Muslim Tionghoa Cheng Ho Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara

Judul Buku                :          Muslim Tionghoa Cheng Ho

                                                Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara        

Pengarang                   :          Prof. Kong Yuanzhi

Jumlah Halaman       :           xliv + 299 Halaman

Jumlah Bab                :          V Bab

Penerbit                      :         Pustaka Populer Obor, Jakarta

Tahun                         :            2007

 

 

Bagian I:

Mengembalikan Sejarah yang Tenggelam

 

1

CHENG HO (SAM PO KONG) BAHARIWAN BESAR DI DUNIA

Cheng Ho (1371 -1433) adalah bahariawan besar bukan hanya di dalam sejarah pelayaran Tiongkok, tetapi juga di sepanjang sejarah pelayaran dunia. Selama 28 tahun (1405-1433) ia memimpin armada raksasa untuk mengunjungi lebih dari 30 negara dan kawasan yang terletak di Asia Tenggara, Samudra Hindia, Laut Merah, Afrika Timur, dan lain-lain.

  1. Perbandingan dengan Bahariawan- Bahariawan Eropa

Bila dilihat dari waktu, pelayaran Cheng Ho ke ‘Samudra Barat jauh lebih awal daripada pelayaran bahariawan-bahariawan Eropa seperti Christoforus Colombus (± 1451-1506), Vasco da Gama (± 1460-1524) dan Ferdinand Magellan (± 1480-1521). Ini berarti 87 tahun lebih awal dari pelayaran Colombus yang sampai di benua Amerika pada tahun 1492, atau 92 tahun lebih dahulu dari pelayaran Gama yang sampai di Calicut, India pada tahun 1497 atau 114 tahun lebih dahulu dari pelayaran Magellan yang memulai mengelilingi bumi sejak tahun 1519. Dalam pelayaran pertama Cheng Ho terdapat kapal besar 62 buah dan awak kapalnya lebih dari 27.800 orang. Dalam pelayaran yang ketiga terdapat 48 buah kapal dengan awak kapal 27.000 orang lebih. Dalam pelayarannya yang ke-7 kapal besarnya 61 buah kapal dan awak kapalnya 27.550 orang. Armada Cheng Ho terdiri atas berbagai jenis kapal misalnya kapal pusaka sebagai kapal induk, ‘kapal kuda’ yang mengangkut barang-barang, kuda dan lain-lain, kapal penempur, kapal pembawa bahan makanan dan ‘kapal duduk’ sebagai kapal komando selain itu terdapat kapal-kapal pembantu.

Sedangkan armada Portugis yang dipimpin Vasco da Gama ke India hanya terdiri ats 4 buah kapal cepat, armada-armada orang Eropa sangat kecil jika dibandingkan dengan armada Cheng Ho. Selain itu, susunan armada Cheng Ho pun luar biasa teraturnya, terdiri dari  4 bagian, yaitu bagian komando, bagian teknik navigasi, bagian kemiliteran dan bagian logistic.

  1. Perbandingan antara Cheng Ho dengan Beberapa Bahariawan Eropa dalam Pelayaran Pertama

Banyak pendapat-pendapat yang berbeda mengenai kapasitas kapal Cheng Ho. Mulai dari para sarjana Eropa, Ensiklopedi Amerika, Diplomat Inggris, sampai sarjana Belanda banyak menerjemahkan karya-karya mengenai pelayaran yang dilakukan Cheng Ho. Seiring dengan penemuan-penemuan baru benda peninggalan sejarah mengenai Cheng Ho sekitar tahun 1930-an studi tersebut menjadi lebih mendalam baik di Tiongkok maupun di luar negeri.

Dalam buku Sejarah Teknik Ilmu Pengetahuan Cina, oleh J Needham ditunjukan bahwa Dinasti Ming merupakan suatu masa eksplorasi maritime yang paling jaya dalam sejarah Tiongkok.  Tujuan pelayarannya ingin memperlihatkan kepada semua negara lain, termasuk negara-negara jauh dari dunia yang diketahuinya bahwa Tiongkok adalah suatu negara kuat baik di bidang politik maupun di bidang kebudayaan. Mengenai hubungan antara pelayaran Cheng Ho dengan Asia Tenggara Wang Gungwu, sarjana Australia keturunan Tionghoa pernah menulis beberapa karya yang bernilai. Dalam membicarakan jasa-jasa bahariawan Eropa dalam sejarah pelayaran dunia, perlu dicatat bahwa selama tahun 1492-1504 Columbus telah berlayar sebanyak 4 kali, masing-masing dimulainya pada tahun 1492, 1493 dan 1502, adapula Vasco da Gama dan Magellan.

  1. Maksud Pelayaran ke Samudra Barat (Hindia)

Perlu menganalisa terlebih dahulu politik diplomatic kerajaan Ming untuk mengetahui masksud Kaisar Zhu Di mengutus Cheng Ho berlayar ke Samudra Hindia. Pertama dijalankan politik kerukunan dan persahabatan dengan negara-negara asing. Kedua, penduduk sepanjang pantai Tiongkok dilarang merantau ke luar negeri tanpa mendapat izin, maksudnya  agar perompak-perompak Jepang yang sering mengganggu keamanan pantai Tiongkok menjadi terpencil. Ketiga, mendorong perniagaan antara Tiongkok dengan negara-negara asing. Berdasarkan politik luar negeri tersebut Kaisar Zhu Di mengutus Cheng Ho untuk memimpin pelayaran ke Samudra Barat, maksudnya tak lain untuk mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, meyebarluaskan pengaruh politiknya di Asia-Afrika dan sekaligus mendorong maju perniagaan antara Tiongkok dengan negara-negara. Sudah jelas bahwa pelayaran Cheng Ho bukan bermaksud untuk ekspansi atau agresi. Berbeda dengan bahariawan Eropa yang terkenal, yang sebenarnya sebagai perintis jalan untuk usaha kolonialisasi negerinya.

Mengingat sering munculnya bajak laut dalam perjalannya maka armada Cheng ho dilengkapi degan kapal penempur dan awak kapal yang bersenjata. Dihancurkannya Tan Tjo Gi , bajak laut Palembang oleh armada Cheng Ho merupakan salah satu cara armada Cheng Ho untuk membela diri. Tujuh kali pelayaran Cheng Ho pernah disebut sebagai ‘ekspedisi Cheng Ho ke Barat atau ekspedisi Cheng Ho ke Laut Selatan dan lain-lainnya. Dalam menyelesaikan tugasnya, Cheng Ho bukan tidak pernah menggunakan kekuatan kekerasan. Namun  tindakan militer  yang diambil Cheng Ho hanya bermaksud untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi kegiatanperniagaan. Tujuan utamanya tak lain dari suksesnya usaha perdagangan.

  1. Latar Belakang Pelayaran Cheng Ho

Syarat pertama ialah kesatuan dan kekuatan Dinasti Ming, Dinasti Ming didirikan pada tahun 1368. Sampai awal abad ke -15, Tiongkok bukan hanya sudah disatukan tetapi juga telah menjadi suatu negara yang amat kuat. Di pihak lain Kerajaan Ming membutuhkan wangi-wangian, rempah-rempah, zat pewarna, manik-manik, ratn mutu manikam. Perdagangan dengan luar negeri baru mungkin dilakukan berdasarkan perekonomian Kerajaan Ming yang cukup kuat dan pelayaran Cheng Ho pun mendapat dasar material yang baik.

Syarat kedua ialah terjalinnya hubungan erat antara Tiongkok dengan negara-negara Asia Afrika dalam jangka waktu lama. Perniagaan antara Tiongkok dengan negara-negara itu semakin banyak, baik di tingkat pemerintah maupun di kalangan para pedagang. Semuanya itu telah menyediakan banyak pengalaman dan awak kapal kawakan yang amat berguna untuk pelayaran Cheng Ho ke Samudra Barat.

