TEORI SASTRA

2.1 Teori Sastra

Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra.Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala- gejala yang diamati.Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.

Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.

Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu.Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.

 

 

2.1.1 Pengertian Unsur Instrinsik

Unsur-unsur sebuah karya sastra merupakan pembangun yang menjadi tolak ukur sebuah karya sastra.Secara jelas unsur intrinsik merupakan landasan atau dasar di dalam menganalisa seperti yang dijelaskan beberapa ahli.

        Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud unsur intrinsik adalah hal-hal yang membangun sebuah karya sastra dari dalam, yang meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/setting, sudut pandang (pusat pengisahan) gaya bahasa, dan amanat.

  

  Tema dan amanat    

          Menurut pendapat Saad (1967:185), tema adalah persoalan pokok yang menjadi pikiran pengarang, di dalamnya terbayang pandangan hidup dan cita-cita pengarang.Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita yang paling banyak menimbulkan konflik.

Jika permasalahan yang diajukan dalam cerita diberi jalan keluarnya oleh pengarang, maka jalan keluar itulah yang disebut amanat.Amanat yang terdapat dalam karya sastra tertuang secara implisit.Secara implisit yaitu jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Sudjiman (1986:35)

 

Amanat secara eksplisit yaitu jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu.

  

 

Alur/plot                                                                 

Menurut Stanton (1965:14) plot adalah cerita yang berisi    urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Peristiwa-peristiwa cerita dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh-tokoh (utama)cerita.                                                                                               

        Peristiwa, Konflik, dan Klimaks     

         Peristiwa, konflik, dan klimaks merupakan tiga unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah plot cerita.Menariknya sebuah cerita karena adanya ketiga unsur tersebut.       

Peristiwa

         Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg dkk,1992:150). Berdasarkan pengertian itu, kita akan dapat membedakan kalimat-kalimat tertentu yang menampilkan peristiwa dengan yang tidak. Misalnya antara kalimat yang mendeskripsikan tindakan tokoh dengan kalimat yang mendeskripsikan ciri-ciri fisik tokoh. Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi pastilah banyak sekali, namun tidak semua peristiwa tersebut berfungsi sebagai pendukung plot. Itulah sebabnya, untuk menentukan peristiwa-peristiwa fungsional dengan yang bukan diperlukan penyeleksian, atau tepatnya analisis peristiwa.   

Konflik  

         Konflik mengacu pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan  yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald, 1972:27). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.Dalam kehidupan nyata konflik merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Namun, dalam sebuah cerita , tanpa adanya masalah yang memicu adanya konflik, dapat berarti ”tak akan ada cerita, tak akan ada plot”. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita (plot) jika memunculkan konflik, masalah yang sensasional, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan.

Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa.Ada perstiwa tertentu yang dapat menimbulkan konflik atau bahkan sebaliknya. Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian dapat dibedakan ke dalam dua kategori: konflik fisik dan konflik batin.

Konflik fisik (eksternal) adalah konflik yang terjadi antara seseorang tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, mungkin dengan tokoh lain atau dengan alam. Misalnya, konflik dan atau permasalahan yang dialami  seorang tokoh akibat adanya banjir besar, gunung meletus, kemarau panjang, dan sebagainya. Konflik sosial, sebaliknya adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat hubungan antarmanusia.Konflik sosial berupa masalah peperangan, perburuhan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

      Konflik batin (internal) adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau tokoh-tokoh) cerita. Jadi ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, ia merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat pertentangan antara dua keinginan, keyakinan pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya.Dapat disimpulkan bahwa beberapa konflik di atas saling berkaitan, saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, dan dapat terjadi secara bersamaan.     

 

 

Klimaks

        Konflik dan klimaks merupakan hal yang amat penting dalam struktur plot, keduanya merupakan unsur utama pada karya fiksi. Konflik demi konflik, baik internal maupun eksternal, jika mencapai titik puncak menyebabkan terjadinya klimaks.Dengan demikian, terdapat kaitan erat dan logis antara konflik dengan klimaks.Klimaks dimungkinkan ada dan terjadi jika ada konflik. Namun, tidak semua konflik harus mencapai klimaks  ̶  hal itu mungkin sejalan dengan keadaan bahwa tidak semua konflik harus mempunyai penyelesaian. Masalah itu harus dilihat apakah konflik itu merupakan konflik utama ataukah konflik (-konflik) tambahan  ̶  sebuah konflik yang lebih disebabkan, dialami, dan dilakukan oleh tokoh (-tokoh) tambahan. Sebuah konflik akan menjadi klimaks atau tidak (diselesaikan atau tidak), dalam banyak hal dipengaruhi oleh sikap, kemauan, dan tujuan pokok pengarang dalam membangun konflik sesuai dengan tuntutan dan koherensi cerita.

Klimaks, menurut Stanton (1965:16), adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya.Artinya, berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita, peristiwa dan saat itu memang harus terjadi, tidak boleh tidak. Klimaks merupakan titik pertemuan antara dua (atau lebih) hal (keadaan) yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana permasalahan (konflik itu) akan diselesaikan. Sebagai bahan perhatian dan pertimbangan, klimaks (utama) sebuah cerita akan terdapat pada konflik utama, dan hal itu akan diperani oleh tokoh (-tokoh) utama cerita.

Pembedaan Plot  

Berdasarkan  waktu kejadian terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi, maka plot dapat dibedakan menjadi dua kategori.Yang pertama plot lurus, maju (progresif), sedangkan yang kedua plot sorot balik, mundur ,flash-back, atau dapat juga disebut sebagai regresif.   

Plot Lurus, Progresif. Plot sebuah novel dikatakan progresif jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa (-peristiwa) yang pertama diikuti oleh (atau: menyebabkan terjadinya) peristiwa-peristiwa yang kemudian. Atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tahap tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian). Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot progresif tersebut akan berwujud sebagai berikut:   

        A ——- B  ——-C  ——-D——-E   

 Simbol A melambangkan tahap awal cerita, B-C-D melambangkan kejadian-kejadian berikutnya, tahap tengah, yang merupakan inti cerita, dan E merupakan tahap penyelesaian cerita. Oleh karena kejadian-kejadian yang dikisahkan bersifat kronologis—yang secara istilah berarti sesuai dengan urutan waktu – plot yang demikian disebut juga sebagai plot maju, progresif.Plot Sorot-balik, Flash-back. Urutan kejadian yang dikisahkan dalam karya fiksi tidak bersifat kronologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan. Karya yang berplot jenis ini langsung menyuguhkan adegan-adegan konflik, bahkan barangkali konflik yang telah meruncing.Padahal pembaca belum lagi dibawa masuk ke situasi dan permasalahan yang menyebabkan terjadinya konflik dan pertentangan itu.

Plot Campuran.Barangkali tidak ada novel yang secara mutlak berplot lurus-kronologis atau sebaliknya sorot-balik. Secara garis besar plot sebuah novel mungkin progresif, tetapi di dalamnya betapapun kadar kejadiannya, sering terdapat adegan-adegan sorot-balik. Demikian pula sebaliknya. Bahkan sebenarnya, boleh dikatakan tak mungkin ada sebuah cerita pun yang mutlak flash-back. Hal itu disebabkan jika yang demikian terjadi, pembaca akan sangat sulit, untuk dikatakan tidak bisa, mengikuti cerita yang dikisahkan yang secara terus-menerus dilakukan secara mundur.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s