catatanku manusia dua dunia

“ya ampun mas,beda banget”

 

 

Demikian teriakan kecil seorang teman, ketika ia mendengar jawaban hasil tes kepribadian saya dari salah satu website kemudian sayapun menanggapinya dengan jujur kalau saya sendiri kaget dengan hasil tersebut karena lebih tepat menggambarkan kondisi saat saya masih di SMA. Setelah mendengar jawaban itu ia berkomentar lagi. ”Manusia itu berubah”

 

 

Tentang Tes dan Kepribadian

 

 

Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan saking banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Yup, kalau mendengar kata “persona” tentu bagi penggemar J-pop, gamer dan otaku serta orang-orang yang suka budaya Jepang terasa tidak asing karena persona merupakan nama game dan anime populer dari jepang yaitu persona the series seperti persona4animation ceritanya asyik seputar kehidupan sosial. oke balik ke definisi kepribadian, secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya.

 

Kepribadian bisa dikatakan sebagai jati diri seseorang. Bisa juga dikatakan sebagai corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik dari luar maupun dari dalam, biasanya disebut dengan sifat. Kepribadian mengandung unsur dari sifat,maka dari itu kepribadian seseorang bisa saja berubah.

 

Sifat dapat membentuk kepribadian,karena kepribadian sebetulnya juga berasal dari sifat seperti berani,pasif,rajin yang jika di aplikasikan dalam perbuatan akan membentuk kepribadian.Jadi itulah yang membedakan sifat dan kepribadian.Sifat muncul dari diri seorang individu melalui proses dan berbagai pengaruh internal dan eksternal,sementara Kepribadian baru terwujud setelah sifat diwujudkan dengan perbuatan,selama tidak dilakukan hal tersebut masih disebut sifat,bukan kepribadian.

 

Ada sebuah situs gratis bernama ipersonic yang dibuat oleh seorang Psikolog asal Amerika Felicitas Heyne dan anggota International Affiliate of the American Pshycological Association (APA) dan anggota German Psychological Association (BDP) bernama ipersonic.

 

 

Coba ikuti cara berikut ini untuk mengujinya :

 

1. Masuk ke situs Ipersonic.net/id untuk layanan berbahasa indonesia

 

2. Klik mulai tes gratis

 

3. Disana akan ada 2 tipe pernyataan,dan kalian tinggal pilih mana yang lebih cocok dengan sifat kalian

 

4. klik analisa untuk mengetahui hasilnya

 

 

Uji kepribadian gratis ini berlandaskan pada ilmu tipe kepribadian menurut psikiater bernama C.G. Jung. Jung menemukan bahwa seseorang dapat membagi karakter manusia yang tak terhitung jumlahnya ke dalam beberapa kelompok dasar yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introvert dan ekstrovert, sedangkan fungsi terdiri dari thinking dan feeling kemudian sensing dan intuiting.

 

 

Pengelompokan

 

 

 

Beberapa waktu sebelum peristiwa di atas terjadi, saya mendapat undangan untuk menghadiri deklarasi politik seorang tokoh senior yang juga pengusaha di Ibu Kota ini. Sejujurnya saya kaget menerima undangan itu karena selain saya sudah ”mengundurkan diri” dari dunia aktivis, saya juga sudah mengundurkan diri dari acara-acara macam kampanye itu. Apalagi yang melibatkan sesuatu yang gemerlap.

 

Setelah menerima undangan itu, saya mengirim pesan kepada salah satu teman saya yang juga diundang pada acara yang sama. Saya menjelaskan bahwa saya ini malas sekali untuk hadir karena saya tak terlalu mengenal para undangan lainnya.

 

Teman saya itu membalas begini. ”Kayaknya orang-orang yang diundang beda, deh, enggak seperti biasanya. Acaranya asyik koq. di hotel dan bisa jalan-jalan juga.” Saya membalas pesan itu begini.

 

”Waduh…, sekarang aku dimasukkan kelompok tamu yang beda dari biasanya, ya, kelompok tamu yang suka jalan2. Akhirnya aku dikelompokkan dalam grup sepeti itu.” Ia membalas pesan itu dengan singkat. ”Amin.”

 

Setelah dua kejadian itu, saya membuat janji bertemu dengan rekan-rekan alumni untuk membahas reuni. Seseorang yang sejak lama sudah saya kenal sebagai sosok sahabat, pribadi yang santun dan tidak neko-neko. Seandainya perjalanan hidupnya dapat diukur, tak ada satu pun yang keluar dari jalur. Semuanya baik dan sejahtera.

 

Siang itu, ia menjelaskan bahwa hubunganya dengan seorang sahabatnya memburuk gara-gara ia meminjam uang lalu membuat usaha yang dilarang lalu bangkrut. Kejadian itu diketahui keluarganya. Teman saya itu menjelaskan bahwa ia sempat terdiam ketika si adik bertanya begini. ”Aku tu gak nyangka, loh, orang kayak kakak, kok, bisa-bisanya melakukan hal terlarang. Kenapa kak?”