Syarat ketiga ialah kepandaian membuat kapal pada masa itu sudah amat maju. Sejak Dinasti Yuan (1206-1368M) yang kemudian diganti oleh Dinasti Ming, kepandaian membuat kapal dan pelayaran di Tiongkok sudah cukup tinggi, antara lain sudah dapat dibuat kapal yang terdiri atas 50-60 kabin dan mampu membawa lebih dari 1000 penumpang dalam pelayaran jauh. Jangkarnya begitu besar dan berat sehingga diperlukan 200-300 orang bila  hendak mengangkatnya. Di kapalnya tersedia pula peta laut dan kompas, disamping buku yang berisi pengalaman pelayaran awak kapal Tiongkok ke luar negeri pada masa silam, misalnya Dao Yi Zhi Lue.(Catatan tentang pulau-pulau di luar negeri) yang ditulis oleh Wang Dayuan pada tahun 1349.

Bagian II:

Cheng Ho di Indonesia-Apa dan Siapa

2

RIWAYAT CHENG HO

Sebagai seorang bahariawan dan laksamana besar, Cheng Ho kurang diperhatikan oleh para sejarawan pada dinasti feodal di Tiongkok. Berkurangnya catatan mengenai moyang Cheng Ho daam literature-literatur sejarah sedikit banyak dapat diatasi dengan catatan silsilah Cheng Ho atau marga Cheng Ho. Pada tahun 1913, oleh Yuan Jiagu ditemukan dan dibahas Nisan Ma Hazhi, ayah Cheng Ho di Kunyang, Propinsi Yunnan. Pada tahun 1980 oleh Li Shihou ditemukan pua Zheng Shi Jia Pu Shou Xu di Nanjing dan Sai Dian Chi Jia Pu di Waisan Propinsi Yunnan. Cheng Ho adalah keturunan ke 37 Nabi Muhammad saw, demikian menurut beberapa sarjana, antara lain Li Shihou dari Tiongkok dan Usman Effendy dari Indonesia. Ahli sejarah bernama Prof. Haji Lie Shihou dalam literaturnya menemukan bukti bahwa moyang yang ke-11 dari Cheng Ho adalah utusan (duta besar) negeri Bokhari (Arab Saudi) yang bernama Sayidina Syafii dan Syafii ini adalah keturunan Rasulullah. Kebanyakan nama moyang Cheng Ho yang terdapat di Mukadimah tersebut asalnya dari bahasa Arab/ Persia. Dalam Mukadimah itu tercatat pula bahwa Sayidin semula adalah Kaisar Kerajaan Bokhari yang terletak di sebelah barat Tiongkok, karena kerajaanya diserang oleh negara tetangganya, Syadina Syafii mengungsi ke Tiongkok bersama dengan pengiringnya lebih dari 5000 orang. Berkat jasa-jasanya keturunan Syafii pun diangkat sebagai pejabat teras di berbagai dinasti Tiongkok. Di samping Mukadimah Silsilah Marga  Cheng dan silsilah Sayid Ajall/ Sayidina Syamsuddin, diajukan pula oleh Li Shihou beberapa literature sejarah lainnya membuktikan bahwa Cheng Ho  adaah keturunan Nabi Muhammad Saw. Namun berdasarkan hasil studi beberap sejarawan tersebut ternyata bahwa Cheng Ho adaah keturunan Syafii. Syafii dan beberapa keturunannya ternyata memeluk Islam dan berkedudukan tinggi. Khususnya Sayidina Syamsuddin yang amat dihormati Kaisar Tiongkok dan dicintai oelh rakyat setempat. Semua itu tidak mungkin tidak memberipengaruh baik kepada Cheng Ho. Sebab itu penemuan dan pembahasan atas silsilah Cheng Ho dapat membantu kita untuk mengenal Cheng Ho dari pengaruh keluarga dan moyangnya.

  1. Cheng Ho Keturunan Nabi Muhammad Saw?

Dalam sejarah negara-negara Islam Arab, khususnya sejarah perkembangan Islam, penulis berpendapat bahwa:

Pertama, masalah Cheng Ho ketururnan Nabi Muhammad Saw harus diselidiki dengan cermat dan sungguh-sungguh mengingat Nabi Muhammad Saw sebagai Rasulullah amat dijunjung tinggi oleh segenap umat Islam.

Kedua, adanya argument-argumen yang bertentangan dengan pendapat Li Shihou tersebut antara lain: Yu Ke dalam bukunya Tiga Agama Besar di Dunia dan Aliran-alirannya. Menurut silsilah Sayid Ajall/Sayidina Syamsudin, Cheng Ho adalah keturunan Hou-Sai-Ni dan Hou Sai Ni tak lain adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Disini Hou-Sai-Ni dalam bahasa Mandarin mengacu pada Husain dan bukan mengacu pada Hasan, putra sulung Ali. Mana mungkin Cheng Ho yang hidup antara abad ke-14 sampai abad ke-15 menjadi salah satu dari keturunan Husain. Masalah pelayaran Chneg Ho ke Samudra Barat dibicarakan pula oleh Haji Bai Shouyi daam karyanya Ikhitas Sejarah Islam Tiongkok yang membenarkan bahwa Cheng Ho adalah muslim, namun dengan tidak mengabaikan nilai ilmiah dari tulisan Li Shihou tersebut, penuis berpendapat bahwa sampai saat ini belum dapat diterima pandangan Li Shihou yang mengatakan bahwa Cheng Ho keturunan Nabi Muhammad saw.

  1. Pengalaman Hidup Cheng Ho

Cheng Ho berasala dari bangsa Hui, saah satu bangsa minoritas Tionghoa. Ketika itu keluarganya berpindah ke Tiongkok Barat Daya dan menetap di Propinsi Yunnan. Kakek dan ayah Cheng Ho telah melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu menunaikan ibadah Haji. Pada tahun Yong Le ke-3 (1405 M ) sebelum mengadakan pelayaran-pelayaran pertama ke Samudra Barat Cheng Ho meminta sarjana Li Zhigang membuat suatu tulisan untuk nisan ayahnya. Di dalam nisan itu betuliskan bahwa ayah Cheng Ho tegap, gagah, sifatnya jujur dan pemurah. Ia sering menolong orang miskin dan disegani oelh penduduk kampung. Sedangkan ibunya juga ramah tamah dan berbudi baik.

Pada saat Cheng Ho berumur 12 tahun, Provinsi Yunnan sudah direbut oleh tentara Dinasti Ming yang mengganti Yuan (1206-1368). Cheng Ho dibawa ke Nanjing sebagai kasim atau sida-sida intern di istana. Cheng Ho memanfaatkan  segala fasilitas yang ada untuk banyak membaca dan ikut bertempur, kemudian Cheng Ho dianugrahkan nama marga oleh kaisar karena jasanya yang besar. Kemudian Cheng Ho sebagai kepala kasim intern tugasnya membangun istana, menyediakan aat-alat istana, mengurus gudang es dan lain-lainnya. Akhirnya Cheng Ho dipilih sebagai laksamana untuk memimpin pelayaran ke Samudra Barat.

  1. Asal Usul Nama Sam Po

Cheng Ho mempunyai nama alias Sam Po ( Sam Poo atau San Po) dalam dialek Fujian atau San Bo dalam bahasa nasional Tiongkok(mandarin). San bermakna ‘tiga’ sedangkan ‘Bao’ mempunyai dua bentuk huruf Mandarin yang masing-masing bermakna pelindung dan pusaka. Cheng Ho diberi nama aliasnya sebagai San Bao berhubung dia anak nomor 3, dengan sendirinya kedua kakaknya masing-masing akan diberi nama alias sebagai Da Bao (pertama) dan Er Bao (Bao kedua). Mengenai pandangan yang mengatakan bahwa San Bao ditujukan kepada Chneg Ho, Wang Jinghong dan Hou Xian ini rasanya tak sesuai dengan catatan dalam banyak litaratur dimana Sab Bao hanya ditujukan kepada Cheng Ho. Adapun Sam Po Toa Lang, kata-kata itu berasal dari dialek Fujian dan adalah San Bao Da Re dalam bahasa nasional Tiongkok yang bermakna ‘ Tuan Besar San Bao’. Ini merupakan kehormatan besar bagi Cheng Ho.

