tenggara menunjukkan adanya kegiatan pelayaran Persia di sana dan mungkin menunjukkan terdapat posisi dagang orang Persia. Bretschneider pada 1817 menjadi sumber pendapat ini dalam ulasannya tentang sebuah pernyataan dalam Sung shih yang menyatakan bahwa hasil perdagangan Ta-shih, yaitu negeri arab, dibawa ke San-fo-ch’I atau Sumatera. Ia merasa perlu menambhkan bahwa sudah pasti orang Arab dan juga orang Persia berdagang dengan Sumatera Selama abad abad pertengahan, dan barangkali memiliki tanah-tanah jajahan disana. Oleh karena itu, ia dapat menjelaskan mengapa Tung his yang k’ao dari abad pertengahan, dan barangkali memiliki tanah-tanah jajahan disana.

Bretschneider yang begitu mengenal literatur pen ts’ao tidak ragu bahwa Po-ssu berarti Persia dan pada tahun 1895 ia menyebut ju dan wewangian An-his sebagai hasil bumi Persia. Dengan mengutip Tung hsi yang k’ao,Philips mengemukakan bahwa Po-ssu mungkin adalah pasai yang letaknya jauh dari pantai utara Sumatera. Teori ini mendapat dukungan pada tahun 1899 ketika Tsuboi Kumazo menemukan sebuah teks Jepang dari permulaan abad ke-12.Ia memberikan pelafalan angka dalam bahasa Po-ssu yang ternyata sangat mirip sekali dengan pelafalan angka dalam bahasa melayu. Dalam pernyataan ini Kumazo menduga bahwa Po-ssu berarti “pasai”. Pada tahun 1909 Gerini yang sangat berminat mengindentifikasi dengan pasti nama-nama tempat di Asia Tenggara dari transkripsi Cina mengubah teori Pasai itu agar dapat menyamakan Po-ssu dengan Lambesi,yaitu sebuah kampong dekat Aceh.

Laufer mengecam pendapat Bretschneider dan Hirth tentang penyamaan Po-ssu sebagai sebagai Persia, dan ia menekankan bahwa  kenyataanya yang dinamakan hasil Po-ssu itu seringkali berasal dari Asia Tenggara. Ia meningkatkan jumlah nama hasil bumi itu dengan mengutip Yu yang tsa tsu, sebuah teks pada masa T’ang dan dengan sambil lalu ia telah menuliskan beberapa referensi dalam teks-teks kuno sebagai bukti bahwa Po-ssu sudah dikenal pada zaman dulu,ketika ia tidk dikenal sebagai Persia. Kritikan utama terhadap Laufer adalah promosinya atas Li Hsun sebagai orang yang berwibawa tentang persoalan Po-ssu,dan ini merugikan para penulis  teks-teks kuno.

 

BAB XI

KERAJAAN-KERAJAAN TAKLUKAN DI NUSANTARA BAGIAN BARAT MASA AWAL

Pada abad ke-5 dan abad ke-6 ada dua kerajaan yang ingin mempertahankan atau mengembangkan perdagangannya dengan Cina. Salahsatu di antaranya adalah Ho-lo-tan yang sudah di singgung sebelumnya. Lalu yang lainnya bernama Kan-t’o-li. Kerajaan ini pertama kali disebut pada 430 M, dan yang kedua pada 441 M. pada abad yang sama,empat kerajaan yang lain disebut juga. Kerajaan-kerajaan  itu adalah P’o-ta, P’o-huang, P’o-li, dan Tan-tan. Keenam kerajaan jajahan ini,kecuali kerajaan Tan-tan,umunya dianggap berada di Nusantara. Abad ke- 5 juga menjadi saksi Dinasti Liu Sung dan abad ke-6. Dinasti Liang sebagai dua kerajaan dengan perdagangan maritim yang baik. Kedua abad itu juga dianggap dianggap masa perkembangan penting di nusantara.

Bukti yang paling jelas tentang P’o-li dan Tan-tan diberikan oleh pengembara pada abad ke-7 yaitu I Tsing, yang tinggal beberapa tahun di Sriwijaya dan Sumatera. Ia mengetahui daerah itu melalui pengalamannya sendiri. Bukti tentang Po-ta, P’o-huang dan Kan-t’o-li sangat sedikit; tidak ada penjelasan geografis yang diberikan pada ketiga tempat ini untuk membantu menentukan letaknya. Dari catatan yang masih ada ada, P’o-ta dan P’o-hutang adalah kerajaan-kerajaan yang pendek umurnya;semua informasi tentangnya tidak banyak membantu dalam merekontruksi sejarah abad-abad itu. P’o-ta hanya mengirimkan utusan pada 449 M dan 451 M. Mungkin ini kerajaan yang disebut dalam Liu Sung shu sebagai She-p”o-p’o-ta yang mengirimkan utusan pada 435 M.

Dalam Nan shih,She –p’o-p’o-ta,yang mengirimkan utusan pada 435 M.Dalam Nan shih, She-p’o-p’o-ta itu di tulis sebagai She-p’o-ta. P’o-ta adalah singkatan lain untuk nama tempat itu;nama sebenarnya yang dikenal orang Cina mungkin She-p’o-ta. Pemerintah P’o-ta di akui sebagai raja oleh raja Cina pada 449 M.P’o-huang mungkin  berarti ‘bawang’. Dalam T’ai p’ing huang yu chi disinggung sebuah kerajaan bernama Chin-li-p’i-shih yang dikenal pada abad ke-7 menyebutkan nama tempat To-lang-p’o-huang, yang menurut pendapat Ferrand berarti “Tulang Bawang” di pantai tenggara Sumatera dan di selatan sungai Palembang. Disisi lain, Bawang adalah nama tempat Indonesia yang umum dipakai.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s