 

Pertanyaan kenapa atau mengapa selalu saja melahirkan sejuta jawaban yang bisa jadi diterima dengan baik oleh si penanya atau malah melahirkan debat yang hebat. Mengapa orang baik bisa berbuat tidak baik, mengapa orang tidak baik bisa menjadi baik, mengapa orang berubah, mengapa orang tak mau berubah?

 

Namun buat saya, semua kejadian seperti di atas itu terjadi karena pelakunya memutuskan untuk memilih jalur yang berbeda, setelah cukup lama ada di jalur yang itu-itu saja yang mungkin tak lagi memberi manfaat. Maka, keputusan itu juga memaparkan bahwa orang lain yang melihat, mulai mengelompokkan saya. Dari kelompok A ke kelompok B.

 

 

Topeng dan dua dunia

 

 

 

Ketika seorang teman dekat saya mengikuti tes tersebut sampai dua kali lalu hasil keduanya pun membuat saya kaget karena si dia yang saya kenal tidak sepenuhnya sama 100% seperti hasil tes kepribadian tersebut maka muncul celetukan sederhana dari saya yaitu “wah kamu diam-diam menghanyutkan ya dik” dan tragisnya sayapun melakukan hal yang sama.

 

Hal yang menarik adalah perpindahan itu tidak terlalu mengagetkan si pelaku, tetapi justru menyetrum mereka yang melihat perubahan itu dan acap kali komentar yang klise terdengar di gendang telinga seperti “kok bisa sih?” atau ”Munafik banget, ya?”

 

Sejujurnya, saya tak suka dengan pengelompokan karena cenderung pada akhirnya menjadi sebuah penghakiman. Mungkin saya tak terlalu terganggu dihakimi, saya lebih terganggu karena soal kekagetan yang terjadi ketika ada perubahan.

 

Saya merasa kekagetan yang dicerminkan dengan kalimat kok bisa sih itu, sebuah kebiasaan saya sebagai manusia untuk tidak menerima orang itu bisa hidup di dua dunia. Dunia yang santun dan dunia yang tidak santun. Ia positif, tapi kadang ia bisa negatif.

 

saya jadi teringat pendapat Fuad Hassan “Diri merupakan sesuatu yang termesra akan tetapi juga bisa mengasing daripadanya” dan pendapat Muhammad Akhyar bahwa “Perdebatan yang panjang mengenai self -untuk mudahnya dengan lidah Indonesia disebut ‘diri’- tak akan ada habis-habisnya. Jangankan mengacuhkan dari konsep ‘diri’ yang diarahkan kepada orang lain atau konsep objektif dari ‘diri’ itu, subjektivikasi ‘diri’ dalam ranah pribadi sendiri saja kita masih bingung. Tak heran para behavioris membuang jauh-jauh terminologi ‘diri’ dalam kajian mereka. Namun, sulit atau tidak, merefleksikan ‘diri’ secara subjektif adalah hal yang memang niscaya kita lakukan, terlepas pertentangan apakah ia ilmiah atau tidak. Hal ini dikarenakan permasalahan ilmiah dan tidak ilmiah sangat bergantung pada sudut pandang dan tentu saja paradigma dalam membuat definisi dari ilmiah itu sendiri. Sehingga, selama digunakan hanya untuk diri sendiri, pada level pribadi, tidak terlalu bermasalah.”

 

Pengalaman saya kembali mengiyakan pendapat teman saya di atas bahwa manusia itu berubah. Teringat ketika saat saya kecil seakan punya topeng yang berbeda untuk bertindak disekolah sebagai si kutubuku dan berperan dirumah sebagai si bandel lalu ketika beranjak ke bangku kuliah saya pernah memakai topeng si flamboyan untuk masuk ke komunitas waria demi kepentingan penelitian. yap, itulah hidup di dunia nyata yang penuh lika-liku dan tekanan serta persediaan topeng untuk menghadapinya. Setiap pilihan yang kita ambil dalam setiap peristiwa yang datang silih berganti masing-masing sudah terdapat malaikat dan setan yang akan memandu kita. Semua pilihan kembali pada keputusan kita sebagai diri sendiri.

 

Bersamaan dengan selesainya tulisan ini lalu terdengarlah lagu dari playlist musik lawas yang saya putar di laptop

 

 

dunia ini panggung sandiwara…

 

ceritanya mudah berubah…

 

ada peran wajar

 

dan ada peran berpura-pura..

 

mengapa kita bersandiwara?

 

 

satu hal yang saya percayai bahwa terlalu banyak memang koefisien gesekan di semesta ini. Dilengkapi dengan konstanta rumit yang terlihat sederhana. Dan, sekali lagi raba permukaan dalam. Pelah-pelan perhatikan. Perbaharui pendapat setiap saat. Ingat, itu bukan inkonsistensi tetapi percaya pada perubahan, setia pada kompleksitas tak tak tersederhanakan dari kebenaran. maaf kalau ada kalimat yang tidak berkenan.

 

 

terimakasih untuk orang-orang yang menginspirasiku membuat tulisan ini😀

 

 

salam❤

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s