3

CHENG HO MUSLIM YANG TAAT

Sebagai seorang muslim yang taat, Cheng Ho juga menghormati kegiatan-kegiatan agama Budha dan agama Tao.

  1. Cheng Ho dan Agama Islam

Menurut catatan sejarah, Cheng Ho adalah muslim yang taat, ia giat menyebarkan agama Islam baik di Tiongkok Maupun di  negara-negara Asing. Cheng Ho juga sering melakukan kegiatan ziarah di pekuburan-pekuburan, dan tidak sedikit kaum muslim yang diajak oleh Cheng Ho berlayar ke Samudra Barat, Cheng Ho juga melakukan pemugaran masjid-masjid karena ia mendapatkan pendidikan Islam sejak masih kanak-kanak.

Cheng Ho meninggal dunia di Calicut pada tahun 1433 dalam rangka pelayaran yang ke-7. Satu tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1432, ia sudah sakit-sakitan, meskipun begitu Laksamana Muda Hong Bao diutus untuk berkunjung ke Mekah oleh Ma Huan dan kawan-kawannya untuk melukis Kabah dan lukisan itu tak ternilai harganya ketika di Tiongkok.

  1. Cheng Ho menghormati Agama Budha.

antara lain :

Cheng Ho memberikan derma kepada kuil Buddha di negara asing, derma tersebut berupa kain bersulam benang emas dan perak, pedupaan, pot bunga, pelita lilin dan sebagainya. Selain itu Chneg Ho juga mengajak pendeta agama Budha Fei Huan, untuk ikut  dalam pelayaran ke Samudra Hindia.

  1. Cheng Ho menghormati Agama Tao.

Cheng Ho tidak pernah melarang awak kapalnya yang menganut agama Tao menyembah Dewi Sakti terbukti dengan dibangunnya Tugu Peringatan yang mencatat kesaktian Dewi Sakti oleh Cheng Ho. Kata-kata yang terdapat dalam Tugu itu adalah berkat perlindungan Dewi Sakti, kapal-kapal Cheng Ho berhasil mengunjungi lebih dari 30 negara asing dalam pelayaran-pelayaran sebelumnya dan berhasil pula mengatasi angin rebut dan ombak dahsyat.

Namun kegiatan Cheng Ho yang berhubungan dengan agama Budha dan Agama Tao itu tidak pernah menggoyahkan ketaatan  Cheng Ho kepada agama Islam, Cheng Ho tetap taat dan menghormati kegiatan-kegiatan ritual yang dilakukan oleh kaum buddhis dan kaum Taois.

Bagian III:

Apa dan Siapa Cheng Ho dalam Sejarah Indonesia

4

CHENG HO DAN MUSLIM DI TIONGKOK

SEKITAR ABAD KE-15

Cheng Ho adalah seorang muslim yang taat, namun demikian hal ini amat kurang terungkap sejarahnya. Sebagian besar sarjana berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Tiongkok pada pertengahan abad ke-7. Peristiwa penting yang terjadi masa itu ialah, Khalifah III Usman bin Affan (577-656) mengirim utusannya yang pertama ke Tiongkok. Islam masuk ke Tiongkok melalui daratan dan lautan. Perjalanan darat dimulai dari Arab sampai bagian barat Laut Tiongkok melalui Persia dan Afganistan. Jalan ini terkenal dengan nama ‘jalur sutra’’sedangkan perjalanan laut dimulai dari Teluk Persia dan Laut Arab sampai ke pelabuhan-pelabuhan Tiongkok seperti Guangzhou, Quanzhou, Hangzhou dan Yangzhou melalui Teluk Benggala, Selat Malaka dan Laut Tiongkok Selatan.

      Pada masa Dinasti Yuan terdapat tidak sedikit pejabat tinggi yang memeluk agama Islam, antara lain Sayidina Syamsuddin (1211-1279) yang telah berjasa besar dalam memimpin pembangunan dan penyebaran agama Islam di Provinsi Yunnan dan daerah-daerah lainnya. Cheng Ho sebenarnya adalah keturunan ke-6 dari Sayidina Syamsuddin tersebut. Pada  abad ke-14 Dinasti Yuan diganti oleh Dinasti Ming (1368-1644).

  1. Muslim dan Penyebaran Agama Islam Mendapat Perhatian Tertentu dari Penguasa Dinasti Ming.

Pada pertengahan abad ke-14 pemberontakan yang dipimpin oleh Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Kerajaan Yuan. Setelah Zhu Yuanzhang naik tahta menjadi kaisar pertama Dinasti Ming, para jenderal muslim tersebut dianugerahi jabatan tinggi untuk memimpin pemerintah di beberapa daerah. Tahun 1368 merupakan tahun pertama bagi Zhu Yuangzhang dinobatkan menjadi kaisar Dinasti Ming. Pada tahun itu juga dititahkannya agar dibangun Masjid Jingjue atau disebut Masjid Jalan San San di Nanjing, ibu kota Kerajaan Ming. Pada tahun 1382 kaisar pertama Dinasti Ming menitahkan agar membangun masjid di Jalan Da Xue Xi, kota Xian (Provinsi Shan Xi). Tahun 1405 Zhu Di naik tahta dan dua tahun kemudian menitahkan kepada Haji Amir yang datang ke Tiongkok untuk menyiarkan agama Islam. Pada abad ke-15 Tiongkok telah melakukan ekspor porselin , terutama dibawa ke Asia Tenggara dan Arab dimana terdapat banyak orang Islam. Dalam porselin-porselin tersebut  banyak menggambarkan tentang Dinasti Ming.

  1. Kegiatan Orang Hui Hui yang sebagian Terbesar Muslim mengalami Pembatasan

Orang Hui Hui adalah sebutan Dinasti Yuan untuk orang Se Mu yang bermigrasi ke Tiongkok, yang sebagian besar ikut serta dalam ekspedisi tentara Mongol. Sejak berdirinya Dinasti Yuan, orang Hui Hui mulai tersebar ke seluruh Tiongkok, maka dari itu diambil tindakan untuk membatasi kegiatan orang Hui Hui antara lain larangan untuk memakai pakaian, bahasa, dan nama asli mereka.Orang Hui Hui tidak diperbolehkan pula menikah dengan sesamanya. Akibat dari tindakan pembatasan ini termasuk terhadap jenderal dan para sarjana Hui Hui, banyak yang menyembunyikan identitasnya sebagai muslim dan memakai nama daam bahasa Han.

            Pada era Dinasti Ming terbentuknya suku bangsa Hui mempunyai tiga cirri sebagai berikut:

Pertama,munculnya lokasi pemukiman orang Hui Hui khususnya di provinsi-provinsi seperti Gansu, Shan Xi, Ningxia dan Yunnan.

Kedua, dipakainya tulisan dan bahasa yang sama. Waktu itu orang Hui Hui sudah memakai bahasa Han sebagai bahasa komunikasi bersama.

Ketiga, adanya rasa kebangsaan yang sama, antara lain orang Hui Hui pada umunya menganut agama Islam.

Selain itu terdapat 10 bangsa minoritas yang mengikuti ajaran Islam yaitu bangsa Hui, Uigur, Kazak, Tatar, Tajik, Uzbek, Kirgiz, Dongxiang, Sala dan Padan.

  1. Daerah Pemukiman Muslim Bertambah Banyak

Sejak berdirinya Dinasti Yuan pada tahun 1206, prajurit-prajurit muslim yang turut dalam ekspedisi Mongol mulai ditempatkan di berbagai pos militer yang tersebar di seluruh Tiongkok, banyak bangsawan, pedagang, pejabat yang muslim dan ulama dianugrahi tanah luas oleh Kaisar Dinasti Yuan sehingga mereka menjadi tuan tanah muslim.  Bertambah banyaknya daerah pemukiman muslim merupakan suatu aspek penting bagi munculnya system pesantren di Tiongkok.

