Troya Tentang Skripsi dan aku

Akhirnya, mood untuk menulis keluar juga. Tidak untuk menulis tema yang berat tentunya, sekedar berbagi perasaan sebagai mahasiswa tingkat akhir yang dikejar tenggat dosen, orang tua, dan pacar (bagi yang punya). Maklum 50 persen tenaga, uang, dan pikiran mahasiswa tua tersita untuk skripsi, sisanya untuk tidur!! Hahahah.
Kembali ke skripsi, tema ini menjadi isu sentral yang menghiasi percakapan kelas kita selama satu semester ini kan? Memang sudah kewajibannya buat kita untuk finish this last paper because it’s our boarding pass. Mata kuliah sebesar 6 sks yang hukumnya wajib untuk dilaksanakan. Salah-salah ditinggalin, jadinya malah kita yang keluar tanpa mendapat apa-apa kecuali sesal.

Itu salah satu faktor kenapa skripsi penting untuk selalu kita ingat dan kita manjakan akhir-akhir ini. Guys, dulu aku mikir kalau skripsi cuma syarat lulus, tidak jauh beda dengan tugas makalah yang punya footnote lebih banyak, daftar pustaka lebih panjang, dan isi yang lebih padat. It’s my losing mind of course. Skripsi lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan, skripsi jauh lebih menyita daripada yang aku perkirakan.

Coba kita lihat perubahan kita sekarang ini. Lebih mengenal buku, jadi akrab sama lokasi-lokasi perpustakaan, dan pastinya punya komitmen waktu yang lebih sama diri kita sendiri. Skripsi, tanpa kita sadari membentuk sifat kita untuk lebih disiplin dan menghargai waktu yang biasanya lewat begitu saja. Ketika dijanjikan konsultasi dengan dosen pembimbing pada hari sekian dengan ketentuan bab sekian, alam bawah sadar kita berpacu dan memaksa otak untuk memenuhi tenggat tersebut. Sulit beristirahat dengan tenang ketika teringat deadline itu bukan? Akan muncul ingatan-ingatan tentang skripsi ketika tubuh dan pikiran kita justru berusaha menjauhinya. Mekanisme tersebut wajar, seseorang akan berusaha melupakan hal-hal yang dianggap menyulitkan atau sulit bagi dia karena tubuh dan pikirannya belum siap mengikuti tekanan sedemikian rupa. Tetapi ketika kita terbiasa dengan pressure, menemukan ritme yang tepat, maka dengan usaha dan sedikit doa akan mengantarkan kita pada gerbang kemenangan. Lebaran kali.

Jangan pernah menganggap skripsi itu sebagai ketakutan yang harus dihindari. Berilah waktu, atau lihat teman-teman kita yang sudah melangkah jauh itu sebagai wujud motivasi. Bukan kompetisi yang justru melahirkan tekanan lebih besar lagi pada kita. Akhirnya, kita yang tertekan tidak akan beranjak pada titik yang lebih maju. Peran seorang teman di titik ini adalah menjadi motivator, pembimbing, dan revisionis yang bisa kita dapatkan secara gratis.

Mengerjakan skripsi pun sekarang aku nilai sebagai sketsa mini dari arti kehidupan dalam arti luas. Betapa kita menyadari berharganya sebuah waktu justru ketika kita berada di akhir perjalanan, di semester 8. Komitmen kejujuran dengan menghindari plagiarisme, melatih kita untuk selalu jujur dalam keadaan apapun. Menghadap dosen, mengikuti bimbingan, dan tentunya revisi sebagai wujud kritik trhadap tulisan kita, adalah usaha menjadikan kita orang yang mau mendengar saran orang lain dan tabah ketika tulisan yang kita anggap terbaik ternyata hanya untuk dicoret oleh orang lain.

Betapa keras usaha kita, betapa pintar kita dalam mengerjakan skripsi, tetap ingat untuk meminta doa orang tua ketika kita akan memulainya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua kan? Ada hal-hal kecil yang terkadang muncul dan membuyarkan rencana kita dalam mengerjakan skripsi ini. Ingatlah untuk meminta restu dan doa orang tua dahulu agar dimudahkan ketika mengerjakannya. Sebuah pengalaman, kalian pasti tahu siapa, dia mengerjakan skripsi bisa dikatakan yang kelompok awal yang melakukan seminar. Berbagai macam sumber telah dikumpulkan. Ternyata, di tengah jalan muncul kendala hingga terpaksa mengganti judul sampai 3 kali! Berusaha mencari alternatif tapi selalu mentah. Ketika mencoba mengingat apa yang salah, kemudian mendengar saran orang lain, memang sejak awal dia belum meminta restu dan doa dari orang tuanya. Tampak bahwa Allah belum menyetujui jika orang tuanya pun belum merestui, akan selalu muncul hambatan-hambatan yang seperti itu. Segera dia meminta maaf dan memohon doa kepada orang tuanya agar dilancarkan skripsinya. Sedikit demi sedikit, jalan kembali terbuka, ide-ide bermunculan, bantuan mengalir dari orang-orang yang bahkan tidak diduganya. Jika Allah dan orang tua telah merestui, yang tersisa tinggal diri kita untuk komitmen menyelesaikan apa yang telah dimulai. Just sharing the experience.
Guys, semangat buat kalian, buat kita yang sedang mengerjakan dan memikirkan skripsi. Ini adalah waktu-waktu terakhir kita sebagai keluarga di kelas, waktu yang semoga tidak kita lewatkan begitu saja. Saling support dan mengingatkan agar kita tepat waktu. Dan sekali lagi, menyelesaikan kuliah bukan semata bentuk pertanggung jawaban terhadap diri kita, tetapi wujud balasan atas kepercayaan orang tua kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s