  1. Terdapat Catatan Penting Mengenai Mekah dan Keadaan Muslim di Asia dan Afrika.

Ma Hua, Fei Xin dan Gong Zheng masing-masing telah menulis buku tentang pelayaran mereka. Ketiga buku itu ialah Ying Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di Seberang Samudra, 1451), Xing Cha Sheng Lan ( Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti, 1436) dan Xi Yang Fan Guo Zhi ( Catatan Tentang Negara-negara Samudra Barat,1434). Pada tahun 1423 dalam rangka pelayaran Cheng Ho yang ke-7, Ma Huan dan 6 orang muslim lainnya diutus ke Mekah. Mekah dianggap sebagai tempat suci umat Islam. Lukisan Ma Huan dan kawan-kawannya tentang Mesjid Mekah merupakan suatu karya yang bersejarah di Tiongkok.

5

CHENG HO DAN SEMARANG

Menurut prasasti Tain Fei Ling Ying Zhi Ji (catatan tentang Kemujaraban Dewi Sakti) yang dibangun Cheng Ho di Changle, Provinsi Fujian ( Hokkian), dalam tujuh kali pelayaran tersebut, armada Cheng Ho setiap kali berkunjung ke Sumatra dan 6 kali ke Jawa dengan catatan hanya pelayarannya yang ke-6 saja tidak ke Jawa.

  1. Kelenteng Sam Po Kong di Semarang

Pada pertengahan pertama abad ke-15, Kaizar Zhu di Dinasti Ming Tiongkok mengutus suatu armada raksasa untuk mengadakan kunjungan muhibah ke Laut Selatan. Armada itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho  Sam Poo Kong dibantu oleh Wang Jinghong – Ong King Hong sebagai orang kedua. Namun Wang Jinghong mendadak sakit keras, kemudian armada Cheng Ho singgah di pelabuhan Simongan (Mangkang). Setelah Cheng Ho memberikan pengobatan tradisional untuk Wang, ia melanjutkan pelayarannya ke barat dengan ditinggalkannya 10 awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang disamping sebuah kapal dan perbekalan-perbekalannya.

 Sebagaimana Laksamana Cheng Ho, Wang Jinghong pun seorang muslim yang saleh. Dia giat menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat di samping diajarkan pula bercocok tanam dan sebagainya. Demi memperingati Laksamana Cheng Ho, Wang mendirikan patung Cheng Ho untuk disembah orang. Kemudian Wang meninggal dalam usia 87 tahun dan jenazahnya dikuburkan secara Islam. Atas jasanya  ia diberi julukan sebagai Kiai Juru Mudi Dampo Awang dan makamnya menjadi bagian dari  Kelenteng Sam Poo Kong. Mula-mula kelenteng itu sangat sederhana, dalam gua tempat kelenteng itu hanya terdapat patung Cheng Ho semata. Pada tahun 1704 gua tersebut runtuh akibat angin rebut dan hujan lebat. Namun Kelenteng Sam Poo Kong dipugar kembali oleh masyarakat Tionghoa setempat pada tahun 1724. Pada hari-hari raya, khususnya tanggal 29 (tanggal Lak Gwee) Juni Imlek, hari mendaratnya Cheng Ho di Semarang  diadakan arak-arakan secara besar-besaran.

Pada pertengahan kedua abad ke-19, kawasan Simongan ( disebut Gedong Batu) dikuasai oleh Johannes, seorang tuan tanah keturunan Yahudi, yang menjadikan kawasan itu sebagai sumber keuntungan. Masyarakat Tionghoa yang hendak sembahyang di Kelenteng Sam Poo Kong dikenakan cukai, karena cukai yang diminta sangat tinggi masyarakat tersebut tidak mampu membayar secara perorangan. Gara-gara ulah Johannes tersebut, kegiatan penyembahan Sam Poo Kong dipindahkan ke Tay Kak Sie dan pada tahun 1879 Kelenteng Sam Poo Kong berhasil di pugar kembali di Gedong Batu. Bersamaan dengan itu didirikan sebuah tugu peringatan yang sampai kini masih terdapat di kompleks kelenteng tersebut. Tugu peringatan itu ditulis dengan huruf Mandarin dan pernah disalin ke dalam bahasa Indonesia dalam majalah Sampo fonds blad yang ditujukan untuk mengenang sebuah perjalanan yang telah dilakukan seorang penjelajah ulung.

  1. Tahun Kedatangan Cheng Ho di Semarang

Ada beberapa pendapat mengenai kedatangan Cheng Ho di Semarang

a). Pendapat pertama mengatakan bahwa Cheng Ho tiba di Semarang pada tahun 1406 atau dalam rangka pelayarannya yang pertama ( 1405-1407).

b). Pendapat kedua mengatakan bahwa Cheng Ho mendarat di Semarang dalam rangka pelayaraan yang kedua (1407-1409).

c). Pendapat ketiga mengatakan bahwa Cheng Ho pernah mengunjungi Semarang pada tahun 1412.

d). Pendapat keempat menunjukan bahwa Cheng Ho pernah singgah di Semarang pada tahun 1413 atau dalam rangka pelayarannya yang keempat.

e). Pendapat kelima mengatakan bahwa Cheng Ho mendarat di Semarang pada tahun 1416.

  1. Makam Wang Jinghong (Ong King Hong) di Semarang.

Sebagai laksamana muda atau salah satu pembantu utama Cheng Ho, Wang Jinghong terkenal pula di Indonesia dengan nama dialek Fujiannya Ong King Hong atau Ong Hing Tek. Majalah Tempo pun menulis ‘ setelah ia ( Wang Jinghong meninggal, entah kapan, makamnya kemudian dikeramatkan oleh warga Tionghoa di Semarang yaitu Sam Poo Kong di Gedong Batu,  dan juga para pribumi Jawa yang masih menjiwai semangat spirituaisme lama.

Menurut Amen Budiman dalam tulisanny, Wang Jinghong telah ditugaskan oleh Kaisar Chu Chanci untuk memimpin ekspedisi ke Sumatra, dimana ia kemudian telah mengalami nasib naas, meninggal di lautan, jauh dari pantai Pulau Jawa. Dalam memimpin misi muhibahnya itu kadang-kadang ia juga telah turun tangan langsung sebagai sorang juru mudi, hingga dengan demikian tidak menherankan jika setelah meninggal di lautan lepas dan dimakamkan di Semarang, ia disebut orang dengan julukan Kiai Juru Mudi Dampoawang.

6

Makam Cheng Ho

Makam Cheng Ho dipugar oleh Kota Praja Nanjing sejak  tahun 1984 dalam rangka memperingati ulang tahun ke 580 dimulainya pelayaran Cheng Ho yang pertama. Pemugaran itu baru selesai dan dibuka untuk umum pada tahun 1985. Kini makam Cheng Ho dikelilingi pohon-pohon yang rimbun dan rindang. Di muka sebuah makam terdapat sebuah jalan yang cukup lebar dan panjangny kira-kira 100 meter. Pangkalnya dis ebelah selatan dan terus menanjak ke ujung di sebelah utara. Ditengah-tengah jalan itu tegak berdiri nisan dimana terukir kata-kata yang menuturkan jasa-jasa Cheng Ho dalam 7 kali pelayarannya. Di pangkal sebuah selatan itu terdapat sebuah halaman dimana ada sebuah tanda batu. Diatasnya terukir kata-kata ‘Makam Cheng Ho- Benda Pemeliharaan Provinsi Jiangsu. Yang menarik ialah di depan makam terdapat 28 anak tangga yang dibagi dalam 4 tingkatan. Setiap tingkatan terdiri dari 7 anak tangga. Angka-angka berupa 28,40 dan 7 masing-masing dijadikan lambang sebagai berikut: 28 tahun Cheng Ho dan anak buahnya telah menjelajahi kira-kira 40 negara dalam 7 kali pelayaran.

Bagian IV:

Menggali Sejarah Cheng Ho di Indonesia

7

BEBERAPA PERISTIWA PENTING DI INDONESIA

 

  1. Perang antara  Raja Timur dengan Raja Barat di Jawa.

Menurut Liu Ruzhong, ketika Cheng Ho dan awak kapalnya mendarat di bekas daerah kekuasaan raja timur di Pulau Jawa dan mengadakan pertemuan dan perdagangan dengan perantau Tionghoa, lebih dari 170 awak kapal Cheng Ho dibunuh oleh raja barat yang telah berhasil menggulingkan raja timur. Karena raja barat menyadari kesalahannya, diutuslah orangnya menghadap Kaisar Ming memohon ampun. Utusnnya berjanji akan memenuhi tuntutan Kaisar Ming agar mengganti rugi dengan emas 60.000 tail. Dan dijanjikannya pula supaya putra raja timur akan dijadikan sebagai raja timur dan daerah kekuasaan raja timur itu takkan diganggu lagi oleh raja barat. Menurut Ming Shi, raja Jawa menyerahkan upeti kepada Kaisar Tiongkok setiap tahun atau dua tahun sekali setelah dalam rangka penyelesaian masalah tersebut.

  1. Bajak Laut Chen Zhuyi ( Tan Tji Gi) Digiring dari Palembang ke Tiongkok.

Pada awal Dinasti Ming (1368-1644) sudah ada orang-orang Tionghoa merantau ke Palembang antara lain Liang Daoming yang berasal dari Nan Hai, Provinsi Guandong. Pada tahun  Yong Le ke-5 (tahun 1407), armada Cheng Ho tiba di Palembang dalam perjalanan pulang ke Tiongkok. Oleh Chen Zhuyi kedatangan Cheng Ho itu dianggap sebagai kesempatan baik untuk merampas segala harta diatas armadanya.

  1. Perang antara Kerajaan Samudra Pasai dengan Kerajaan Nakur

Pada musim dingin tahun Yong Le ke-11 (tahun1413) armada Cheng Ho berlayar ke Samudra Barat untuk ke-4 kalinya. Armadanya mula-mula ke Campa, kemudian berturut-turut berkunjung ke Jawa, Palembang, Malaka, Aceh dan sebagainya. Pada waktu itu Raja Samudra Pasai di aceh telah mangkat akibat terkena panah beracun dalam suatu pertempuran dengan Raja Nakur di Batak.

8

KERAJAAN MAJAPAHIT DALAM CATATAN MA HUAN DAN FEI XIN

Dalam karya Ma Huan, Ying Ya Sheng Lan (Pemandangan India di Seberang Samudra), dan karya Fei Xin, Xiang Cha Sheng  Lan (Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakit), masing-masing terdapat bab tersendiri yang berjudul ‘’Kerajaan Jawa’’. Antara lain diceritakan sebagai berikut : Bila ada kapal luar negeri ke Jawa, umumnya mereka berturut-turut berlabuh di empat tempat, yaitu Tuban, Gresik, Surabaya, kemudian Majapahit (yakni Mojokerto).

 

 

 

  1. Beladu-keris

Beladu  dipakai  oleh kaum pria baik muda maupun tua,baik kaya  maupun miskin. Beladu itu terbuat dari besi terbaik dan pegangannya terbuat dari emas,cula badak atau gading yang terukir halus. Ada pantangannya bagi orang  Jawa ialah kepalanya tak boleh diraba orang,jika dilanggar akan menimbulkan perkelahian.

  1. Tuban

Di Tuban, uang kepengan dari Tiongkok yang terbuat dari kuningan berlaku pula. Tuban dahulu terletak di pantai berpasir, dengan datangnya perantau Tionghoa maka terbentuklah kampung baru di Tuban yang disebut Xin Cun artinya ‘’Kampung Baru’’.

  1. Gresik

Di Gresik terdapat lebih dari seribu kepala keluarga penduduk. Lurah Gresik kala itu adalah seorang perantau Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guandong.

  1. Surabaya

Di Surabaya seorang kepala daerah memimpin  kira-kira seribu kepala keluarga, diantaranya  terdapat pula perantau Tionghoa. Adat istiadat penduduk setempat sederhana, baik pria maupun wanita berkonde semua. Mereka memakai baju panjang dan pinggangnya dililit dengan kain berlipat. Di Surabaya orang yang tua dan berbudi diangkat sebagai kepala daerah.

  1. Mojokerto

Di Mojokerto terdapat 200-300 kepala keluarga dan sang raja dibantu oleh 7-8 kepala kelompok penduduk. Istana Raja Jawa bertembok batu bata yang tingginya lebih dari 3 zhang (9,3 m) dan lingkarannya lebih dari 200 kaki panjangnya. Rakyat kecil tinggal di pondok yang terbuat dari kajang atau lalang. Sang Rajanya memakai mahkota yang berhias kembang emas dan memakai kain yang dijelujur dengan benang sutra. Baginda tidak pernah mengenakan sepatu dan biasanya naik gajah atau cikar bila ke tempat yang agak jauh.

 

  1. Hasil Bumi dan Hewan

Udara di Jawa, menurut Ma Huan, panas sepanjang tahun seperti musim panas di Tiongkok, sehingga padi dipanen 2 kali dalam setahun. Di Jawa terdapat  pula wijen putih, kacang hijau,dan lain-lain kecuali gandum. Terdapat pula bermacam-macam burung langka seperti beo putih, ayam mutiara (kalkun), kelelawar, burung nilam, tekukur berpancawarna, merak, pipit pinang dan lain-lain. Buah-buahan juga banyak jenisnya, misalnya pisang, buah kelapa,delima, tebu, durian, manggis, langsat, semangka dan lain-lain.

  1. Agama dan Adat Istiadat

 Adat perkawinan Jawa, pengantin laki-laki datang dulu ke rumah keluarga pengantin perempuan. Pengantin perempuan berkain tetapi tidak mengenakan sepatu, ia dihiasi selendang yang bersulam sutra serta kalung, gelang emas dan perak. Mengenai adat penguburan jenazah, diceritakan pula oleh Ma Huan : bila orang tua ternyata tak tertolong dan tak lama lagi akan meninggal, dia akan dimohon member pesan oleh anak-anaknya mengenai cara penguburan jenasah orang tua itu nanti. Bila orang kaya atau tokoh yang disegani akan meninggal, istri dan beberapa pembantu perempuan terdekat bersumpah rela mati bersama-sama dengan tuannya nanti. Pada hari penguburan, peti mati tuannya tergantung pada suatu kerangka kayu dan di bawahnya tersedia unggun. Di Jawa terdapat pula suatu adat pertarungan bamboo runcing, menurut titah sang raja, permaisuri duduk di suatu kereta menara beroda, yang tingginya lebih dari satu zhang (lebih dari 3 m).

  1. Bahasa, Mata Uang dan Ukuran Penimbang

Di Jawa banyak juga yang hidupnya kaya, dalam berbiaga orang memakai uang kepengan dari berbagai dinasti di Tiongkok. Bahasa orang Jawa sangat halus dan indah dengan kaidah-kaidah tertentu.

  1. Nyanyian dan Pertunjukan

Di Jawa terdapat pula suatu pertunjukan yang menarik, seperti penggambaran tokoh-tokoh manusia, burung, binatang, ulat dan lain-lain pada sebidang kertas (daun kajang pengganti kertas). Penonton duduk melingkar menyimaknya dengan asyik.

 

9

KERAJAAN-KERAJAAN DI PULAU SUMATRA DALAM CATATAN MA HUAN DAN FEI XIN

Yang disebut Kerajaan Samudra adalah Kerajaan Samudra Pasai. Dapat dipastikan bahwa Kerajaan Samudra Pasai yang dulu letaknya antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambo Aye) dengan Sungai Pasai ( Krueng Pase di Aceh Utara).

Latar belakang  ekspedisi tersebut : Kubilai Khan, cucu dari Jengiz Khan (Mongol) berhasil menggulingkan Dinasti Song  pada tahun 1279. Berturut-turut ia mengirimkan utusan dari Tiongkok ke Jawa dengan maksud agar Raja Jawa Kertaegra rela mengaku Tiongkok sebagai negara yang dipertuan. Pada tahun 1289 Kubilah Khan mengutus Meng Qi ke sendiri  atau mengirimkan kerabatnya ke Tiongkok dengan membawa upeti. Hal itu ditolak oleh Raja Jawa sehingga terjadilah peretngkaran antara Kertanegara dengan Feng Qi. Karena merasa  sakit hati, Kertanegara menuyurh bawahannya merajah muka Meng Qi dan membubuhinya dengan tinta hitam, kemudian utusan dari Tiongkok tersebut diusir dari Jawa. Kubilai Khan meluap-luap kemarahannya, sebab perbuatan Raja Jawa itu dianggapnya sebagai suatu penghinaan besar terhadap dirinya. Pada tahun 1292 Kubilai Khan mengirim satu pasukan ke Jawa untuk menghajar Raja Singasari Di Jawa. Ekspedisi tersebut mengalami kegagalan dan pasukan Kubilai Khan ditarik kembali ke Tiongkok pada tahun 1293. Serangan Khubilai Khan terhadap Jawa itu dimaksudkan untuk menghajar, bukan hendak menduduki tanah Jawa sejengkal pun, namun penyerangan terhadap negara lain itu tidak dapa dibenarkan.

11

HUBUNGAN TIONGKOK-MALAKA SEKITAR ABAD KE-15

Pada awal abad ke-15 Malaka terpaksa mempersembahkan 40 tahil emas kepada Siam. Dengan kunjungan Malaka berharap dapat memanfaatkan pengaruh Tiongkok sebagai suatu negara terkuat di Asia pada waktu itu untuk melepaskan diri dari ancaman Siam. Pada zaman itu negara yang mempertuan biasanya menyampaikan upeti itu merupakan salah satu saluran perdagangan antara Tiongkok dengan negara asing yang bersangkutan. Pada saat itu Siam dan Malaka bersengketa  dan Kaisar Tiongkok berhasil menyelesaikan persengketaan antara Siam – Malaka tersebut.  Hingga selanjutnya hubungan antara Tiongkok- Malaka menguntungkan kedua belah pihak di segala bidang antara lain di bidang politik dan ekonomi. Perniagaan Tiongkok – Malaka dibutuhkan untuk memajukan ekonomi Malaka. Hubungan ekonomi Tiongkok- Malaka hanya dapat ditempuh dengan dua saluran yaitu melalui perniagaan anatara Malaka dengan rombongan Chneg Ho dan melalui penyampaian upeti ke Tiongkok. Malaka telah memperoleh cendera mata dari Kaisar Tiongkok berupa hasil kerajinan dari Tiongkok sebagai balasn terhadap upeti dari Raja Malaka yang umumnya berupa hasil bumi  Malaka yang terkenal.

12

MALAKA DALAM CATATAN MA HUAN DAN FEI XIN

Menurut catatan Ma Huan bagian tenggara Malaka mengahadap ke laut, sedangkan sebelah barat laut terdiri atas penggunungan . Udara pagi hari panas dan malam hari sejuk, tanahnya berpasir dan beragam. Sawah ladangnya gersang, tidak hanya menghasilkan tanaman. Sedikit orang yang bercocok tanam.

  1. Agama dan Kebiasaan Sehari-hari

 Baik raja maupun rakyat menganut agama Islam,mereka berpuasa dan mengaji juga memakai serban yang terbuat dari kain biru dengan hiasan bunga yang indah. Sang Raja beralas kaki yang terbuat dari kulit. Kaum prianya menutup kepala menggunakan sapu tangan bersegi empat, kaum wanita bersanggul. Orang Malaka kulitnya kehitam-hitaman, memakai baju pendek berwarna-warni bagian bawahnya digulung dengan kain putih. Namun dalam catatan Fei Xin bahwa di antara orang Malaka yang berkulit kehitam-hitaman terdapat orang kulit kuning langsat dan mereka adalah keturunan Tionghoa.

  1. Hasil Bumi dan Hewan

Di Malaka sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan, mereka menangkap ikan di laut dengan kano. Di negara ini terdapat kayu hitam, dammar, dan berbagai wangi-wangian. Di gunung terdapat pohon sagu,kulit sagu dihancurkan kemudian di saring airnya dan ampasnya dikeringkan untuk dijadikan beras sagu. Terdapat juga pohon kajang yang bijinya dipakai untuk membuat arak kajang suatu minuman keras yng memabukan orang. Di kerajaan ini terdapat pula tebu, pisang, nangka, lengkeng, semangka, jahe, bawang hijau, bawang putih, mostar, labu dan sayur-mayur.

  1. Pelabuhan tempat singgah Cheng Ho

Ketika armada Cheng Ho mendarat di suatu tempat dibuat pagar kayu runcing yang mengelilingi seperti tembok kota. Di sana terdapat gudang untuk menyimpan uang dan bahan makanan. Bila sudah kembali armada Cheng Ho yang berlayar ke berbagai kerajaan dan kawasan di Samudra Hindia, ditempat inilah awak kapal mengepak barang-barang yang dibeli dari berbagai negara asing.

13

PAHANG, LANGKAWI, DAN GUNUNG SEMBILAN DALAM CATATAN FEI XIN

  1. Pahang

Pahang terletak dis ebelah barat Siam, daerah tersebut pegunungnnya yang dikelilingi jalan turun-naik, terdapat sawah dan lading yang luas dan iklimnya hangat sepanjang tahun, tidak panas dan tidak dingin.

  1. Langkawi

Langkawi disebut sebagai Long Ya Shan Ti menurut catatan Fei Xin dalam bahasa Mandarin da terletak di luar pelabuhan Jedah, bagian barat Semenanjung Tanah Melayu. Adat istiadat setempat sederhana dan baik, pria maupun wanitanya berkonde. Pakainannya terbuat dari kapuk. Hasil buminya antara lain, pinang, kelapa, dan wangi-wangian, terdapat juga tripod besi, kain berwarna dan sebagainya.

  1. Gunung Sembilan.

Gunung Sembilan berbatasan dengan Malaka. Di gunung itu terdapat kayu gaharu dan pohon-pohon lainnya. Gunung Sembilan berwarna hijau tua jika tampak dari kejauhan denga dikelilingi oleh laut dan pemandangan  yang indah permai. Terdapat pula Pulau Aur disebelah timur Pantai Johor, disini terdapat gunung yang tinggi-tinggi. Tanahnya gersang tidak baik untuk bercocok tanam. Penduduknya membuat garam dari air laut dan membuat arak dari santan. Hasil buminya antara lain pinang, kapuk, dan tikar serabut dianyam dari serabut kelapa dan  banyak dijual kepada orang Tionghoa.

Bagian V:

Cheng Ho dan Sejarah Indonesia

19

CERITA RAKYAT DAN PENINGGALAN SEJARAH TENTANG KUNJUNGAN MUHIBAH CHENG HO KE ASIA TENGGARA

  1. Sam Po Kong dan Dewi Kilisuci

Di Pulau Jawa, tersiar cerita tentang Sam Po Kong yang jatuh cinta kepada Dewi Kilisuci. Konon kabarnya Dewi Kilisuci adalah seorang putrid Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit di Trowulan. Sam Po Kong berusaha mengambil hati Dewi Kilisuci dengan segala cara. Menurut cerita Sam Po Kong berhasil memperistri Dewi Kilisuci namun mereka tidak bisa hidup layaknya suami istri.

  1. Kelenteng Ancol di Jakarta

Kelenteng Ancol, Jakarta terletak kira-kira 25 m dari Sirkuit Ancol. Kompleks pemujaan leluhur ini memilki taah seluas 3000 meter persegi dan kini dikenal dengan nama Kelenteng Bahtera Bhakti. Ada pula yang menyebut sebagai Kelenteng Sam Po Kong Soei Soe, yaitu juru masak armada Sam Po Tay Tjien yang meninggal dunia di daerah tersebut.

Selain Kelenteng Ancol,ada banyak tempat bersejarah yang berhubungan engan Cheng Ho antara lain:

a). Puri Sunyaragi dekat Cirebon

b). Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya

c). Lonceng Cakradonya di Aceh

d). Batu Besar di Bangka

e). Cerita Sam Po Kong di Bali

 

Kemudian ada pula cerita Hang Li Po dan bukit China di Malaysia :

a). Cerita Sam Po Kong di Filipina

b). Cerita Sam Po Kong di Brunei

c). Cerita Sam Po Kong di Thailand

d). Cerita Sam Po Kong di Singapura

e). Cerita Sam Po Kong di Campa

 

20

SUMBANGAN CHENG HO PADA DUNIA UMUMNYA DAN USAHA PERSAHABATAN ANTARA BANGSA TIONGHOA DENGAN BANGSA-BANGSA DI ASIA TENGGARA KHUSUSNYA

 

 

  1. Bidang  Pelayaran Internasional

Kawasan-kawasan Asia- Afrika yang dikunjungi armada Cheng Ho antara lain:

a). Semenanjung Indocina

b). Semenanjung Tanah Melayu

c). Kepulauan Nusantara, kepulauan Filipina dan lain-lain.

d). India, Sri Langka dan kepulauan disekitarnya.

e). Teluk Persia: Ormuz dll.

f). Arab : Jofar, Aden, Mekah dll

g). Afrika : Brawa, Jobo (Djobo), Mogedoxu (Somali), Malinde ( Kenya), Rasa ( Afrika Timur) dll.

Pelayaran Cheng Ho telah banyak memperkaya pengetahuan manusia mengenai kawasan-kawasan di sekitar Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. Dari Peta Pelayaran Cheng Ho dapat dilihat bahwa setiap tempat yang didatangi armada Cheng Ho diberi nama. Diantara lebih dari 500 nama tempat itu terdapat nama tempat di luar Tiongkok. berjumlah tidak kurang dari 300, dan nama-nama tempat itu kebanyakan mengacu kepada tempat-tempat di sepanjang pantai Semenanjung Malaya, Semenanjung Hindia dan Semenanjung Arab. Pelayaran Cheng Ho telah mencapai suatu hasil yang unik dalam sejarah usaha pelayaran. Dan pelayaran-pelayaran itu telah memperlihatkan ‘’teknik pelayaran Tiongkok yang melebihi operasi pelayaran sebelumnya di tempat mana pun.

  1. Bidang Perniagaan

            Menurut catatan literature sejarah Tiongkok, yang dibawa ke Samudra Hindia oleh armada Cheng Ho antara lain berbagai kain sutra, sulaman, porselen, jebat, emas, perak, perunggu, alat besi untuk sembahyang atau memasak, the, beras, kedelai, jeruk, kapur barus, buku dan lain-lain, sampai-sampai sebagian genteng untuk istana dan kelenteng di Malaka dan menara di Siam pun merupakan hasil bawaan Cheng Ho. Yang dibawa kembali oleh armada Cheng Ho ke Tiongkok antara lain mutiara, Kristal, ratna mutu manikin, gading, singa, jerapah, macan tutul, bahan obat seperi cengkeh, kemenyan (frankincense), cula badak, tanduk antelope (sejenis kijang di Afrika), wangi-wangian, rempah-rempah seperti merica, berbagai jenis kain, kayu, dan lain-lain. Barang-barang tersebut sebagian merupakan tanda mata yang ditukarkan antara  dua kerajaan dan sebagian lainnya hasil perniagaan atau barter.

  1. Bidang Kebudayaan

            Pelayaran-pelayaran Cheng Ho telah berhasil menggalakan pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dengan negara-negara lain di Asia Afrika, dalam hal ini patut dicatat  bahwa Cheng Ho telah mendorong maju penyebaran agama Islam di luar Tiongkok, khususnya di Jawa.

–          Penyampaian Almanak dari Tiongkok

            Almanak dari Tiongkok pada Dinasti Ming sudah cukup maju, almanak itu terdiri atas almanak pemerintah dan almanak rakyat. Isinya bukan hanya menunjukan tanggal, bulan, dan tahun imlek Tionghoa tetapi juga mencatat 62 bidang dari upacara kenagaraan sampai cara kehidupan rakyat Tionghoa, antara lain pemujaan kepada Tuhan atau moyang, promosi, penyampaian laporan kepada kaisar, jamuan kenegaraan, pengiriman utusan ke luar negeri, cara bercocok tanam, pembangunan rumah, irigasi, peternakan, perburuan, pengobatan ( termasuk tusuk jarum atau akupuntur), penjahitan dan lain-lain. Singkatnya almanak itu seperti ensiklopedia Tiongkok yang mencakup keadaan politik, sosial, kebudayaan, dan ekonomi Tiongkok masa itu.

–          Seni dan Sastra

            Pelayaran Cheng Ho pun telah mendorong pertukaran seni dan sastra antara Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara. Ada pula persamaan dongeng China dengan Indonesia yaitu cerita Joko Tarub dengan dongeng Peacock Maiden yang popular di Propinsi Yunnan. Kemudian yang tak kalah menariknya ialah wayang beber Jawa yang diperkenalkan oleh Ma Huan dalam bukunya Ying Ya Sheng Lan ( Pemandangan Indah di Seberang Samudra). Di bidang seni rupa, rombongan dari Tiongkok yang beranggotakan 7 orang yang dikirim ke Mekah dalam pelayaran Cheng Ho ke-7 telah berhasil membuat imitasi atas gambar pemandangan tanah suci masjid besar di Mekah. Seni ukir suatu hasil kerajinan kepandaian orang Jawa dalam mengukir dicatat pula oleh Ma Huan ketika menulis tentang kerajaan Majapahit yang dikunjunginya. Kemudian  ada beladu (keris) yang terbuat dari besi terbaik dan pegangannya terbuat dari emas, cula, badak atau gading yang terukir halus. Di kelenteng dan masjid-masjid itu terdapat persamaan antara gaya oriental pada pagoda, tiang yang tinggi, atap yang datar dan parallel, pinggir atap yang menggelombang, bagian atap yang melengkung lagi menjulang, balairung yang besar dan serambi yang berliku-liku. Namun perbedaannya pada masjid-masjid di Jawa adalah atapnya berbentuk setengah bola atau melengkung di Sumatra dan Malaysia. Baik Kelenteng maupun rumah-rumah biasa  dibangun oleh Cheng Ho dan para pengiringnya bukan saja member pengaruh kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia tetapi juga penghargaan dari masyarakat dari rakyat Indonesia.

–          Penyebaran Agama Islam di Luar Tiongkok

            Sebagai seorang muslim yang saleh, Cheng Ho telah banyak mengadakan kegiatan agama Islam di Tiongkok, negerinya sendiri dan sebagai laksamana yang menganut agama Islam, Cheng Ho sudah pasti mengambil inisiatif untuk menyebarkan agama Islam di negara-negara yang dikunjunginya. Cheng Ho  tokoh  Islam penting pertama yang berkunjung ke Jawa, Cheng Ho dan rombongannya telah mengambil inisiatif dalam menyebarkan agama Islam. Ada pula Haji Gan Eng Tju menjadi salah satu pendorong untuk kegiatan-kegiatan masyarakat Islam keturunan Tionghoa. Oleh Haji  Gan diangkatlah beberapa tokoh sebagai pemimpin totok, seperti Swan Liong, Bong Swee Hoo.

            Sementara itu kaum pedagang, baik dari Gujarat, Parsi maupun Malaka, juga ingin melakukan hubungan dagang langsung dengan tanah Jawa. Oleh karena itu mereka berdatangan  dan menetap di daerah-daerah sepanjang antai utara Jawa. Peranan kota pantai dan Bandar niaga itu memang besar, letaknya yang berdekatan dengan pusat Kerajaan Hindu, Majapahit, sangat menguntungkan.

            Di Indonesia  sendiri banyak orang-orang keturunan Tionghoa yang telah beralih ke agama Islam sebagai usaha megikuti jejak langkah Cheng Ho dalam menyebarkan agama Islam.

  1. Dalam Usaha Mempererat Persahabatan Antarbangsa

            Kunjungan armada Cheng Ho ke negara-negara Asia- Afrika dalam 7 kali pelayaran itu merupakan kunjungan muhibah, yang berbeda sama sekali dengan kedatangan  kaum penjajah Barat ke timur pada beberapa abad kemudian. Cerita kedatangan Cheng Ho tersiar luas di Indonesia khususnya dan di negara-negara Asia umunya. Kelenteng Sam Po Kong di Semarang merupakan suatu contoh yang baik, bukan saja dikunjungi oleh keturunan Tionghoa tetapi juga banyak didatangi oleh orang Indonesia, khususnya orang Jawa. Dalam membicarakan jasa Cheng Ho untuk mempererat persahabatan antara Tiongkok dengan negara-negara lain di Asia- Afrika, tidak dapat tidak disinggung soal upeti yang disampaikan kepada Kaisar Ming di Tiongkok oleh utusan-utusan asing. Namun berkat kunjungan armada Cheng Ho dan tindakan-tindakan lainnya yang dilakukan oleh Kaisar Ming untuk bersahabat dengan negara-negara asing dan berkat maksud baik dari negara-negara itu, maka muhibah dari kerajaan-kerajaan Asia- Afrika berturut-turut mengunjungi Tiongkok. Tiongkok juga banyak mengirimkan utusannya ke negara-negara Asia Afrika dan dalam kunjungan timbale balik itu banyak terdapat peristiwa yang amat penting dan menarik. Begitu banyak utusan asing datang bersama-sama ke Tiongkok, itu merupakan peristiwa yang amat jarang terjadi baik dalam sejarah Tiongkok maupun dalam sejarah negara lain.

            Dalam  hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara misalnya, tidak ada kaitannya dengan penaklukan pada masa itu, demikian pula hubungan Tiongkok dengan negara-negara lain pada abad ke-15. Tiongkok tidak akan mencampuri urusan dalam negeri  negara lain, dengan alasan karena tidak mampu dan yang kedua karena Tiongkok berpendapat tidak perlu memaksakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan dan kebiasaan kepada negeri-negeri itu. Tugas pelayaran Cheng Ho merupakan usaha perwujudan kebijaksanaan, sehingga dalam melakukan tugasnya sebagai bahariwan besar, penjunjung tinggi persahabatan dan perdamaian, muslim yang saleh, nama Cheng Ho harum akan harum sepanjang masa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Muslim Tionghoa Cheng Ho Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara

  1. BAGI PENGUMUMAN UNTUK MUSLIM YANG NGOTOT SEBAIKNYA KLENTENG SAM PO KONG ITU
    DI MUSNAHKAN KARENA MENISTAI CHENG HO SEBAGAI MUSLIM

    BENAR ,jika cheng ho islam klenteng sam po kong semarang harusnya juga sudah di-islamisasikan sama dengan klenteng demak berubah fungsi jadi masjid agung demak

    Quote:
    SUMBER Yang mengatakan cheng ho muslim saja baru ada pada awal tahun
    1980 dimana diterbitkan buku itu oleh keturunan china kelahiran
    malaysia,sebelum itu tidak ada berita cheng ho itu muslim
    Artikel lengkap zhang he/CHENG HO bukan muslim juga terdapat di perpustakaan umum beijing ,china DIMANA ADAT ISTIADAT TAOISME YAITU KREMASI/MEMBAKAR JENASAH ZHANG HE /CHENG HO DENGAN ADAT TAO(JELAS BERTENTANGAN DENGAN KULTUR ISLAM YANG HARUS DI KUBUR)

    Pernyataan tersebut memang benar terbukti

    Winata Tee:
    Namun Zheng He, seperti lazimnya pelaut bangsa Cina mrk masih
    berkeyakinan pada TAO yg mana dia selalu membawa boneka Dewi Laut ( MA
    CO PO = Ma Tsu) dan doa selalu dipanjatkan pagi sore utk memohon
    keselamatan armadanya dlm perjalanan agungnya di tahun 1421-1423

    Temple of the Taoist goddess Tian Fei, the Celestial Spouse, in Fujian province, to whom he and his sailors prayed for safety at sea. This pillar records his veneration for the goddess and his belief in her divine protection, as well as a few details about his voyages. Visitors to the Jinghaisi (Àų¤»û¡Ë in Nanjing are reminded of the donations Zheng He made to this non-Muslim area. Although he had been buried at sea, a monument was built to him on land, and this monument was later renovated in an Islamic style. In the modern world Zheng He has been used as a symbol of religious tolerance.The government of the People’s Republic of China uses him as a model to integrate the Muslim minority into the Chinese republic.

    HA HA BUKTI KENAPA PEMERINTAH RRC DIAM SAJA SOALNYA UNTUK MEREDAM TERORIS ISLAM DAN MAKAM ZHANG HE DI PUGAR DENGAN ISLAMISASI,BUKTI PELAYARAN ZHANG HE MEMBAWA PATUNG/BONEKA DEWI LAUT DAN MINTA BERKAT KESELAMATAN DI KUIL TAO SESUAI PERNYATAAN DIATAS TERNAYATA BENAR(ini seh namanya sirik,mati hukumnya)
    LAKSAMANA CHENG HO adalah TAOISME SEJATI
    Bukti peninggalan Cheng Ho di THAILAND Selatan berupa tempat sembahyang umat BUDDHA ada tercatat juga di prasasti(jika muslim/islam ini namanya sirik membuat berhala dan tidak sesuai dengan sharia islam)

    Cheng Ho waktu matinya di bakar/kremasi pake adat TAOISME (jelas tidak sesuai dengan cara tradisi islam yang dikubur)

    Klaim klaim promosi islam Cheng Ho islam baru juga ada pada tahun 1980 diterbitkan buku tersebut di malaysia oleh seorang keturunan china malaysia saja, dan bagaimana jika klaim cheng Ho buddha di lakukan oleh masyarakat Thailand yang jelasnya bukti peninggalannya ada ,tapi memang kekonyolan ini hanya ada di dunia muslim main klaim untuk promosi keimanan yang sesat.
    ADA PRASASTI DAN KUIL BUDDHA YANG DI BANGUN OLEH ZHANG HE DI SRI LANKA DINAMAKAN Galle Trilingual Inscription dan sekarang tersimpan di museum Colombo National Museum.(INI BUKTI JELAS LAGI )
    YANG MEMBUKTIKAN BAHWA ZHANG HE MEMBANGUN KUIL YANG TENTUNYA INI SIRIK DALAM AGAMA ISLAM,HUKUM MATI TENTUNYA BAGI ZHANG HE JIKA MUSLIM
    BAHKAN JIKA ZHANG HE MUSLIM KENAPA KLENTENG DI SEMARANG TIDAK BERUBAH FUNGSI JADI MASJID
    Artikel lengkap zhang he/CHENG HO bukan muslim juga terdapat di perpustakaan umum beijing ,china DIMANA ADAT ISTIADAT TAOISME YAITU KREMASI/MEMBAKAR JENASAH ZHANG HE /CHENG HO DENGAN ADAT TAO(JELAS BERTENTANGAN DENGAN KULTUR ISLAM YANG HARUS DI KUBUR)

    Saya cross chek memang adanya sembahayang yang dilakukan sebelum pemberangkatan suatu armada memakai ritual tersebut terjadi dalam perjalanan Cheng Ho

    http://en.wikipedia.org/wiki/Mazu_(goddess)

    In Nanjing, the Tian Fei Palace was built by the Yongle Emperor in the Ming Dynasty, at the instigation of Admiral Zheng He after returning from his first expedition. Before and after each expedition, Zheng He would worship at the temple for Mazu’s protection. Because it was a state temple built by the Emperor, this temple was the largest and enjoyed the highest status of all Mazu temples in the country. The temple was largely destroyed by Japanese bombings in 1937, but is currently being rebuilt.

    Bearti jelas sudah selama ini islamisasi penyesatan bahkan dibuat film tentang Cheng Ho diperankan YUSRIL selaku pejabat politik akan jadi bahan olok olok generasi berikutnya yang sudah tahu kenyataan HISTORY ini akibat islamisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s